2 Komentar

Dunia milik mereka yang berbuat

Kafil Yamin

Tak sedikit yang bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang yang berhati tumpul, berpengetahuan tak memadai, dan miskin etika, bisa menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan badan legislatif kita? Sebetulnya, jawabannya sederhana: mereka berbuat.

Bentak, pelotot dan kepalan di DPR

Ya, mereka berusaha keras untuk mendapat kedudukannya sekarang itu. Mereka habis-habisan; keluar uang banyak; lobi sana-sini, seringkali dengan mengorbankan harga diri; termasuk perasaannya sendiri [Jangan kira mereka tak punya perasaan].

Itu pun tidak semua mereka berhasil. Kita masih ingat musim kampanye legislatif dulu: ada sejumlah caleg yang memerlukan perawatan mental alias gila karena tidak terpilih – setelah kehilangan segalanya.

Perkara mereka tak pantas menjadi wakil rakyat atau pejabat dalam hal tujuan, kemampuan dan etika, itu masalah lain. Yang sudah jelas, dalam hal hukum ‘fisika sosial’ mereka memenuhinya: berusaha dan mendapat hasil. Semakin intensif usahanya, semakin tinggi kemungkinan keberhasilannya.

Apa boleh buat, mereka mengalahkan orang-orang yang mungkin jauh lebih cerdas dan berkemampuan  dari mereka tapi tak cukup berbuat dan berusaha. Boleh jadi salah satu pihak yang mereka ‘kalahkan’ adalah kita-kita ini, yang tak bisa berbuat lebih dari mengecam dan mengkritisi.

Ada orang yang berkepribadian bagus, pintar, menyenangkan, tapi posisi sosial-ekonominya biasa-biasa saja. Tak sedikit orang yang bila ketemu langsung bikin ‘enek’, egois, sombong, sialnya, punya jabatan bagus dan hidup berkecukupan.

Bila diamati lebih dekat, ternyata si sombong dan si pengenek itu berusaha lebih keras dalam mencapai ambisinya. Sedangkan si baik tak berusaha cukup keras mencapai kedudukan politik karena memang tidak berminat. Kalaupun ada yang berminat, kalah oleh yang menghalalkan segala cara.

Dalam hal kekayaan, misalnya, seorang penjahat yang giat akan lebih berharta daripada seorang saleh yang hidup santai dan agak malas [Kalau kemalasan tidak bertentangan dengan kesalehan]. Tentu saja, dalam hal kepribadian dan ketaatan kepada Tuhan si saleh unggul, tapi dalam kekayaan si rajin lah yang menang – terlepas saleh atau jahat.

Soal kekayaan itu berkah dan membawa kebahagiaan, itu bahasan lain.

Sebaliknya, orang jahat yang malas cukup menjadi preman jalanan atau penodong ibu-ibu, kalah oleh orang baik yang giat dan bersemangat yang berhasil jadi pengusaha besar — misalnya.

Bagaimana dengan koruptor? Bukankah tak perlu kerja keras untuk korupsi? Korupsi memang tak memerlukan banyak kerja keras – meskipun tetap si koruptor harus berusaha. Korupsi juga terkena hukum ‘usaha-hasil’ tadi. Korupsi yang bernilai besar hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang meduduki jabatan penting. Nah, untuk mencapai jabatan tak gampang.

Baiklah, korupsi memang tak memerlukan kerja keras. Tapi ia hanya akan tumbuh subur di tengan masyarakat yang malas. Orang tidak bisa korupsi sendirian. Ia harus punya mitra dan orang-orang yang yang butuh jasanya. Koruptor itu tak lain dan tak bukan adalah pelayan jasa untuk orang-orang yang malas dan ingin serba potong kompas.

Bikin SIM lama kalau pakai biaya resmi. Dan memang sengaja dibikin lama supaya anda keluar uang untuk mempercepatnya. Tapi trik ini tak akan jalan bila semua orang tak mau memilih jalan potong kompas atau melanggar aturan. Bila semua orang menolak membayar di atas biaya resmi.

Semua instansi pemerintah mengumumkan biaya resmi pembuatan surat izin ini-itu. Tapi mereka tahu anda ingin serba cepat, maka dibuatlah teknik bola pingpong. Anda disuruh muter-muter dari meja ke meja. Dari pada pusing, ya sudah anda mendekati seseorang di sana dan membisikan: “Tolong urusin ya. Nanti ada lah untuk biaya pengurusannya.”

Kalau semua orang yang membutuhkan layanan mereka itu menegaskan sikap bahwa mengurus dari meja ke meja itu adalah kewajiban si pegawai, dan bahwa si pegawai digaji untuk itu, korupsi akan susah. Sekedar berbagi pengalaman, saya beberapa kali bikin paspor dan SIM dengan biaya resmi. Anehnya, paling cepat selesai dibanding yang membayar lebih.

Saya menolak membayar lebih dari biaya resmi dan saya pun menolak disuruh mendatangi meja ke meja. “Itu tugas anda. Anda digaji untuk itu.” Dan kalau mereka memperlambat, saya pun berreaksi, kenapa lambat? Urusan ini mestinya bisa selesai cepat.

Ada satu dua pegawai yang menolak mengurusi kepentingan saya ketika dibilangin begitu, maka saya bilang: “Kalau anda tak mau mengurusi ini berarti anda tidak melaksanakan tugas anda. Itu pelanggaran. Saya perlu laporkan anda kepada atasan anda.”

Saya punya rencana bila atasannya lebih parah, saya akan gugat juga dia. Si pegawai itu segera membereskan urusan saya. Sangat cepat ternyata.

Mungkin mereka berpikir: “Orang ini rese. Bikin pusing. Sudah, cepet beresin aja tuh urusan dia. Daripada kelamaan bikin pusing.”

Susahnya, kebanyakan kita, di samping ingin serba potong kompas, juga kurang berani menegaskan sikap.

Korupsi hanya tumbuh subur di tengah masyarakat yang malas dan berkarakter lemah.

Bila orang-orang baik giat, ulet dan mempunyai sikap tegas, maka mereka bisa mengungguli para pencoleng, maling, markus dalam berbagai bidang. Inilah cara langsung yang bisa kita lakukan untuk memberantas korupsi. Semua kita bisa melakukannya. Mulai dari diri masing-masing.

Sekarang, kita melihat di sekeliling berbagai kedzaliman, kebrengsekan sebagai ‘prestasi’ orang-orang dzalim, maka mengatasinya pasti lahdengan bekerja lebih giat melebihi mereka.

Kita mengecam penghisapan kekayaan alam. Tapi tindakan pencegahannya jauh tertinggal beribu-ribu kali lipat dari tindakan para penghisap. Karena itu kalah telak. Saya sering masuk hutan dan mengunjungi perusahaan HPH. Para pekerja dan pengusaha HPH itu bekerja sangat-sangat berat. Mereka harus membuka jalan. Mengangkut gelondongan kayu di atas jalan berlumpur. Bermalam di dalam hutan. Akrab dengan nyamuk malaria. Modal yang ditanam tidak sedikit. Sedangkan para pengecamnya, anak-anak LSM, cukup bermain email di kantor mereka yang nyaman.

Maka, hukum ‘fisika-sosial’ itu berlaku: siapa yang bekerja keras dia mendapatkan hasil.

Kita prihatin, kecewa, tapi tak berbuat segiat mereka. Apa boleh buat, kutipan sajak Khairil Anwar terasa pas : “hidup hanya menunda kekalahan..”

Tambang lebih gila lagi, British Petroleum menghabiskan 10 tahun dengan biaya 70 trilyun rupiah [US$7 milyar] untuk eksplorasi saja, di Tangguh, Papua. Waktu dan biaya ini belum menjamin ketersediaan kekayaan alam yang diincar. Sementara, sejumlah LSM mengecam tambang sebagai bisnis monster pengrusak. Pertanyaannya, adakah yang mau menghabiskan waktu dan biaya sebesar  itu? Atau, katakanlah Indonesia mau mengeksploitasi sendiri sumber daya alam itu, mau menghabiskan biaya dan waktu sedemikian besar? Untuk penjajakan saja?

Para penjajah Eropa bisa menduduki bangsa-bangsa lain berabad-abad karena mereka bekerja lebih keras. Kerja keras yang pertama melahirkan mesin uap. Mesin uap melahirkan industri. Industri mendorong manusia bekerja lebih keras lagi karena mereka harus mengikuti pola mesin. Andai mesin uap ditemukan di Sukabumi, bisa dipastikan orang Sukabumi lah yang menjarah bangsa-bangsa lain di dunia.

Ketika kapal pertama Belanda mencapai Nusantara awal abad 16, dinakhodai Willem Bontekue. Itu bukan perkara gampang. Mereka berkali-kali hilang arah; dihantam badai dan ombak.  Di dalam kapal, para awak terserang penyakit. Makanan menipis. Dari 200an orang yang ikut berlayar dari Netherland, hanya 15 orang yang sampai di tujuan.

Kapal-kapal Belanda lain yang menyusul berlayar ke Nusantara mengalami hal yang kurang lebih sama. Banyak yang lebih buruk. Di tempat tujuan, mereka juga menghadapi perlawanan penduduk setempat. Tapi orang-orang Belanda itu terus bekerja dan berusaha dengan sangat keras; siap kehilangan apa saja. Keteguhan sikap, kekerasan hati, keuletan, bercampur menjadi satu kekuatan yang tak tertandingi oleh penduduk pribumi.

Pada suatu babakan waktu sejarah Nusantara, lahir generasi yang cerdas, ulet, rela mengorbankan apa saja untuk tujuan mulia mereka – kaum pergerakan. Orang-orang ini tak berhenti setelah ditangkap dan diasingkan Belanda. Mereka terus giat berjuang dan berbuat di tengah generasi Belanda yang sedang lemah karena dibuai kenikmatan hasil para pendahulunya. Kaum pergerakan berhasil mengalahkan rejim yang secara fisik lebih kuat, tapi secara mental bangkrut.

Generasi muda Indonesia zaman ini bisa belajar dari sajarah: berbuat dan berusaha lebih keras lah dari para petualang politik durhaka itu. Berwacana perlu terus. Tindakan nyata juga terus. Berkorban terus. Hari esok Indonesia akan cerah.

Dunia milik mereka yang berbuat.

2 comments on “Dunia milik mereka yang berbuat

  1. Tulisan-tulisannya cerdas , lugas dan progressif skali pak…. Saya suka..

  2. tidak ada yang instant atau tiba-tiba, semua berproses.
    bahkan keberuntungan pun, adalah hadiah dari kebaikan-kebaikan masa lalu yang telah dilakukan (menurut saya).

    siapa yang bekerja keras dia yang mendapatkan hasil.
    semakin intensif usahanya, semakin tinggi kemungkinan keberhasilannya.

    sangat setuju🙂 terimakasih atas tulisannya..

    catatan untuk saya agar melakukan apa yang bisa saya lakukan sebaik mungkin, sesegera mungkin dan cara yang benar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: