Tinggalkan komentar

Pendidikan Rakyat [2 Habis]

Kafil Yamin

SEMAKIN banyak anak-anak desa menikmati pendidikan modern, semakin banyak pula wilayah pedesaan yang menjadi kawasan pinggiran – kota bukan, kampung bukan.

Ciri utama kawasan pinggiran adalah generasi mudanya yang anomia. Mereka tidak termasuk kepada sumberdaya potensial, berketrampilan dan produktif. Karena itu, umumnya mereka masuk ke industri padat karya yang rawan guncangan ekonomi, seperti pabrik-pabrik tekstil, pabrik kemasan minuman, dan sejenisnya.

Bila karena suatu dan lain hal anak-anak di dunia modern putus sekolah, misalnya terputus di tingkat SLTP, bisa dipastikan ia menjadi kelompok anomali: angkatan kerja bukan, sumberdaya produktif bukan, generasi terididik bukan.

Bila terputus pada tingkat SMA, ia akan menjadi ‘angkatan kerja rendahan’. Bila terputus saat kuliah, ia akan menjadi ‘penganggur intelektual’.

Supaya agak ‘ngilmiah’, saya ambil kasus sebuah kawasan di dekat sekolah kita dulu, yakni kawasan Cijerah.

Dulu, semasa saya nyantri di sana tahun 70-80an, Cijerah adalah kawasan pertanian yang subur. Ia sekaligus basis pendidikan Islam asli, yakni pesantren. Cijerah adalah salah satu lumbung padi di kabupaten Bandung. Sawah-sawah dan kebun menyajikan kesuburan dan kemakmuran rakyatnya. Menara-menara mesjid yang menggemakan adzan lima kali sehari, dan melepas nada-nada puja-puji atas Allah dan Rasul-Nya saban petang, seakan memakzulkan hidup bertabur anugrah dan penuh berkah.

Bila malam menjelang, orang bisa merasakan suasana adem tentrem kadinyo siniram banyu wayu sewindhu lawashe.

Generasi muda Cijerah waktu itu bisa diungkapkan dalam tiga atribut: santri, petani dan niagawan.

Hari ini, bila kita lewat ke sepanjang kampung dan jalan-jalan di Cijerah, kita tidak akan menjumpai generasi muda seperti itu lagi. Yang kita liat adalah berbaris-baris anak muda, laki dan perempuan, berseragam karyawan pabrik tekstil memadati jalan-jalan: pagi, siang, sore, malam.

Sawah dan kebun sudah berubah sama sekali menjadi pabrik-pabrik bercorobong asap yang menyemburkan zat pencemar setiap detik. Sungai dan kali tempat mencuci, mandi, pelesir dan memancing kini jadi buangan limbah yang menyengat hidung, memualkan perut dan menyesakkan paru-paru.

Gema adzan, dzikir, dan puji-pujian sudah ditenggelamkan oleh deru mesin pencelup dan pemintal tekstil. Generasi pemuda yang dulu petani, santri dan petarung silat kini adalah buruh pabrik atau nakhoda ojeg.

Dulu semua warga berlimpah air bersih. Sumur-sumur di rumah lebih dari cukup, belum di tambah air bening di sungai dan kali. Kini kebanyakan penduduk Cijerah harus antri untuk medapat air bersih, belas kasihan dari pabrik-pabrik yang menongolkan sekedar dua-tiga kran dari dinding pabrik mereka.

Wilayah Cijerah menjadi kawasan pinggiran. Masyarakat yang dulu mandiri kini menjadi masyarakat yang berketergantungan, terutama generasi mudanya.

Apakah masyarakat Cijerah membutuhkan tekstil? Tidak. Apakah masyarakat Cijerah mendapat berkah dari ekspor tekstil? Tidak [Semua hasil produksi tekstil pabrik-pabrik itu adalah untuk ekspor]. Apakah masyarakat mendapat madharat dari kehadiran pabrik-pabrik tekstil? Iya. Madharat itu adalah hilangnya sawah dan kebun, hilangnya ikan di sungai, hilangnya air bersih. Kini masyarakat Cijerah harus membeli air bersih.

Pendidikan modern tidak memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Ia memenuhi kebutuhan industri. Industri mana? Industri yang membunuh masyarakat secara perlahan-lahan. Pendidikan modern melemahkan anak-anak pedesaan.

Kelebihan muatan

Praktik pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia ibarat mobil angkutan yang nakal dan polisi yang korup. Sudah jelas menurut KIR kendaraan kapasitas angkutan adalah maksimal 150 kuintal. Tapi karena ingin dapat muatan, barang lebih berat dari itu diangkut juga. Akhirnya mobil jalan terseok-seok, mogok dan tak sampai tujuan. Mobil rusak pula.

Barang-barang yang jejalkan harus dibawa itu adalah mata pelajaran, yang ternyata tak begitu penting. Dan kalau pun penting, bisa didapatkan dengan mudah di perjalanan. Amati orang desa yang mau bepergian, sampai peniti dan pete dibawa.

 

Kurang terkait dengan kebutuhan setempat

Perhatikan definisi pendidikan dasar nasional: “..mengembangkan sikap dan kemampuan serta pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. “

Untuk ini, semua anak SD harus mempelajari mata pelajaran berikut:

  1. Matematika 2a
  2. Matematika 2b
  3. Pendidikan Agama Islam
  4. Kewarganegaraan
  5. Bahasa Indonesia
  6. Bahasa Inggris
  7. IPA
  8. IPS 2a
  9. IPS 2b
  10. Tematik

Tak pernah dipertanyakan, kenapa bahasa Inggris menjadi ‘pengetahuan dan ketrampilan dasar’ di sekolah-sekoleh pedesaan. Kenapa tak ada biologi dasar yang lebih relevan dengan masyarakat pedesaan. Biologi memberikan informasi tentang sifat-sifat tanaman dan hewan.

Lanjut ke SLTP, atau kelas 7,8,9, sekolah dasar. Anak-anak menerima pelajaran sbb:

Geografi

Ekonomi ,

Matematika

Pkn

Biologi

Bahasa Inggris

Sejarah

IPA terpadu

IPA Fisika Bahasa Indonesia

IPA Kimia

Sosiologi

Teknologi Informasi dan Komunikasi TIK

Pendidikan Seni Budaya

Pendidikan Agama Islam (PAI)

IPS Terpadu

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Beban pelajaran sangat berat buat anak umur 12-13 tahun. Dan sepertinya dibuat rumit. Ada IPA Fisika, IPA Kimia, dan IPA Terpadu! Ada sosiologi, ada sejarah, ada ekonomi dan ada IPS Terpadu. IPS itu singkatan dari Ilmu Pengetahuan Sosial, tercakup kepada bidang ini adalah sosiologi, ekonomi, sejarah. Jadi bila semua ilmu ini dipadukan, jadilah IPS Terpadu. Tapi di sekolah kita, masing-masing tetap di pisah dan IPS Terpadu tetap ada.

Yang sangat mengherankan, tidak ada pengetahuan dan teknik dasar pertanian, teknologi pedesaan, atau sejarah setempat.

KBK

Mungkin negara kita ditakdirkan untuk selalu telat. Setelah kawasan-kawasan pedesaan menjadi daerah marjinal; setelah wilayah-wilayah pertanian menjadi daerah minim, muncullah Kurikulum Berbasis Kompetensi [KBK].

Konsep ini lahir tahun 2004 sebagai tanggapan terhadap tuntuta reformasi. Seiring dengan kelahirannya adalah UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, dan Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan nasional.

KBK memandang proses pembelajaran sebnbagai wilayah otoritas guru. Yang penting, peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Sayangnya, apa yang dimaksud kompetensi ini belum jeas benar. KBK hanya menjelaskan bahhwa kompentensi adalah perpaduan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang terungkap cara berpikir dan bertindak.

Tapi intinya adalah kompetensi yang merujuk kepada keunggulan daerah di mana sekolah itu berada. Dan ini lah yang menjadi masalah. Daerah-daerah yang dulu punya keunggulan itu sudah menjadi lemah. Karena itu mencari ‘keunggulan’ daerah setempat nyaris merupakan pekerjaan sia-sia. Hanya satu dua daerah saja yang masih menyimpan keunggulan. Selebihnya, adalah kelemahan dan kekurangan.

Gejala ini ibarat kecenderungan dalam bidang lingkungan. Organisasi-organisasi internasional sekarang rame-rame mempromosikan apa yang disebut local wisdom, yakni tradisi, pengetahuan dan nilai-nilai masyarakat adat karena mereka dipandang lebih peduli dan memiliki kearifan untuk memelihara kelestarian alam.

Sebelumnya, mereka dianggap sebagai kelompok masyarakat terbelakang yang perlu diberadabkan.

Namun ketika organisasi-organisasi internasional itu memuji-memuji dan mempromosikan budaya lokal, masyarakat adat ternyata sudah beruah menjadi lebih materialistis. Orang Dayak masih menebang kayu di hutan seperti abad lalu, tapi niatnya sudah berbeda. Kalau dulu menebang kayu untuk membangun rumah dan kayu yang diambil tak lebih dari satu batang pohon, kini mereka menebang kayu untuk dijual kepada cukong dan kayu yang diambil ratusan meter kubik.

Masyarakt adat Mentawai masih memelihara tempat-tempat keramat dalam hutan, tapi niat memeliharanya untuk mendapatkan uang banyak. Bila ada pemodal luar berminat terhdap tepat keramat itu, mereka akan lepas dengan harga tinggi karena itu tempat keramat.

Kurikulum Berbasis Inkompetensi [KBI]

KBK mengalami hal yang sama. Kecele. Dikira daerah-daerah di Indonesia masih memilik keunggulan khas [comparative advantage] seperti 6 dekade lalu. Tidak. Lagi pula, desa-desa sekarang sudah semakin beroritentasi ke kota – dala segala hal.

KBK hanya cocok diterapkan pada masyarakat yang memang punya keunggulan dan mandiri, seperti masyarakat Baduy, yang telah diurai dalam tulisan terdahulu.

Daerah-daerah malah mengalami  incomparative advantage, alias tak punya keunggulan apa-apa. Yang ada adalah kelemahan dan kekurangan. Karena itu, yang cocok sekarang bukan KBK, melainkan KBI [Kurikulum Berbasis Inkompetensi] alias berbasis ketidakmampuan. Jadi, hal-hal yang kurang pada masyarakat dipenuhi oleh pendidikan. Pendidikan tak bisa mepromosikan keunggulan daerah setempat karena memang sudah tidak ada, melainkan menutupi kekurangan daerah tersebut.

Sekolah Masyarakat

Mungkin yang diperlukan sekarang adalah sekolah yang berorientasi penuh kepada kehidupan masyarakat. Dalam ilmu pendidikan ini biasa disebut ‘sekolah masyarakat’ [Community school].

Sekolah semacam ini mengacu kepada masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti kelestarian alam dan keutuhan sumber-sumber daya alam setempat, sumberdaya manusia, kesehatan, atau perniagaan desa.

Dalam kurikulim ini, anak dididik untuk telibat dalam kegiatan masyarakat. Pembelajaran mengutamakan kerja-kelompok dan perencanaan bersama. Peserta didik mempelajari lingkungan sosial setempat untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dapat dijadikan pokok bahasan suatu pelajaran.

Untuk kepentingan ini, sekolah pun melibatkan masyarakat. Tokoh-tokoh dari setiap bidang, seperti bidang usaha, pemerintahan, agama, politik dan sebagainya dijadikan konsultan dan mitra sekolah. Dengan demikian, masyarakat merasa memiliki sekolah dan sebaliknya, sekolah melayani masyarakat.

Sekarang, kurikulum sekolah lebih mirip mall di kampung yang menjual barang-arang impor, produk-produk masyarakat setempat tak bisa masuk. Sekolah kita mengimpor pengetahuan dari luar, dan nyaris tak menggunakan sumber-sumber pegetahuan dalam masyarakat.

Sekolah yang banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberi kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensi masyarakat yang orisinil. Anak-anak melihat hubungan pelajaran sekolah dengan kehidupan nyata, dan karena itu mereka memahami masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya. Tidak akan terjadi migrasi anak-anak muda potensial di desa ke kota-kota untuk mengejar mimpi jadi eksektif atau pesohor. Tapi kehilangan manfaat bagi masyarakat yang melahirkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: