Tinggalkan komentar

Antara media dan realitas

Kafil Yamin

Gambar“Media itu cuma memberitakan, menyampaikan fakta.” Saya percaya ini, karena ‘kebetulan’ saya pun orang media. Selain itu, media pun diikat  sejumlah etika, aturan dan hukum. Pendeknya, media tidak dapat  menyebarkan kebohongan.

Mari kita berasumsi bahwa tidak ada media yang menyebarkan kebohongan. Tapi, mengharapkan fakta, informasi, atau pengetahuan yang utuh dari pemberitaan media adalah tidak mungkin. Karena itu, media tidak boleh menjadi satu-satunya sumber pengetahuan kita.

Kenapa? Karena tidak satu pun media yang bisa memuat semua informasi  dan fakta bahkan tentang SATU kasus! Media dibatasi ruang, waktu, aturan dan kepentingan. Ditambah lagi ada sejumlah kriteria mengapa satu informasi, atau peristiwa, layak diberitakan atau layak disebut berita. Kriteria itu banyak. Tapi untuk kepentingan ini, saya sebutkan tiga saja: conflict, competition, shock [konflik, persaingan dan kejutan].

Peristiwa yang mengandung konflik, persaingan dan kejutan, layak diberitakan. Ini terkait dengan ilmu komunikasi dan psikologi massa.

Karena itu, kejadian atau keadaan yang normal-normal saja, bukan berita. Saya kaitkan ini dengan persoalan keragaman dan kehidupan beragama di Indonesia, dengan tujuan agar kita punya pengetahuan yang lebih utuh dari yang disajikan media.

Tentu, dengan kriteria berita tadi, media akan tertarik bila ada penyerangan sekelompok beragama kepada kelompok agama lain. Katakanlah sekelompok kecil orang Islam menyerang sebuah kegiatan pembangunan gereja. Tak usah diragukan bahwa penyerangan itu tindakan kriminal dan bertentangan dengan ajaran agama sendiri. Pun, tindakan media memberitakan kejadian itu adalah sudah seharusnya.

Namun kalau kejadian ini membentuk pengetahuan umum kita tentang hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, maka pengetahuan kita itu tidak sah. Kenapa? Karena kejadian itu bagian kecil saja dari realitas hubungan Islam dan Nasrani di Indonesia. Realitas lain, yakni hidup berdampingan secara harmonis yang telah berlangsung sekian lama luput dari pengetahuan kita. Pengetahuan kita sangat terdistorsi. Kehidupan bersama yang normal setiap hari memang bukan berita, dan kita tak bisa menyalahkan media karena tak memberitakannya.

Persoalan muncul ketika fokus kepada konflik itu sudah tidak proporsional, sehingga pengetahuan yang terbentuk pun menjadi tidak sesuai fakta.

Semua orang tau bahwa NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, dan sifat keislamannya sangat moderat. Semua orang  juga tau bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, juga moderat. Demikian pula Persatuan Islam. Mereka semua berpendirian semua agama berhak hidup di Indonesia.

Tapi yang lebih sering muncul di media adalah Abu Bakar Baa’syir dan Habib Rizieq bersama FPI-nya. Apalagi di media asing. Kata radical Muslims, intolerance, terrorist, seakan sudah menjadi kata kunci ketika memberitakan Islam di Indonesia.

Betul bahwa pemberitaan radikalisme Islam di Indonesia itu objektif.  Tapi mengapa memilih berita itu adalah subjektif.

Betul pemberitaan tentang pembakaran gereja itu objektif, tapi mengapa memilih pembakaran, bukan gereja-gereja baru yang bediri di pinggiran-pinggiran kota dan penambahan sangat pesat di wilayah Indonesia Timur, tanpa konflik, adalah subjektif.

Di sejumlah perumahan besar di Indonesia, termasuk di perumahan saya, hubungan antara ummat Islam dan ummat Nasrani sangat damai dan harmonis. Memang ini bukan berita, tapi orang perlu tahu bahwa lebih banyak hubungan damai dan harmonis ketimbang konflik. Dengan demikian pengetahuan kita lebih utuh dan faktual.

Perlu pula disampaikan bahwa yang jadi korban radikalisme Islam yang kelewatan, lebih banyak orang Islam sendiri ketimbang kaum Nasrani. Dalam kasus pemboman, hampir semua organisasi Islam mengecam bahwa si pelaku tidak bertuhan. Jadi ini persoalan bersama.

Ini baru cerita tentang media yang benar, belum memasukkan media yang tendensius, menggunakan bahasa-bahasa hujatan, kepada pihak Islam maupun Kristen. kalau pandangan-pandangan kita tentang realitas adalah hasil brainwash media, sulit bagi semua pihak untuk mengatasi persoalan bersama secara jernih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: