Tinggalkan komentar

Mode baju Muslimah bukan busana Muslimah

Kafil Yamin

Saya sedang berdiri di tempat penghentian KRL Jabodetabek, stasiun Cilebut, Bogor, menunggu KRL yang akan masuk menuju Jakarta. Tiba-tiba, pluk! Sebuah bungkus minuman kotak jatuh di rel di hadapan saya. Saya menengok ke belakang, yang melempar kotak minumah adalah seorang perempuan muda berbusana Muslimah, cukup modis. Dia baru saja menyedot minumah kotak itu. Habis dan langsung membuangnya kemana dia suka.

Saya pun naik kereta, hanya kebagian bergelayut, sehingga bisa lepas memandang keluar jendela. Lewat stasiun Citayem, saya lihat seorang perempuan muda, berbusana Muslimah juga, melempar bungkus makanan ke pagar pemisah stasiun.

Sorenya, dari Jakarta pulang ke Bogor, saya naik bis dan tiba di stasiun Baranang Siang lepas magrib. Ketika turun di perempatan Jl Pajajaran, turun pula seorang ibu Muda, berbusana Muslimah juga, dan bruk! Membuang satu kantong keresek di atas badan jalan – nyaris ke tengah jalan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa risih.

Kejadian-kejadian yang saya liat sejak dari stasiun Cilebut tadi pagi sampai saat Magrib di Baranang Siang itu seperti berangkai, dan melahirkan pertanyaan besar: Bila perempuan-perempuan Muslimah tadi begitu rapih dan bersih berbusana, mengikut ajaran Rasulullah, kenapa prinsip yang sama tidak mereka kenakan ke tempat sekitar mereka? Tak usah jauh-jauh, di tempat mereka sedang berada saja. Kenapa mereka begitu seenaknya membuang sampah? Kenapa mereka tega mengotori tempat mereka sekitar? Tanpa risih. Dengan begitu nyaman. Terus apa substansi berbusana Muslimah pada perilaku?

***

Sekarang ini, orang banyak melihat para wanita Muslim berbusana Muslimah. Alhamdulillah, busana Muslim sudah jadi bagian dari mode kontemporer. Tidak ada lagi rasa canggung berkerudung dan berkain panjang.

Kaum abege yang tak ingin lepas keabegeannya, atau kaum pesohor, pandai pula memodifikasi atau menyesuaikan pakaian Muslim mereka dengan keleluasaan bergerak sekaligus tren. Berkerudung dengan setelan celana jeans, kemeja lengan pendek tapi dilapisi kaus lengan panjang. Pokoknya, asyik lah.

Kaum wanita Muslim sekarang harus bersyukur. Tahun 70-80an, sungguh tak mudah berbusana Muslimah. Masa-masa itu sangat jarang wanita berkerudung. Paling-paling para siswa madrasah dan ibu-ibu pengajian. Bila ada wanita karir berbusana Muslimah waktu itu, pasti dipandang aneh, dicurigai, diisolir dari pergaulan – bahkan ditakuti.

Masa-masa itu, mahasiswi berkerudung pun sangat jarang. Bila pun ada, bisa dipastikan ia dijauhi kawan-kawannya. Dicurigai dosennya. Karena itu, mengenakan kerudung sungguh sebuah tantangan mental yang sangat berat. Saya kira, nilai pahala – umpanya kita berhitung pahala — mengenakan kerudung pada zaman itu dengan zaman sekarang  harus berbeda. Masa itu pahalanya jauh lebih besar karena hambatannya juga besar. Sekarang, tak ada masalah sama sekali.

Namun justru karena situasi seperti itulah, masa itu mengenakan kerudung berarti menegaskan identitas si pemakai lewat perilakunya. Wanita berbusana Muslimah pastilah berperilaku lebih santun, lebih menjaga diri, membatasi diri dari ekspresi dan perilaku berlebihan – tidak sembarangan berungkap bebas, tertawa lepas, berbahasa nir krama [tanpa tatakrama].

Sekarang, dalam hal tatakrama, cara berbicara, berekspresi, bahkan etika bergaul, nyaris tak ada beda antara wanita berkerudung dengan yang tidak – tentu ini secara umum. Bahkan, dalam beberapa kasus, tak sedikit kaum wanita yang berpakain biasa lebih santun dari wanita berpakaian Muslimah yang bersikap dan berbicara urakan.

Tentu saja, kemauan berbusana Muslimah harus dihargai. Tapi penghargaan tersebut tak bisa membendung rentetan pertanyaan dalam pikiran: apa substansi berbusana Muslimah? Sekedar menutup aurat dzahir? Aha, itu bisa dilakukan oleh wanita manapun.

Saya sering menjumpai sekelompok mahasiwa berkerudung nongkrong, bercanda lepas, tertawa bebas, abai tatakrama [nirkrama] di kafe, halaman kampus, di tempat nongkrong pinggir jalan. Banyak di antaranya berpasangan, bergandengan tangan – persis layaknya muda-mudi yang tak berkerudung.

Dalam bayangan umum, wanita berkerudung mestinya juga lain dalam bersikap, tatakrama, tutur bahasa, sehingga busana itu bersinergi dengan keluhuran dan kehalusan perilaku. Apa boleh buat, paling tidak sejauh pangalaman, bayangan umum itu memang hanya bayangan.

Acapkali saya melihat perempuan berkerudung mengendarai sepeda motor, boncengan bertiga, ikut menerabas trotoar, menyalip tanpa aturan, yang kesemuanya adalah pelanggaran lalu lintas. Memang hal-hal demikian pelanggaran lumrah di Indonesia, tapi apa bedanya pengendara yang tidak berkerudung dengan yang berkerudung? Pun, apakah ketaatan menutup aurat tidak sejalan dengan ketaatan kepada aturan lalu lintas, yang baik juga menurut agama?

Kerudung zaman sekarang tidak lagi menghambat karir. Banyak wanita berkerudung jadi pewarta teve, bekerja di perusahaan sekuritas atau jadi pialang saham, bahkan sampai demonstran bayaran.

Sekarang, tak sedikit perempuan berkerudung yang bekerja di perusahaan pialang saham di Bursa Efek Jakarta [BEJ]. Mereka betul-betul main saham. Sementara, perdagangan saham adalah bidang subhat, sangat dekat kepada — bahkan bisa dikatakan – perjudian. Hanya saja dibuat resmi oleh sistem Kapitalisme dan negara.

Terus, bagaimana kesesuaian pakaian Muslimah dengan ekonomi kapitalistik dan perjudian itu?

Beberapa hari lalu, seorang reporter wanita berkerudung dari sebuah TV swasta mewawancarai seorang atlet senam pria yang sedang latihan. Dalam wawancara itu, si atlet bertelanjang dada, yang memang lumrah bagi atlet yang sedang latihan. Tapi, bukankah bagi wanita Muslim badah terbuka si atlet itu aurat? Tidak boleh dilihat? Tapi sang reporter tanpa canggung sedikit pun bertanya jawab dengan sang atlet dengan gaya lepas bebas.

Banyak contoh-contoh yang mengesankan kuat bahwa kerudung hanyalah jenis pakaian. Tidak lebih dari itu.

Yang semakin bikin tak nyaman, tak sedikit perempuan bebusana biasa berperilaku lebih santun, berbahasa lebih krama, bersikap lebih menjaga diri, dari wanita berpakaian menutup aurat yang — mungkin didorong semangat kuat untuk ‘menjadi seperti yang lain’ – berperilaku agak urakan, nirkrama dan – maaf – norak.

Memang, orang melaksanakan syari’at sesuai kapasitas pemahaman dan kualitas mentalnya. Tapi menurut logika orang yang melaksanakan syari’at harusnya berbeda dengan yang tidak melaksanakan. Seperti sering ‘digugat’ al-Qur’an: ‘“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9).

Patutkah Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?” (QS. Shad: 28)

Betul bahwa ketakwaan subjektif, ‘urusan dia dengan Tuhannya’. Tapi dalam perspektif sosial, busana bukan sekedar ‘urusan manusia dengan Tuhan’, melainkan soal nilai, norma, citra diri dan perhubungan antar manusia. Dalam kenyataan ada orang berkerudung dan tidak berkerudung. Dalam perilaku sama. Lantas pembeda substansinya apa?

Pakaian, apa boleh buat, adalah citra diri. Dengan demikian busana Muslimah mewakili masyarakat Muslim. Kalau perilaku si pemakai buruk, citra ummat Islam terkena. Jadi orang tidak bisa berhenti hanya dengan berpandangan ‘itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya.

Sesama Muslim dan Muslimah ikut bertanggung jawab. Makanya ada ayat yang memerintahkah ‘saling menasihati dalam hak dan kesabaran’.

Busana Muslimah sudah jadi mode. Pakaian takwanya entah di mana. Para wanita berbusana Muslimah hendaknya melengkapi busananya dengan pakaian takwa – yakni pakaian kepribadian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: