8 Komentar

Feminisme, gender dan Islam

Kafil Yamin

KALAU kita berbicara dengan seorang feminis, tulen atau tanggung, kita akan nyaris bosan mendengar kata-kata ini: woman exclusion [Penghambatan perempuan], social construction [konstruksi sosial], gender bias [bias jender], gender equality [kesetaraan jender], gender equity[ keadilan jender], woman’s rights [Hak-hak perempuan], domestic violence [kekerasan dalam rumah tangga].

Sedangkan dalam bentuk frasa, kita pun akan berulang-ulang mendengar kata-kata ini: Men and women are fundamentally the same [Terjemahan bebas: Selain lubang vagina dan tetek, laki-laki dan perempuan itu sama];  Gender differences are all socialized, not biological [Perbedaan jender itu bikinan sosial, bukan biologis]; unrealized potential [potensi yang tak disadari]; Sexual sameness [Kesamaan seksual], to be feminine is to be weak [bersifat feminine itu menunjukkan kelemahan].

Bila seorang feminis mengucapkan ini semua dengan gaya ucapan digital, otomatis dan terprogram, maka bisa dipastikan dia sudah menyelesaikan women’s studies – bea siswa. Nyaris tidak ada studi perempuan tanpa beasiswa, karena kalau bayar sangat minim peminat.

Itu pun menunjukkan bawa agenda feminisme internasional telah sukses padanya.

Feminisme itu ideologi.

Ia lahir dari Woman Liberation Movement tahun 60an di Amerika Serikat. Perang Dunia II baru saja usai, pada saat yang sama industri di A.S. sedang jor-joran di segala bidang. Kaum kapitalis rame-rame menanam investasi. Pabrik-pabrik kekurangan buruh.

Kaum pemodal khawatir tengat balik duit akan sangat telat. Industri memerlukan jauh lebih banyak buruh. Bukankah ada banyak orang kulit hitam menganggur? Jangan. Mereka itu tak punya etos kerja.

Coba buka literatur-literatur tentang kehidupan kaum perempuan A.S., tahun 60an, 80persen adalah ibu rumah tangga, dengan pakaian tertutup, berkain panjang. Hitungan kasar, jumlah kaum perempuan AS sekitar 60persen dari keseluruhan penduduk. Nah, bagi kaum pemodal, ini ‘unrealized potential’. Mereka harus dikerahkan ke pabrik-pabrik.

Yang berpikir begini tentu saja kaum pemodal. Mereka menyusun strategi bagaimana caranya mengeluarkan kaum perempuan dari rumah. Berkoalisi dengan media yang juga dikuasai kaum kapitalis, kampanye pun dimulai dengan isu-isu ini:

  • Perempuan selama ini tidak merdeka, terkungkung budaya patriarkis.
  • Perempuan menjadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga
  • Perempuan yang berhasil adalah yang mandiri dalam hal pendapatan
  • Perempuan berhak atas jabatan publik
  • Perkawinan itu adalah kesepakatan, termasuk menentukan jumlah anak. Menyusui itu pilihan.
  • Perempuan harus mengejar karir dan menjadikannya prioritas utama

Tak usah heran bila seorang feminis, meski dia sudah menikmati pekerjaan yang layak, dia akan tetap bilang bahwa tempat kerjanya diskriminatif terhadap perempuan. Itu sudah digital.

Apa yang terjadi pada kaum perempuan AS dan Eropa sekarang?

  • Satu dari 4 perempuan berusia 49-59 tahun meminum pil anti depresi [USA Today];
  • Harapan hidup rata-rata perempuan Amerika menurun [IHME) at the University of Washington];
  • 8 juta orang AS menderita gangguan pencernaan – 7 juga di antaranya adalah perempuan [Press TV];
  • Satu dari 4 wanita antara 45-64 tahun mengalami kekacauan mental, meningkat 20persen selama 15 tahun terakhir [The Telegraph];
  • Tak sampai 1 persen perempuan yang mencapai posisi puncak, selebihnya bekerja sebagai tenaga pemasaran eceran, yang menjual senyum dan ‘menekan’ calon kosumen dan kerja gila-gilaan dan gaji rendah.
  • Karena sulit mencari pasangan setara, makin banyak perempuan jadi lesbian, laki-laki jadi Homo.

Rockefeller Foundation adalah jaringan korporasi utama dan pertama dalam mengkampanyekan isu-isu ini melaui media massa, organisasi kewanitaan dan perguruan tinggi. Acara-acara teve yang mempromosikan isu-isu tadi muncul serentak di stasiun-stasiun teve AS: Mob Wives, Real Housewives, Jersey Shore, Sex in the City, Jerry Springer, Steve Wilkos, Maury Povich.

Pada saat bersamaan, majalah-majalah gaya hidup selalu menampilkan profil perempuan berkulit mulus, berbadan ramping, dan berbusana minimalis. Ini profil standar perempuan karir yang sukses. Citra dan konsep kecantikan perempuan berubah, dari yang kemayu, lembut, penuh kendali dan menyejukkan menjadi agresif, bebas-lepas, flashy [terjemahan bebasnya: ‘tebar pesona’].

Dalam konsep kecantikan yang baru, tampilan feminin itu [kemayu dan lembut] adalah pertanda kelemahan. Dan citra kemaskulinan pun berubah, laki-laki yang disukai kaum feminis adalah yang feminin. Maka, laki-laki macam begini laku di layar kaca. Karena Indonesia adalah provinsi AS yang ke-53, media teve di sini pun sama: Olga, Ruben, Indra Bekti adalah ikon ‘laki-laki’ sukses.

Kampanye di kalangan perguruan tinggi adalah dengan pembukaan bidang studi ‘Women’s Studies’. Coba ketik ‘Rockefeller Foundation’ dan ‘Woman Studies’ di pencarian google, anda akan bersua dengan ratusan item.

Women’s Studies mengadopsi disiplin-disiplin ilmu lain, terutama antropologi, biologi, sosiologi, psikologi dan Kesehatan.

Nama Women’s Studies sendiri menganduk konflik. Nama ini bias jender karena tidak ada Men’s Studies, padahal dalam kajian-kajiannya ia menerapkan analisis jender yang meniscayakan komparasi antara laki-laki dan perempuan, tapi yang disebut cuma ‘women’-nya.

Gender adalah terminologi ilmu atropologi. Ia menjelaskan sifat atau perilaku yang dilekatkan pada kelompok jenis kelamin oleh lingkungan sosial dan budaya.  Jadi kata ini bukan penjelasan tentang jenis kelamin. Namun dalam jargon ‘ kesetaraan jender’, yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah kesamaan perlakuan atas jenis kelamin.

Saya menemukan naskah bahan ajar seorang dosen IPB yang menjelaskan analisi jender seperti ini: Analisis gender adalah suatu alat untuk menyusun kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam rangka strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender.

Kok analisis ada urusannya dengan ‘strategi untuk mencapai kesetaraan jender’?

Padahal, dalam pengertian asalnya gender analysis is the process of assessing the impact that a development activity may have on females and males, and on gender relations [Juliet Hunt].

Coba browse hasil-hasil analisis jender di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, 99,99 persen hasilnya adalah ‘perempuan korban sistem anu, perubahan iklim lebih berdampak kepada kaum perempuan, kekerasan terhadap kaum perempuan meningkat, pelecehan terhadap kaum perempuan melonjak, dst, dst. Nyaris tidak ada, bahkan tidak ada sama sekali hasil analisis jender yang menyimpulkan laki-laki dirugikan. Dalam kenyataan, banyak sistem, nilai, aturan, gejala alam, yang lebih banyak merugikan kaum laki-laki. Ini bias jender yang kelewatan karena analisis jender pasti bukan kajian hanya tentang perempuan.

Tak mengherankan bila terma-terma feminis pun mengandung ironi.  Sampai-sampai Helen Gurley Brown, redaktur majalah Cosmopolitan, berujar: If a loving husband provides for a devoted wife, she is a “parasite.” But if she is a corporate slave or whore, then she is “independent” and “liberated.” [Jika seorang istri dinafkahi seorang suami yang mencintainya, maka perempuan itu benalu, tapi bila si istri jadi budak dan lonte perusahaan, maka dia ‘mandiri’ dan ‘merdeka’.

Karena Women’s Studies ditawarkan dengan beasiswa, dengan persyaratan longgar, bidang ini cukup banyak peminat. Peminatnya bisa ditebak, dari negara-negara yang berekonomi lemah – termasuk negara-negara berpenduduk Muslim.

Sejumlah perempuan Muslim yang sudah menyelesaikan Women Studies, pulang ke negerinya masing-masing dengan kosa kata kunci yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Terus apa peran pengetahuan dan ajaran Islam yang mereka bawa? Islam berubah dari pedoman dan nilai hidup menjadi objek kajian, objek ‘analisis jender’.

Dari luar, memang terlihat sejumlah praktik keIslaman yang merugikan perempuan, seperti di Pakistan, Afghanistan, Iran, Maroko, yang tidak mengizinkan perempuan berada di luar rumah pada jam-jam tertentu dan tidak berbaur dengan laki-laki di tempat umum [Indonesia jauh lebih bebas]. Di media-media Barat, perempuan-perempuan Muslim itu tertindas. Dan ‘Islam oppresses women’. Tapi para feminis kecele setelah Dr Ingrid Mattson, seorang feminis Muslim muallaf asal Kanada, melakukan studi empirik dan menemukan bahwa perempuan-perempuan itu sama sekali tidak tertindas, malah umumnya berbagia dan disegani kaum laki-laki, jauh lebih bahagia dan terhormat dari kaum wanita eksektufi AS dan Eropa.

Namun beberapa feminis Muslim hasil sukses feminism internasional akan bilang bahwa mereka itu korban dari ajaran yang bias jender. Atau, bahasa moderatnya, korban penafsiran agama yang diskriminatif. Di Indonesia, feminis Muslim jenis ini gampang dijumpai.

Bahkan seandanya seorang feminis masuk surga, dia akan tetap mengeluh diskriminasi, karena perempuan di sana dilukiskan sebagai bidadari yang melayani laki-laki.

Ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasul lebih dilihat sebagai ‘social construction’. Hukum waris harus sama antara laki-laki dan perempuan, ayat al-Qur’an yang jelas-jelas membedakan,  itu ‘konstruksi sosial’, sebab waris itu ‘non-biologis’. Pernikahan yang dalam Islam lembaga sakral, diturunkan menjadi sekedar kesepakatan antara laki-laki dan perempuan, karena itu harus ada perjanjian pra-nikah.

Pun, tidak ada konsep dosa. Homoseksual dan lesbian adalah penyimpangan yang dikutuk jelas dalam al-Qur’an, menurut feminis, homo dan lesbian itu satu jender juga. Dalam kesetaraan jender, mereka punya hak yang sama dengan jenis-jenis seks lain, termasuk perkawinan sesama jenis.

Siti Musdah Mulia adalah contoh sukses program pencucian otak feminisme. Seperti sejumlah ‘feminis Muslim’ lainnya, semua ucapan dan kalimat Siti Musdah sudah bisa diduga sebelum dia buka mulut. Saya tidak menghakimi pemikirannya, tapi butir-butir pemikiran dia 100 persen salin-rekat [copy paste] dari ide-ide feminisme Barat. Dan para feminis yang pikirannya hasil copy-paste ini makin bertambah.

Di Indonesia, perempuan Muslim yang melakukan kajian kritis terhadap premis-premis feminism internasional bisa dihitung jari. Nyaris tidak ada. Anehnya, di Eropa dan Amerika, para Muslimat Muallaf justru berada di barisan depan penentang feminisme: Lauren Booth, Kristiane Backer, Dr. Ingrid Mattson, Lisa Killinger, Yvonne Ridley..

Dan seberapa meyakinpun penjelasan orang kepada kaum feminis, bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan itu bukan hanya vagina dan tetek, bahwa sejumlah penelitian psikologi dan biologi mutakhir membuktikan itu, kaum feminis akan tetap mengulang-ulang kalimat: ‘selain jenis kelamin, laki-laki dan perempuan itu sama’. Dan ‘selain faktor biologis, semua hukum, aturan, pandangan tentang laki-laki itu ‘konstruksi sosial’. Kita akan capek mendengarnya.

Kenapa? Karena pengetahuan mereka bukan ilmu, melainkan ideologi. Sifat dasar ilmu yang terbuka pada koreksi dan inovasi baru, hilang dalam ‘Women Studies’. Semua pengetahuan, informasi, teori, harus menguatkan ideologi feminisme. Kalau ada temuan baru yang merontokkan hipotesa feminisme, dipastikan temuan itu akan dibuang.

Segelintir  kaum feminis telah melesakkan RUU Kesetaraan Jender dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ke DPR, rancangan undang-undang jiplakan dari Committee on the Elimination of Discrimination against Women [CEDAW]. Penguasa dan DPR tak dapat diharapkan karena gampang dibeli dengan hanya traktiran makan siang para feminis di restoran Nelayan, Senayan. Atau tambahan uang jajan studi banding ke Eropa tentang kesetaraan jender.

Organisasi-organisasi perempuan Muslim dan akar rumput menjadi benteng utama, sekarang.

 

8 comments on “Feminisme, gender dan Islam

  1. Motif lahirnya aktifis Jender & Feminisme di Indonesia tampaknya tak lebih dari motif “proyek”, karena ada dananya, dan lain sejenisnya.

    • ass….Hal yang tidak pernah terbayankan kini menjadi kenyataan kepada keluargaku,,,untuk AKI JOGO kami ucapkan banyak terimakasih karna berkat bantuannya ALHAMDULILLAH keluarga kami bisa lepas dari masala utang dan ,karna nomor “GAIB”untuk pasang togel,hasil ritual AKI JOGO meman benar2 merubah nasib kami hanya sekejap,dan disitulah aku berkesempatan kumpulkan uang untuk buka usaha kembali,karna rumah juga sudah disita,,warung makan jg sudah bangkrut,,tapi itu semua aku masih tetap bertahan hidup dengan anak istriku,,walau cuma ngontrak tapi aku tetap bersabar dan akhirnya AKI JOGO lah yang bisa merubah nasib kami..maka dari itu AKI JOGO orang paling bersejarah di keluargaku…!!!jadi kepada teman2 yang di lilit utang dan ingin merubah nasib seperti saya silahkan hub AKI JOGO di nomor: 0823 1090 1997 dengan penuh harapan INSYAH ALLAH pasti tercapai.sekian kata hati saya yang sejujurnya
      tampah ada rekayasa…salam kenal dan salam lakomsel…
      tankssss..roomnya sobat.>>>>

  2. memang itu proyek rekayasa budaya oleh korporasi untuk kepentingan bisnis

  3. jika dikaitkan dengan kepopuleran dari nama seorang “Kartini” daripada cut njak dien, Chris. Martha T , dll…
    berarti feminisme di Indonesia udah berlangsung sejak lama,
    #wew….

  4. Feb, Kartini tak pernah menyatakan dirinya feminis. Juga Tjut Nyak Dhien. Orang-orang yang sangat kemudianlah memberinya label feminisme kepada perjuangan dan ketokohannya. Jadi pikiran dan faham feminisme dikenakan di masa yang sangat kemudian — dan belum tentu Kartini dan Tjut Nyak Dhien setuju.

    Kartini memang berjuang untuk kaum perempuan. Tapi Tjut Nyak Dhien tidak. Dia berjuang untuk bangsa Aceh — laki-laki dan perempuan.

    Feminisme hanya ‘berjuang’ untuk perempuan.

  5. @ Kafil Yamin,

    Terima kasih dan salam kenal mas/ pak Kafil Yamin yang rupawan, Permisi saya sedikit ingin ikutan komentar membahas tulisan feminis di sini, yang jika saya cerna tulisan di atas terkesan resah dan terancam dengan kehadiran paham feminisme di tengah dunia yang di dominasi ideologi paternalistik…

    Saya tidak pro barat pun saya juga tidak sepaham dengan ideologi suatu kitab atau suatu kultur yang masih memandang dan memposisikan makhluk berjenis kelamin wanita seperti 1400 an th yang lalu…

    Menurut saya, studi-studi tentang wanita yang berbasis baik feminis, barat, islam, asia, nusantara, dst itu mutlak di perlukan sebagai ‘pengawal’ sebuah perubahan peradaban sekaligus pencerahan juga. Tentang sepak terjang feminisme, kita pun tak bisa memungkiri ‘jasa-jasa’ mereka yang antara lain mengegoalkan lahirnya undang2 anty KDRT, tunjangan gaji untuk cuti haid dan hamil, dan undang2 lainya yang semuanya mensejahterahkan kebutuhannya. Yang intinya, ketika para suami, para ayah, para saudara laki-laki dan semua lelaki tak bisa sepenuhnya menjaganya, maka payung hukumlah yang melindunginya.

    Tentang riset studi wanita muallaf yang mengatakan bahwa wanita2 arab yang hidupnya terkungkung justru lebih merasa bahagia dan terhormat daripada wanita2 barat yang malah menderita stress karena tekanan pekerjaan dsb. Saya hanya bisa bersikap netral saja… tapi risetnya itu untuk wanita arab yang mana?… apakah hanya dengan membagikan 500 korresponden trus itu lantas bisa di jadikan tolak ukur jutaan wanita arab di sana??…

    Saya pernah membaca koran jawa pos bbrp th yang lalu, bahwa american woman research center pernah melaporkan bahwa kasus pelecehan sexual semakin meningkat dst…. poinnya adalah bahwa wanita2 itu memiliki keberanian untuk melaporkan. Lalu bagaimana dengan negara2 yang terkenal sopan, tertutup dan agamis?… apakah itu menjamin tak ada pelecehan sexual atau rape cases?… faktanya mengejutkan sekali, bahwa sebenarnya di negara2 di mana wanita yang posisinya lemah di mata hukum dan masyarakatnya justru lebih banyak yang menjadi korban, hanya saja mereka tak berani melaporkan, mereka hanya berani sharing/ bercerita kepada orang terdekat saja, terlebih maaf, jika peristiwanya di negara arab, ini kisah nyata, ada seorang korban perkosaan yang di lakukan oleh seorang sopir taxi, gadis itu hamil, maka yang akan di salahkan adalah gadis itu, bahkan saudara lelakinya tak akan di persalahkan jika ingin membunuhnya karena malu gadis itu hamil di luar nikah, kasus ini memancing reaksi dunia yang jika tak ada campur tangan presiden amerika waktu itu mungkin gadis itu sudah di hukum rajam hingga tewas!…

    Tentang studi-studi wanita yang terkadang selalu tak sepaham satu sama lainya, kembali lagi pada budaya dan politik yang melatarbelakanginya, entah itu berbasis kapitalis atau agamis atau yang lainya hendaknya semuanya bertanya pada nurani sehingga memiliki kesadaran yang tidak sekedar lip service atau NATO= not action talk only… dengan begini bukan lagi argumentasi ideologi yang di kedepankan melainkan ‘pelayanan kemanusiaan’ untuk terciptanya sebuah cita2 mulia yang universal, apapun ras, suku, kasta, ekonomi, agama dan bangsanya.

    Salam kasih,

    Dewi

    • Terima kasih sekali Dewi. Saya senang berdiskusi dengan Anda. Saya mendapat masukan dan informasi berharga tentang jenis-jenis feminsme.

      Mungkin saya alfa menjelaskan bahwa yang saya sorot adalah feminisme liberal-radikal.

      Berita mengenai pelecehan seksual para santri yang dimuat Solopos telah banyak dipersoalkan karena secara jurnalistik laporan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan: sumbernya hanya satu. Tidak ada konfirmasi — satu orang pun — dengan korban dan pelaku. Kebetulan saya wartawan, jadi agak tau kualitas media daerah dan para wartawannya, juga organisasi yang dengan gampang pake nama ‘center’, center, center, yang biasanya anggotanya cuma 3-4 orang.

      Saya tidak menyanggah banyak persoalan pada kaum wanita Muslim, sebagaimana juga lebih banyak persoalan kaum wanita Barat. Mungkin tulisan saya tersebut bagi Dewi terkesan defensif. Sejujurnya iya.

      Yang jadi persoalan adalah feminisme sepertinya semakin jadi mainstream bagi wanita Muslim terdidik. Sementara di Barat sendiri wanita-wanita Bule yang sudah kenyang dengan kebebasan dan keseteraan semi melihat Islam — bukan masyarakat Islam — sebagai sinar penerang, dan mereka menikmatinya. 9 dari 10 orang Amerika yang masuk Islam adalah perempuan, pada saat feminisme meyakinkan dunia bahwa Islam menindas perempuan.

      Intinya sederhana, dalam konsep keperempuanan orang bisa merujuk kepada ajaran Islam tentang perempuan seperti yang tertera dalam al-Qur’an dan hadits [yang belakangan ini harus dengan seleksi kritis. Banyak yang palsu], bukan merujuk kepada realitas masyarakat Muslim, karena banyak masyarakat Muslim yang tak mengikuti ajaran Islam.

      Salam

      Kafil Yamin

      ________________________________

  6. @ Kafil Yamin, All,

    Berdiskusi mengenai feminisme, sebenarnya di dunia ini banyak aliran2 feminisme, tergantung dari sistem/ kultur negaranya yang mempengaruhi kebijakan/ cara pandang mereka, seperti:

    * feminisme liberal : memiliki kebebasan secara penuh dan individual
    * feminisme radikal : perjuangan separatisme perempuan, atas reaksi kultur seksisme
    * feminisme post modern : ide posmo, yang anti absolut dan anti otoritas.
    *feminisme anarkis : suatu paham politik yang mencita2kan masyarakat sosialis.
    * feminisme marxis : memandang masalah perempuan dalam kerangka kritik kapitalisme.
    * feminisme sosialis : sebuah paham yang berpendapat : tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan. tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialisme.
    * feminisme postkolonial : pandangan pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama.
    * feminisme nordic : menganalisis feminisme bernegara/berpolitik dari praktek2 yang bersifat mikro.

    Bagaimana dengan feminisme ala nusantara?.. Nah, yang terbaru ini adalah feminisme ala kejawen : per-EMPU-an, http://sabdalangit.wordpress.com/per-empu-an/ komplit dengan penjabarannya secara vertikal : spiritual, mendobrak stigma bahwa tuhan itu seperti laki-laki saja, dan secara horisontal : mengenai pandangan kultur sosialnya. Ide feminisme ini sangat fascinating, secara tidak langsung kebudayaan jawa/ nusantara juga bisa memberi oasis /sumbangsih bagi peradapan wanita dunia.

    Lawan kata dari femisnisme adalah masculinisme, Perbedaan ideologi masculinism mungkin juga ada yang dipengaruhi faktor individu dan masyarakatnya. secara umum gerakan masculinisme mengacu pada politik, budaya ,ekonomi, sosial dsb, gerakan yang bertujuan membela hak2 termasuk juga equalities hukum, seperti orang dari wajib militer dan sipil, hak asuh anak, tunjangan, hak2 ayah, partisipasi untuk laki2 dewasa dan anak laki2 tidaklah sama, dsb

    Sebenarnya ide/faham feminist dan masculist itu untuk membela hak2 masing2 gender. Di dunia ini juga banyak aliran2 masculisme seperti halnya banyak aliran feminism. Tapi masculisme yang progresif, melihat bahwa masculism sebagai gerakan yang melengkapi feminism. Filosofi ini bersimpati terhadap keluhan2 sah dari kedua belah pihak, baik laki2 dan perempuan. Sebuah egaliteran gender yang benar2 tertarik dengan kesetaraan untuk bersatu di bawah satu panji ‘egaliteranisme gender’.

    Dengan begitu akan ada keadilan, misal: kalau ada hari ibu, maka ada hari ayah. Kalau wanita kerja akan dapat cuti haid selama bbrp hari setiap bulannya, maka laki2 yang sudah menjadi ayah juga dapat cuti bbrp hari setiap bulannya, supaya mereka dapat mempunyai waktu yang lebih untuk berinteraksi / bercengkramah dengan anaknya. Kalau laki2 minimal usia menikah 18 th, maka perempuan juga minimal 18 th, semata demi kesehatan reproduksi remaja pria dan wanita. Dsb…dst…

    Di negara maju, gerakan masculinisme udah bergaung lama dan memang nyata ke-efektifanya, bagaimana dengan di asia/ indonesia?… Mungkin nanti mas Yamin bisa membuka ruang wacana masculinisme, sehingga kita bisa tahu apa yang diinginkan para laki2/pria. Ini akan menarik sekali karena terkadang pria yang selama ini ter-stigma menjajah perempuan sebenarnya mereka juga korban dari sistem kultur suatu negara yang masih menganut paham patriarchy.

    Salam rahayu,

    Dewi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: