Tinggalkan komentar

Melihat jejak

Kafil Yamin

Di bidang lingkungan hidup sekarang ini, tersedia fasilitas untuk menghitung ‘jejak karbon’  [carbon footprint].

Fasilitas ini disediakan bagi mereka yang peduli terhadap kelestarian alam dan ingin mengganti buangan karbondioksida yang mereka timbulkan dengan sejumlah uang. Uang itu akan digunakan untuk proyek-proyek pengurangan emisi CO₂.

Industri maupun individu, sama-sama menghasilkan karbondioksida dalam kegiatannya sehari-hari. Dan karena sekarang ini tumpukan CO₂ di atmosfir sudah melewati ambang wajar, maka harus dikurangi. Yang sekarang saja sudah menimbulkan berbagai dampak merusak: mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu, suhu yang ekstrim, dan berbagai bencana alam.

Industri jelas menghasilkan emisi terbesar, yang pada gilirannya menimbulkan efek Gas Rumah Kaca [GRK]. Dalam skala lebih kecil, individu pun demikian. Tumpukan CO₂ di atmosfer itu menahan pantulan sinar matahari dari bumi, bahkan membalikkannya lagi ke bumi. Walhasil, bumi jadi semakin panas.

Saking panasnya, ‘mesin pendingin udara alam’ berupa hampar es di antartika, bukannya mendingankan suhu bumi, tapi malah mencair. Airnya mengalir ke lautan, permukaan laut jadi naik. Pada saat yang sama, suhu panas mepercepat perputaran angin. Angin itu menyapu permukaan air laut yang naik tadi, jadi lah ombak dan badai yang menghantam daratan.

Saking tingginya, badai gelombang luat iut masuk ke bagian terdalam daratan, jadilah banjir dan seterusnya.

Perubahan perilaku pada individu bisa sangat membantu pengurangan buangan karbondioksida dan penanggulangan perubahan iklim itu.

Anda pergi ke kantor, bawa kendaraan sendiri atau naik angkutan umum, kendaraan yang anda tumpangi membuang karbondioksida selama perjalanannya. Anda menyalakan komputer, pendingin ruangan, makan, menyalakan teve, semuanya berujung pada buangan zat asam arang ke udara. Pendeknya, setiap anda bersumbangsih pada buangan karbondioksida. Semakin besar konsumsi anda, semakin besar sumbangsih karbondioksida itu. Oleh karena itu, gayahidup hemat sekarang sangat dianjurkan.

Nah, untuk mengetahui pada kisaran berapa buangan zat asam arang anda tiap hari, tiap bulan, sekarang tidak sulit: tersedia mesin penghitung karbon, gratis. Kunjungi: http://www.iesr-indonesia.org/carboncalculator/calculator.php

Berapa jumlah karbondioksida yang anda hasilkan bisa didapat dari jumlah dan jenis makanan anda, kendaraan yang anda pakai, jarak perjalanan yang anda tempuh – perhari. Dengan memasukkan data-data konsumsi anda kedalam perangkat lunak penghitung karbon, anda akan mengetahui berapa limbah udara yang sudah anda hasilkan. Semakin anda boros, semakin banyak anda menghasilkan limbah udara. Cobalah anda mulai menghitung limbah udara yang anda hasilkan dengan mesin penghitung ini: http://www.iesr-indonesia.org/carboncalculator/calculator.php

Setelah melihat hasilnya, anda bisa menilai sendiri apakah anda seorang penghasil limbah udara kelas kecil, menengah, atau atas [besar].

Cari paling ampuh mengurangi buangan CO₂ adalah dengan mengurangi konsumsi atau berhemat. Terbukti, ujung-ujungnya dunia modern mengadopsi ajaran agama yang sejak awal memuliakan sikap hemat dan mengecam sikap boros sebagai ‘saudara setan’.

Jalan lain untuk mengurangi gas pemanas atmosfer itu adalah dengan ‘menebus’ jejak karbon anda. Bila anda menghasilkan sejumlah CO₂, anda bisa menetralisirnya dengan tindakan tertentu yang menghasilkan oksigen atau menahan CO₂ itu. Kalau tindakan menanam pohon cukup merepotkan, anda bisa membayar sejumlah uang yang akan digunakan untuk menetralisir buangan karbondioksida.

Beberapa situs organisasi lingkungan hidup, antara lain Conservation International [CO], WWF,  sekarang memasang mesin peghitung jejak karbon sekaligus berapa jumlah uang yang bisa anda bayarkan untuk menebus jejak karbon anda itu. Kunjungi situs mereka, hitung jejak karbon anda, lihat berapa jumlah uang yang layak anda bayarkan untuk menebus jejak karbon anda. Dukunglah mereka dengan membayar jumlah itu.

Uang yang anda bayarkan itu akan dipergukan untuk proyek-proyek penanaman pohon dan pelestarian alam. Anda pun bisa menelusuri kemana dan digunakan untuk proyek pelestarian yang mana uang anda tersebut.

Demikianlah, setiap orang meninggalkan jejak dalam hidupnya. Bila orang mulai menerapkan nilai kepada jejak-jejak itu, maka ada jejak baik dan jejak buruk. Ada jejak merusak dan jejak membangun. Ada jejak maslahat dan madharat.

Seiring dengan kemajuan zaman, manusia sekarang jauh lebih mudah melihat jejaknya sendiri. Oleh karena itu , seseorang mudah pula menilai dirinya sendiri apakah kehadirannya di muka lebih banyak bermanfaat atau mudharat. Lebih banyak memberi atau menerima. Lebih banyak menghasilkan atau menghabiskan. Dan seterusnya.

Menurut ajaran Islam, setiap manusia dicatat amal baik-buruknya dengan sangat teliti oleh malaikat rakib dan atidz. Tak barang satu tindakan, sesepele apa pun, yang luput dari catatan petugas Allah itu.

Bahkan di dunia nyata, dengan kemajuan teknologi informasi, jejak manusia lebih gampang ditelusur. Orang dengan mudah melihat dan menilai dirinya sendiri. Menurut logika, manusia modern mestinya lebih tahu diri.

Bila anda pengguna jejaring sosial Facebook atau twitter atau blog, misalnya, coba sekali-sekala anda kilas balik facebook anda selama setahun terakhir. Lihat status yang anda tulis, komentar anda kepada orang lain, tautan yang anda pasang, dan sebagainya. Di situ anda bisa melihat apakah anda lebih banyak menyebarkan kebaikan, kesia-siaan, atau keburukan? Apakah anda lebih banyak mengecam, meyinggung, menghujat atau memuliakan atau menyenangkan orang, atau sekedar iseng?

Jangan remehkan soal ini. Itu jejak kita di dunia maya. Citra tentang diri kita antara lain terbentuk di sana.

Atau, sekali-sekala kita merenung: dari orang-orang yang kita kenal, apakah saudara, teman, sahabat, kolega, apakah lebih banyak yang kita senangkan atau sakiti? Apakah lebih banyak kita buat gembira atau kecewa? Apakah kita lebih banyak memberi kepada mereka atau sebaliknya? Lebih banyak menerima kebaikan mereka?

Atau, kadang-kadang perlu juga kita ‘mengaudit’ diri kita masing-masing. Hari ini kita berumur berapa tahun, plus bulan plus hari. Dengan hitungan kasar, kita bisa menghitung berapa uang yang kita habiskan sejak akhil baligh sampai hari ini. Mungkin kita masih ingat zaman sekolah dulu bawa bekal uang berapa per hari, kali sekian tahun. Tambah pakaian yang entah setiap bulan atau dua bulan sekali kita beli. Tambah barang-barang keperluan yang kita beli. Tambah makanan: taruhlah kita sekali makan kita menghabiskan 300 gram nasi, sekian lauk pauk, kali tiga kali sehari. Tambah cemilan dan buah-buahan. Kali sekian tahun sampai hari ini.

Dari semua yang telah kita habiskan itu, lantas kita telah menghasilkan apa hari ini? Atau telah menjadi apa? Atau telah menjalankan peran apa? Sebandingkah dengan sumberdaya yang telah kita habiskan selama hidup kita?

Mungkin ada sebagian orang merasa sukses dengan memiliki kekayaan banyak dan jabatan tinggi. Namun hendaklah orang tersebut menghitung-hitung pula: apakah kekayaannya itu banyak bermanfaat buat orang lain dan lingkungan sekeliling atau untuk dirinya sendiri saja?

Kalau sebagian besar dari hartanya itu ia nikmati hanya untuk dirinya dan keluarganya, maka dengan sendirinya hartanya itu malah jadi beban yang harus dipertanggung jawab di hadapan Tuhan dan menjadi nilai keburukan, karena, bila hanya dinikmati sendiri, satu hal sudah pasti: harta banyak itu hanya sedikit sekali bermanfaat.

Tapi bila sebagian besar hartanya dinikmati orang lain, bermanfaat bagi makhluk lain dan lingkungan, maka hartanya itu akan menambah nilai kebaikan dirinya.

Ada pepatah yang bagus: Kaya itu bukan memiliki harta banyak, tapi memberi banyak.

Demikian pula dengan orang yang merasa sukses dengan menduduki jabatan dan kekuasaan tinggi. Nilainya bukan pada ketinggian jabatan dan kekuasaan, tapi kebermanfaatan darinya. Katakanlah seseorang jadi presiden, gubernur atau walikota. Bersyukurlah ia karena terpilih. Tapi jika kekuasaannya itu lebih banyak membuat masyarakat susah, kecewa, merusak nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat, maka kekuasaannya itu akan menjadi nilai minus buat dirinya.

Makin besar kekuasaan itu, makin memberatkan nilai keburukannya. Hal ini juga memperlihatkan keburukan berkuasa lama-lama. Semakin lama seseorang berkuasa, lebih banyak merugikan diri sendiri karena beban tanggung jawab dari kekuasaan itu jauh lebih besar dari kenikmatan yang disediakannya.

Pembatasan kekuasaan atas beberapa posisi penting dalam pemerintahan, dengan demikian, adalah suatu hal yang baik.

Maka janganlah berkecil hati mereka yang tak punya kekuasaan dan hanya menjadi anggota masyarakat biasa, anda terhindar dari nilai buruk seperti ini.

Sekarang ini tersedia perangkat lunak gratis yang bisa menghitung umur kita sampai hari ini sampai ke detik. Saya pernah memakainya dan merinding, ingat begitu banyak waktu yang disia-siakan. Coba kunjungi: http://www.convertunits.com, dan hitung berapa detik umur anda sampai hari ini. Lalu kira-kira lah dari sekian juta detik itu, anda pergunakan untuk apa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: