Tinggalkan komentar

Hai Rui

Teguh Setiawan, wartawan Republika

Prof Claudine Salmon mengatakan karya sastra Tionghoa pertama yang masuk ke Indonesia, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu, adalah Haij Soeij atau Hai Rui. Karya itu diterbitkan tahun 1882 dan mengalami cetak ulang beberapa kali.

Tidak ada penjelasan soal Haij Soeij atau Hai Rui. Leo Suryadinata, dalam makalah Cerita Silat (Tionghoa) di Indonesia: Tinjauan dan Renungan, juga tidak menjelaskan soal buku ini.

Eksplore sejenak di google.com, dan munculah sejumlah situs yang memberikan informasi soal Hai Rui. Kebanyakan pendek saja, paling-paling dua alinea. Ada juga yang panjang, dan agak menggembirakan.

Yang lebih menggembirakan adalah informasi soal Wu Han (hanyu pinyin: 吳晗), sejarawan yang memfokuskan diri ke era Dinasti Ming (hanyu pinyin:明). Ia menggunakan kisah Hai Rui untuk mengkritik keputusan Mao Zedong memecat Menteri Pertahanan Peng Dehuai (hanyu pinyin:彭德壞), setelah program Great Leap Forward yang dicanangkan Partai Komuis Cina gagal total.

Lord Bao Dari Selatan

Hai Rui (hanyu pinyin:海瑞) lahir di Qiongshan, 23 Januari 1514 dan meninggal di tempat yang sama 13 November 1587. Ia adalah pejabat Dinasti Ming paling legendaris dalam sejarah birokrasi Cina.

Situs history.cultural-china.com menulis Hai Rui lahir dari keluarga Muslim. Buyutnya menikahi wanita Arab, dan menjadi Muslim. Hai Rui dibesarkan ibunya, yang juga berasal dari keluarga Muslim, atau Hui.

Tidak ada cerita soal masa kecil Hai Rui. Yang pasti, sang ibu membentuk karakternya sebagai Muslim. Hai Rui memperkaya nurani-nya dengan membaca puisi-puisi klasik Cina dan Arab.

Ketika dewasa, Hai Rui gagal dalam ujian resmi untuk menjadi pegawai negeri. Ia tak putus asa, dan mencoba lagi sampai beberapa kali. Akibatnya, karier sebagai pegawai negeri baru dimulai tahun 1553 pada usia 39 tahun.

Hai Rui mengawali karier sebagai pegawai pendidikan di propinsi Fujian. Di sini, dia membangun reputasinya sebagai birokrat bersih dan nyaris tanpa cacat. Ia tak kenal kata kompromi terhadap semua tindak korupsi: suap, gratifikasi, dan manipulasi. Reputasi inilah yang membuatnya dipercaya menduduki posisi penting di kantor pajak bumi dan bangunan (PBB) Dinasti Ming.

Dari posisinya yang strategis, Hai Rui menjalankan dua fungsi; mengisi kas pemerintah lewat  pajak — tentu saja sesuai target — dan memperjuangkan petani yang kerap menjadi sapi perah petugas pajak korup —  sebagai akibat tidak adanya ketentuan baku pungutan pajak tanah. Pembelaannya terhadap petani diawali dengan menetapkan aturan baku pajak tanah. Ia juga menetapkan klasifikasi atas tanah kena dan tidak kena pajak, dan menginformasikannya secara luas kepada masyarakat.

Ia tak segan menjebloskan pengemplang pajak ke penjara, siapa pun tanpa kecuali. Akibatnya, selama menjabat kepala kantor PBB Dinasti Ming, banyak bangsawan, keluarga istana, dan pejabat penting, meringkuk di tahanan. Ia dipuja para petani, tapi nyawanya terancam setiap saat karena kian bejibunnya orang yang membenci.

Haji Rui memperlihatkan keberaniannya ketika melakukan impeachment terhadap Kaisar Jiajing pada 1656. Kaisar marah, menjebloskannya ke penjara, dan setahun kemudian memvonisnya dengan hukuman mati.  Namun, hukuman itu tidak pernah dilaksanakan karena Kaisar Jiajing meninggal sebelum waktu eksekusi terhadap sang birokrat dijalankan..

Kaisar Longqing mengangkatnya kembali pada 1570, tapi Hai Rui dipaksa mengundurkan diri ketika kelompok birokrat yang tak menghendakinya kembali melancarkan fitnah lewat isu kepemilikan atas tanah.

Dia pensiun dan selama 15 tahun tinggal di Hainan. Kaisar Wanli membawanya ke Nanjing. Dua tahun kemudian Hai Rui mengembuskan napas terakhir. Ia dikenang siapa pun yang mengaguminya sebagai Lord Bao dari Selatan. Bao mengacu pada Hakim Bao, yang terkenal jujur, tegas, dan kebal suap.

Pemicu Revolusi Kebudayaan

Lebih 450 tahun setelah kematiannya, Hai Rui hidup seolah hidup kembali, lengkap dengan semua reputasinya yang melegenda. Adalah Wu Han, sejarawan Partai Komunis Cina (PKC), yang mengangkat kisahnya ke dalam artikel berjudul Hai Rui Dipecat Dari Jabatannya.

Artikel dimuat koran resmi PKC dan dibaca jutaan orang. Wu Han tak keberatan ketika artikelnya diadaptasi ke dalam opera, dan dipentaskan kali pertama tahun 1961.

Di atas panggung, kisah Hai Rui menjadi tragedi. Hai Rui yang jujur membawa keluhan rakyat ke hadapan kaisar dengan mempertaruhkan kariernya. Opera ini memotret Hai Rui sebagai birokrat yang efisien. Ia meminta nasehat kepada kaisar, tapi juga secara langsung mengkritik orang nomor satu di Cina karena membiarkan korupsi dan pelanggaran hukum di kalangan pejabat istana. Kaisar marah, dan memcat Hai.

Mao Zedong awalnya memuji opera itu. Setelah kritikus menuliskan interpretasinya, Mao berang bukan main. Hai Rui Dipecat Dari Jabatannya adalah kritik alegoris terhadap tindakan Ketua Mao memecat Peng Dehuai.

“Peng adalah Hai Rui, dan Mao adalah Kaisar Ming,” tulis seorang kritikus. Peng, dalam sebuah surat yang dikirim ke Mao, menulis; “Saya ingin menjadi Hai Rui, dan siap kembali ke politik.”

Pada 10 November 1965, Yao Wenyuan — salah seoang Maoist Radikal — mempublikasikan artikel bertajuk A Criticism of the Historical Drama Hai Rui Dismissed From Office (hanyu pinyin:评新编历史剧《海瑞罢). Yao menyebut Peng sebagai tokoh simpatik. Namun, demikian Yao menulis, drama itu adalah serangan terhadap Ketua Mao, sesuatu yang tidak bida ditolerir.

Artikel inilah yang disebut-sebut memicu Revolusi Kebudayaan. Wu Han menjadi korban pertamanya. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara tanpa proses hukum, dan meninggal di balik jeruji besi tahun 1969.

Maoist Radikal menggunakan kritik atas drama itu untuk menyerang lawan-lawan politiknya dari kelompok sayap kanan di tubuh PKC. Di Qiongshan, Propinsi Hainan, Maoist Radikal menghancurkan makam Hai Rui.

Tahun 1979, nama Wu Han direhabilitasi, dan makam Hai Rui di Qiongshan dibangun kembali.

Hai Rui adalah ironi. Ia adalah legenda, dipuja, dan menjadi idola. Ia menginspirasi jutaan orang. Namun jangan pernah menggunakan kisahnya untuk mengkritik rejim penguasa, karena hanya akan menuai bencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: