Tinggalkan komentar

Agama tanpa ruh

AGAMA, pada banyak hal, bisa dipakai untuk menyalurkan sifat buruk lalu memberinya cap ‘baik’. Karena itulah banyak orang beragama.

Nafsu memburu harta dibajui jadi ‘semangat mencari rizki’. Bahkan ada yang agak lebai: “Mencari rizki untuk anak istri juga jihad lho.”

Kita mengesahkan sifat materilstik kita dengan agama. Alam bawah sadar para pendoa meminta kepada Tuhan kekayaan materi – tak lain dan tak bukan. Ketika seorang hamba berucap: “Limpahkan kepada kami rizki,” di kepalanya tergambar mobil seri terbaru, rumah hasil renovasi, dan saldo rekening yang aman untuk sepuluh tahun ke depan.

Atau ungkapan ‘limpahkanlah kepada kami kabahagiaan’, dan yang ada di photographic memory otak adalah bisa pelesir kemana suka, liburan sebulan penuh di Pulau Seribu.

Bersikap agamis menjadi sama dan sebangun dengan bersikap meterialistis.

Salah satu bunyi doa shalat duha: “fa in kaana haraaman, fa thahirhu [kalau itu haram, sucikanlah.].”

Maka ketika menemukan peluang korupsi, langsung terpikir bahwa Allah sedang mengabulkan doaku. Ini haram, tak apa-apa, toh aku sudah minta Allah untuk menyucikannya.

Itulah tafsiran Fiktor, alias Fikiran kotor.

Orang-orang pergi ke mesjid dan berdoa dengan pikiran matre, dilengkapi dengan sikap egois.

Nasihat yang sering kita terima: “Perbanyaklah amal saleh, untuk bekal di akhirat.” Bekal siapa? Ya bekal saya. Jadi, sekarang aku berbuat baik, membantumu, menolongmu, agar aku di akhirat nanti aman dan nyaman. Fair bukan?

Pikiran dan sikap keagamaan tidak memuliakan ketulusan untuk ‘kini dan di sini’; untuk sikap tanpa pamrih. Sikap keagamaan kita tidak mendorong keikhlasan total.

Agar agama tak jadi cap untuk sikap egois, mungkin perlu mengabaikan akhirat dan surga. Menolong yang menolong. Karena kita cinta sesama kita menolong dan membantu. Soal akhirat kita pandang sebagai akibat.

Kalau kita perlu memperbanyak amal saleh di dunia, karena memang dunia membutuhkan amal saleh kita: banyak orang malang; banyak orang menderita; dan anda dalam posisi beruntung untuk bisa membantu. Bantulah. Bukan terutama untuk bekal di akhirat.

Sikap keberagamaan sekarang harus di-upgrade. Sudah terlalu usang. Lingkungan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim tak terurus, rusak dan kotor, “karena dunia ini sementara. Hidup yang sebenarnya nanti di akhirat.”

Karena itu para pejalan Muslim tak peduli kebersihan. Di stasiun kereta orang buang sampah di mana saja. Saya sering melihat perempuan bebusana Muslim melempar kotak minuman, kantong kresek, ke rel kereta. Toh stasiun ini bukan tujuanku. 10 menit lagi kutinggalkan. Mereka tak berpikir kenyamanan untuk orang lain.

Di kereta atau kendaraan lain, kelakuan pun sama, buang bungkus makanan ke lantai kendaraan. Toh kendaraan ini bukan tujuan. Atau lempar ke luar jendela. Toh itu jalan. Bukan tujuan.

Dunia ini bukan tujuan. Nanti kiamat. Ngapain repot-repot melestarikan lingkungan? Bahkan ada faham keagamaan yang sedemikian membenci dunia.

Kalau sudah begini, agama jadi lembaga kejahatan. Maksud saya, agama hanya berfungsi membajui sifat egois dan anarkis. Semua untuk kepentingan diri sendiri.

Memang banyak juga rumah-rumah orang Islam yang bersih dan nyaman. Alhamdulillah, itu hasil bersih-bersih dan sampahnya dibuang ke got atau sungai. Biarlah lingkungan di luar kotor, sungai mampet, orang-orang kena penyakit, asal rumah saya bersih. Sebab ‘kebersihan sebagian dari iman’.

Mencari duit dan pergi ke mesjid untuk berdoa meminta rezeki didorong oleh energi yang sama. Energi yang mendorong amal saleh dan menjegal orang adalah energi yang sama: ego.

Islam bukan agama. Tapi kebanyakan para penganutnya menurunkan derajat ad-dien itu jadi agama semata. Jadi alat legalisir kelakuan. Dengan agama, nafsu libido tersalurkan lewat pernikahan. Dan yang libidonya berlebihan, lewat poligami.

Islam adalah jalan hidup. Sumbernya dari kesadaran, kewaspadaan terhadap diri sendiri. Karena itulah dalam Islam segala sesuatu harus dilakukan karena Allah: makan-minum, bekerja, berhubungan seks – bukan karena dorongan ego [nafs]. Meskipun tampilan luarnya sama, tapi substansi berbeda.

Padahal, Tuhan menurunkan ad-dhien dan agama agar manusia bisa hidup bermoral di atas muka bumi.

Tinggalkan komentar

Lanjutkan

Gambar

Indri Aryanti

Lanjutkan… satu titik api nasionalisme.. sudah cukup untuk memicu api-api nasionalisme lain dari seluruh lubuk hati bangsa besar ini..

biarkan satu titik api nasionalismemu menjalar, membesar dan membakar hingga musnah koruptorisme, separatisisme, terorisme dan segala penyakit yang mengganggu kehidupan berbangsa dinegeri sebesar indonesia raya ini…

teruslah menjadi api kecil yang tangguh berkobar-kobar, sehingga menerangi jalan bagi anak bangsa lainnya untuk juga mengobarkan semangat nasionalisme…

NASIONALISME INDONESIA RAYA..

1 Komentar

Kereta waktu Islam di stasiun Eropa

Kafil Yamin

DULU, orang Eropa itu bau karena jarang mandi – bahkan sampai sekarang. Ketika pasukan Islam masuk ke kawasan itu via Spanyol dan Prancis abad ke-8, mereka harus banyak tutup hidung bila berpapasan dengan orang-orang setempat.

Ada yang tidak begitu bau, yakni kalangan istana: Para pangeran, putri dan petinggi kerajaan. Bau badan mereka tertutupi pewangi yang hanya dipakai kalangan istana.

Ketika pada abad pertengahan orang-orang Eropa berkunjung ke negeri-negeri Muslim, mereka heran kenapa warga masyarakat biasa pun tidak berbau badan. Bahkan ketika mereka menjumpai para petani Muslim di Badhdad, Turki, Mesir, Maroko, yang sedang bekerja di kebun-kebun, mereka tak mencium bau keringat seperti umumnya terendus dari warga kelas bawah Eropa yang melakukan pekerjaan serupa.

Selidik punya selidik, orang-orang Eropa itu mendapati bahwa setiap Muslim sedikitnya mandi dua kali sehari dan bertaharah 5 kali sehari. Orang-orang Islam mempraktikkan cara hidup higienis wal sehat itu dari ajaran Islam dan contoh Rasulullah Muhammad.

Invasi Muslim ke Eropa membawa peradaban dan cara hidup bersih dan sehat. Masa itulah pertama kali orang Eropa mengenal gosok gigi setelah makan. Orang-orang Islam memperkenalkan siwak, yang terbuat dari ranting pohon Miswak yang wangi dan sekaligus menjadi bahan pasta gigi. Satu ujungnya dipukul-pukul sehingga membentuk mata sapu kecil. Itulah yang digunakan menggosok gigi. Masa itu, orang-orang Eropa membersihkan mulut setelah makan hanya dengan kumur-kumur.

Eropa baru memproduksi sikat gigi secara massal pada abad 18.

Orang Islam membawa bahan-bahan pencerahan Eropa.  Peradaban Islam ibarat kereta waktu dengan berbagai gerbong yang menjelajahi berbagai peradaban, memuat aneka barang dan pengetahuan dari persinggahan-persinggahan itu, dan membongkar semua muatannya di Eropa.

Yang paling dasar adalah pengenalan angka, yakni Arabic numeral, yang praktis dan friendly user. Orang Islam sendiri menamakan sistem angka mereka sebagai ‘angka India’, karena memang diadopsi dari sistem angka India. Tapi orang Islam menambahkan nol padanya. Dan tanpa angka nol, tak mungkin ada matematika dan geometri. Dan tanpa matematika , tak mungkin ada ilmu astronomi, ilmu fisika, ilmu ekonomi, karena ilmu-ilmu itu meniscayakan rumus-rumus yang diadopsi dari matematika atau aljabar.

Sebelum kedatangan Islam, orang Eropa menggunakan penomoran Romawi, yang tidak praktis dan tak mungkin bisa digunakan dalam matematika karena tidak mengenal pecahan, desimal, dan angka nol.

Jika seorang Eropa hari ini menerawang kegiatan sehari-harinya jauh ke masa silam, mereka akan melihat sumbangsih Islam. Seseorang bangun, mandi dan gosok gigi, maka alat yang digunakan untuk menggosok gigi itu diperkenalkan orang Islam. Lalu ia menengok jam – jam dinding atau jam tangan – maka alat itu pun diciptakan dan dibawa ke sana oleh orang Islam. Lalu ia menum kopi, kopi pun, beserta alat perasnya, diciptakan dan dibawa ke sono oleh orang Islam. Lalu ia membaca koran yang terbuat dari kertas. Kertas pun diperkenalkan kesana oleh orang Islam. Kertas memang ditemukan di China, tapi orang Islam memperhalusnya dan memproduksinya secara massal.

Lalu orang Eropa mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, yang dibawa orang Islam. Eropa memang punya khazanah ilmu pengetahuan Yunani, tapi tanpa tangan-tangan para sarjana Islam yang menerjemahkannya kedalam bahasa Arab, mereka tak akan menjumpai satu huruf pun dari khazanah keilmuan Yunani itu.

Semua ilmuwan dan pemikir Eropa yang muncul setelah pudarnya masa keemasan Islam, telah lebih dulu mempelajari naskah-naskah para sarjana Islam dalam bahasa Arab, karena tak barang satu lembar naskah Yunani kuno tersisa.

Tapi para sarjana Eropa tak mau mengungkapkan bahwa mereka belajar dari kitab-kitab berbahasa Arab. Kenapa? Pertimbangan keselamatan dan keamanan. Masa-masa itu gereja sangat berkuasa, bila ada ditemukan seseorang membaca naskah orang Islam mereka akan segera dituduh murtadr dan dieksekusi mati. Sejak perang salib, anti-Islam itu makin menguat dan memaksa para ilmuwan menghilangkan jejak-jejak Islam dalam ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan.

Nicolaus Copernicus, yang lahir di Torin tahun 19 Februari 1473, dan meninggal di Frombork 25 Mei 1543, mengembangkan teori Heliosentrisme, yakni perputaran planet-planet tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya. Teori ini menghancurkan teori sebelumnya, yakni Geosentris, yang menganggap bumi sebagai pusat tata surya.

Untuk sampai ke teori itu, ia membaca ribuan naskah astronomi sejak zaman Yunani kuno, sampai zaman mutakhir abad ke-emasan Islam. Semua naskah yang dibahasanya berbahasa Arab, karena tak barang satu naskah kuno Yunani tinggal utuh dalam bahasa aslinya.

Sketsa al-Biruni tentang pergeseran bulan

 

Namun Copernicus pun seorang seorang kanon gereja. Gereja bukan saja memusuhi Islam, tapi juga para ilmuwannya sendiri yang pemikirannya bertentangan dengannya. Karena itu, Copernicus menyembunyikan referensi-referensi Arab dalam penulisan teorinya.

Ketika Isaac Newton bilang: “We stand on the shoulders of giants”, dia ingin jujur bahwa temuan-temuannya berdasar pada karya-karya akbar sebelumnya, tapi dia tak mau sebutkan siapa si giants itu. Toh semua orang bisa mafhum bahwa Newton merujuk kepada para sarjana Muslim, karena tidak ada giants Eropa pada masa itu.

Yang dimaksud si gajah oleh Isaac Newton itu tak diragukan lagi Ibnu al-Haitham, ilmuwan Muslim dari Mesir, karena Haitham lah yang menemukan teropong. Dengan temuannya ini Haitham mementahkan anggapan sebelumnya bahwa mata memancarkan cahaya pada objek yang dilihat sehingga objek tersebut bisa terlihat oleh si pelihat. Haitham menujukan justru objek lah yang memantulkan cahaya kepada mata si pelihat.

Haitham lantas melakukan eksperimen tentang sifat cahaya dalam kamar gelap, yang disebut ‘kamara’. Kata Arab inilah yang menjadi nama alat potret yang disebut camera.

Teori dan ujicoba tentang cahaya Haitham inilah yang dijadikan sandaran Newton.

Abu Rayhan Biruni, lahir 15 September 973 dan meninggal 13 Desember 1048, membuat penelitian radius bumi sejauh 6.339,6 kilometer. Ini penelitian radius bumi pertama kali dalam sejarah sains. Penelitian ini kemudian jadi rujukan utama bagi penelitian-penelitian geografi selanjutnya di Eropa dan Amerika.

Fatima al-Fihri, 851 Masehi, berusia 23 tahun ketika mulai membangun universitas yang kemudian menjadi perguruan tinggi pertama di dunia seperti yang kita kenal sekarang.

Perguruan tinggi itu, yang didirikan di kota Fes, Maroko, adalah bagian dari mesjid yang dibangunnya bernama Al Karaouine, mesjid terbesar di Afrika Utara. Selama pembangunan mesjid dan kampus itu, ia berpuasa tanpa henti sampai pembangunan betul-betul rampung, selama 13 tahun!

Al-Karaoine terbukti sangat berreputasi sebagai pusat pendidikan dan spiritual terkemuka. Di zaman ini, ia masuk Guinness Book of World Record sebagai perguruan tinggi tertua yang masih berjalan sampai sekarang.

Dari al-Karaouine lahir pemikir-pemikir besar, antara lain Al-Abbas al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, pencipta teori jurisprudensi madzhab Maliki, dan Leo Africanus, a penjelajah dan penulis termasyhur.

Sutaita al-Mahamli, hidup pada pertengahan abad 10, adalah ahli matematika perempuan di Bagdhad. Ia sering jadi saksi ahli di pengadilan untuk menghitung kerugian dalam sebuah persengketaan tentang property. Tentu keahliannya bukan hanya matematika, tapi juga sastra Arab, Fiqh dan hadits.

Itu sekedar menyebut dua dari ribuan tokoh perempuan dalam sejarah abad pertengahan, masa ketika kaum wanita Eropa merupakan makhluk paling terkungkung dalam masyarakat berperadaban di dunia. Mereka tak boleh membuka mulut di gereja, karena seperti diterangkan injil, “it is disgraceful for a woman to speak in the church” (vv. 33-35).

Dan, sementara Islam mengharuskan penghormatan kepada ibu tiga kali lebih banyak daripada kepada bapak, di Eropa, seperti dijelaskan St. Thomas of Aquinas [1225-1274]: “Children ought to love their Father more than they love their mother.”

Berikut ini adalah sepuluh dari ribuan warisan peradaban Islam yang masih melayani kita hari ini:

  1. Bedah. Sekitar tahun 1000, doktor Al-Zahrawi menerbitkan buku setelah 1,500 halaman yang merupakan ensiklopedi bedah yang kemudian digunakan di Eropa selama lebih dari 5 abad selanjutnya. Zahrawi antara lain menemukan penggunaan benang halus untuk menjahit luka setelah pembedahan dan teknik menghilangkan bekas jahitan operasi.  Dia juga dokter pertama yang menangani kelahiran secara sesar dengan menggunakan gunting.
  2. Kopi. Entah sejak kapan kopi menjadi minuman sehari-hari sekaligus multiguna di Barat. Untuk bersantai, orang minum kopi. Untuk membuat badan sekaligus suasana hati [mood] lebih segar, orang minum kopi. Untuk menghangatkan badan, orang minum kopi. Tapi kopi bukan hasil bumi Eropa dan juga bukan industri kawasan itu. Orang Islamlah yang membawa kopi ke Eropa abad 16.

Kopi pertama kali diproses-peras di Yaman abad 9. Syahdan, kopi pada masa-masa awalnya digunakan kaum sufi agar tetap melek sepanjang malam untuk berdzikir, berdo’a, dan muqarrabah.

Kemudian kopi dibawa ke Kairo oleh para pelajar. Segera komoditi ini menjadi termasyhur di seantero kerajaan. Abad ke-13, kopi mencapai Turki. Baru abad ke-16 para pedagang Venesia kemudian mebawanya ke Eropa via Itali.

  1. Mesin Terbang. Abbas bin Firnas adalah orang pertama yang berusaha membuat mesin terbang dan benar-benar terbang di abad 9. Sebuah rancangan kasar menyerupai burung dicoba di Cordoba, Spanyol. Mesin terbang bernama Firnas itu terbang beberapa saat, sebelum jatuh ke bumi dan sebagian badannya pecah. Rancangan ini kemudian menjadi inspirasi bagi Leonardo Da Vinci yang menggambar rancangan pesawat terbang beberapa tahun kemudian.
  2. Aljabar. Kata ini berasal dari judul kitab matematika Persia termasyhur abad ke-9 ‘Kitab al-Jabr Wa l-Mugabala’ yang artinya ‘buku penalaran dan keseimbangan’. Dibuat berdasarkan sistem Yunani dan Hindu, susunan aljabar baru menyatukan sistem tersebut untuk bilangan rasional, bilangan irasional dan besaran geometri. Matematikawan lain, Al-Khwarizmi, juga orang pertama yang memperkenalkan konsep deret ukur kedalam daya.
  3. Optik. Banyak kemajuan penting dalan studi optik berasal dari dunia Islam. Seperti telah disinggung sebelumnya, sekitar tahun 1000, Ibn Al-Hitham membuktikan bahwa manusia melihat objek dengan pantulan cahaya yang mengenai mata mereka. Ini mementahkan teori Ptolemy dan Euclid bahwa mata lah yang memancarkan cahaya ke objek yang dilihat. Psikawan besar ini juga penemu kamera, yang menjelaskan bagaimana mata melihat terbalik karena hubungan antara saraf optic dengan otak.
  4. Musik. Eropa sekarang adalah kiblat musik dunia, namun ini bisa terjadi karena para musisi Muslim membawa musik ke kawasan itu, baik dalam bentuk instrument, kehalian maupun teori. Nama-nama not : do, re, mi, fa, sol, la, si, do, diambil dari alfabet Arab: dal, ra, mim, fa, shad, lam, siin.

Musisi Muslim mebawa gitar arab ebor ke Spanyol abad 9. Disana dimodifikasi jadi gitar dalam bentuknya yang sekarang. Selain itu adalah rahab, yang kemudian berkembang menjadi biola.

  1. 7.       Engkol. Cara kerja otomatis pada berbagai alat zaman sekarang bersumber pada sistem saling putar roda yang dibangun para teknolog Muslim. Mereka mengkonversi gerak melingkar menjadi gerakan linear yang di kita disebut engkol. Konversi itu menjadikan kegiatan mengangkat benda-benda berat menjadi ringan – seperti pada mengayuh sepeda. Cara kerja dan tekonologi engkol ditemukan Al-Jazirin pada abad 12. Dari sini lahir sepeda dan mesin pembakaran.
  2. Rumah sakit. Rumah sakit seperti yang kita kenal sekarang diawali di Mesir pada abad 9. Pusat pengobatan itu bernama Rumah sakit Tulun, didirikan oleh Ahmad ibn Tulun tahun 872 di Kairo. Rumah sakit ini menyediakan layanan pengobatan gratis – sebuah kebijakan yang umum di berbagai pemerintah Muslim ketika itu – bahkan sampai sekarang.

Invasi Islam sekarang

Hari ini, kembali Islam menginvasi Eropa, tapi tidak dengan pedang dan kekuatan peradaban seperti dulu, melainkan dengan shalat!

Di Paris, Prancis, lima sekali sehari seluruh kota nyaris terhenti dari berbagai kegiatan karena jalan-jalan dipenuhi orang-orang shalat berjama’ah. Kenapa tidak di mesjid? Karena mesjid-mesjid sangat tak cukup menampung jama’ah yang bertambah setiap hari.

Hal yang sama terjadi di kota-kota lain di Eropa: London, Frankfurt, Moskow.

Dulu Islam mengarahkan Eropa ke peradaban dunia yang terang. Kini, kaum Muslimin menghadapkan Eropa ke wajah Allah.

3 Komentar

Dan Prabu Siliwangi pun luluh

Mukhlis Gumilang

Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya nyai Subang Larang,penguasan Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Mem
bawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.

Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. Syeh Hasanuddin, seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka,

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura hingga melalui pelabuhan Muara Jati. Di Muara Jati Syeh Hasanuddin berkunjung kembali ke Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Cerbon yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho.

Kedatangan ulama besar yag ahli Qiro’at tersebut, disamping karena perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang dipengaruhi oleh Islam seperti sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam, Timur Tengah Islam dan Cina Islam. memungkinkan tumbuhnya rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon terhadap Islam. Karenanya kedatangan Syekh Hasanuddin disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang memperoleh kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat.

Ketika kunjungan yang cukup lama itu berlangsung, Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang serta masyarakat Syahbandar Muara Jati merasa tertarik dengan Suara lantunan ayat Qur’an serta ajarannya yang dibawa Syekh Hasanuddin, hingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Hasanuddin di Muara Jati Cirebon, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran, rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu,penyebaran agama Islam dperintahkan agar dihentikan. Perintah dari Raja Negeri Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syekh Hasanuddin. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud kesungguhannya terhadap agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar mengaji dan Agama Islam di Campa.

Beberapa waktu lamanya berada di Campa, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah negeri Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya adalah Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1416 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, dan Sunda Kelapa lalu memasuki Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Negeri Pajajaran, akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya ( sekarang Mesjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin yang kemudian masyarakat Pelabuhan Karawang memanggilnya dengan Syekh Quro, rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik dan halus budinya.

Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid yang berada di Mekkah. permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang syekh. Dan Syekh itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya keduanya dengan Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Beberapa lama setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan Prabu Pamanah Rasa terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. Meski sudah masuk agama Islam ternyata Prabu Siliwangi tetap menjadikan agama “resmi” kerajaan yang dianut saat itu tetap “Sunda Wiwitan” yakni “ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”. Konon agama Sunda memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus, oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.

Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati. Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan. Istri kedua,Nyai Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa. Istri Ketiga, adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Amuk Murugul.

Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran. Istri keempatnya Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho.

Pernikahan kedua di Musholla yang senantiasa mengagungkan alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di Negeri Pajajaran. Nyai Subang Larang sebagai isteri kedua seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Perbedaan yang mencolok antara Ibu Subang Larang dengan istri-istri Prabu Siliwangi lainnya adalah keunggulan mendidik anak-anaknya yang mencerminkan sosok ibu yang idealnya seperti seorang ibu bahkan bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini sebagian masyarakat.

Hasil dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang tersebut mereka dikarunai tiga anak Ideal yaitu: 1.Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi) ; 2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi) ; 3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Melihat kondisi Pakuan Pajajaran yang menganut keyakinan “Sunda Wiwitan” Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Nyimas Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama Syekh nur Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih pengajian di pelabuhan Muara Jati, yaitu Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon.

Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang, dengan restu Prabu Siliwangi menjadi Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan dibawah Pajajaran dan memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Nyi Mas Rara Santang Di tempat pengajian Gunung Jati Cirebon tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Penerus raja Caruban Larang yang menurut cerita versi Pajajaran beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.

Sedangkan Raja Sangara menuntut ilmu Islam mengembara hingga ke Timur Tengah. Kemudian menyebarkan agama Islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro, Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Setelah wafat, Syekh Quro dimakamkan di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Sumber:
http://cainusantara.wordpress.com/2011/02/07/alunan-suara-nyai-subang-larang-yang-meluluhkan-keras-hatinya-prabu-siliwangi/

http://groups.yahoo.com/group/bmg2006_sukses/message/3107

http://www.pelitakarawang.com/2010/03/sekilas-sejarah-makam-syekh-quro.html
http://indo.hadhramaut.info/view/1941.aspx
http://su.wikipedia.org/wiki/Obrolan:Prabu_Siliwangi
http://www.forumbebas.com/printthread.php?tid=20951
http://www.asalcageur.co.cc/2009/06/sejarah-sunda-bagian-6.htm
Bayt al-Hikmah Institute, Research & Development Center for Islamic Philosophy, Mysticism, Science & Civilizations

1 Komentar

Dokter lebih tau!

Seorang dokter membungkuk memeriksa tubuh lelaki yang terbaring lemas di tempat tidur. Kemudian ia tegak berdiri dan
berkata, “Maaf, saya terpaksa mengatakan bahwa suamimu sudah
meninggal.”

Suara protes lemah terdengar dari tubuh lemas yang terbaring
di tempat tidur itu. “Tidak… saya masih hidup…”

“Diam,” kata istrinya. “Dokter lebih tahu daripada kamu.”

Tinggalkan komentar

Kalender kuno

Kalender Maya merupakan sistem kalender yang disusun oleh sebuah peradaban yang dikenal dengan nama Maya. Kalender ini diciptakan pada masa Baktun ke-6 (sekitar tahun 747-353 SM). Puncak kejayaan peradaban Suku Maya terjadi sekitar tahun 250-900 M.

Suku Maya menjadikan kalendernya sebagai acuan dan ukuran dalam menentukan hampir setiap kejadian yang mereka alami. Mereka juga memandang kalendernya sebagai bentuk visual terhadap perjalanan waktu yang menggambarkan bagaimana kehidupan itu berlangsung.

Putaran ke-4 KHP Bangsa Maya yang akan berakhir pada hari Jumat, tanggal 21 Desember 2012. Prediksi itu dilandaskan pada keyakinan bahwa pada 21 Desember 2012 (13.0.0.0.0, 4 Ahau, 3 Kankin), posisi Bumi, Matahari, dan pusat Galaksi Bimasakti akan membentuk 1 garis lurus sehingga energi yang terpancar dari pusat Bimasakti ke Bumi terhalang oleh Matahari, sehingga pada saat itu daya magnet Bumi =0 (tidak memiliki pengaruh apapun) dan masalah besar akan terjadi, apalagi saat itu terjadi perbalikan orbit 11 tahunan kutub Matahari (konon peristiwa ini terjadi sekali dalam 26.000 tahun). Lalu sebagian ilmuwan menyatakan bahwa tanggal 21 Desember 2012 adalah awal zaman baru, sebuah zaman yang akan berbeda sama sekali dengan zaman sekarang, alias bukan kiamat.

Tinggalkan komentar

Nabi Muhammad dalam kitab Weda

“KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung)

Title: Muhammad in the Hindu Scriptures
Author: Dr. Ved Prakash Upaddhayaya
Binding: Paperback, 167 pages
Publisher: A. S. Noordeen

DR. Ved Prakash dari Alahabad University, India, dalam bukunya berjudul Muhammad in the Hindu Scriptures, mengupas tentang kriteria yang disebutkan dalam kitab suci kaum Hindu, Wedha, tentang ciri-ciri “Kalky Autar” (Petunjuk
Yang Maha Agung)

Dalam kitab suci Wedha disebutkan mengenai ciri Kalky Autar diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama Syanuyihkat dan ibunya bernama Sumaneb. Dalam bahasa sansekerta kata Syanuyihkat adalah paduan dua kata yaitu Syanu artinya Tuhan sedangkan Yahkat artinya Anak Lelaki atau Hamba yang dalam bahasa Arab disebut Abdun.

Dengan demikian kata Syahuyihkat artinya “Abdullah”. Demikian juga kata Sumaneb yang dalam bahasa sansekerta artinya Amana atau Amaan yang terjemahan bahasa Arabnya “Aminah”.

Semua orang tahu bahwa nama ayah Nabi Muhammad adalah Abdullah dan nama ibunya Aminah.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebuah goa untuk mengajarkan Kalky Autar (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Nabi Muhammad didatangi malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu dari Allah.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor tunggangan yang larinya sangat cepat yang membawa Kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad.

[Mukhlis Gumilang]