1 Komentar

Membeli tak butuh, makan tak lapar

SEWAKTU pulang dari sebuah acara reuni di Purwakarta, saya naik bus menuju Bogor. Sebelum masuk tol Cikampek, bus ngetem dulu di beberapa penghentian. Taulah, di setiap penghentian itu, para pedagang asongan naik turun bergiliran, dengan barang yang itu-itu juga: tahu, kacang, minuman botol, jeruk.

Saya tentu tidak berselera. Malamnya melepasliarkan nafsu makan, nyikat udang dan bawal bakar di tempat reuni. Paginya diajak dulu pelesir ke Jatiluhur oleh beberapa sahabat. Sempat menyantap soto ayam.

Jadi, tak terpikir sama sekali untuk membeli cemilan. Lagi pula saya makhluk yang tak suka ngemil.

Bus belum penuh, masih banyak tempat duduk yang tak terisi. Terlihat lelah dan lesu, seorang kakek, saya kira 65 tahunan, duduk di kursi penumpang, mungkin untuk sekedar melonggarkan otot kaki.

Hari sedang terik. Saya membayangkan si kakek sudah berjualan sejak pagi. Hasilnya sudah berapa, entahlah. Tapi saya bisa mengira-ngira. Rangkaian tahu goreng dan kacang berbungkus plastik yang ditentengnya masih banyak. Paling baru laku empat-lima bungkus.

Dia duduk di depan sebelah kanan saya. Terlihat kepalanya mengangguk-ngangguk — mengantuk kecapaian. Bungkusan tahunya terlihat berembun, petunjuk bahwa bungkusan tahu itu sudah agak lama. Mungkin sudah tiga harian. Orang yang tau petunjuk itu mana mau beli?

Apalagi saya, perut sudah kenyang dan tau kalau makan tahu itu sama saja mengundang penyakit.

Tapi pikiran saya terus muter: kalau tak ada yang beli, atau yang beli cuma satu-dua, si kakek tak dapat rejeki, pasti sekedar untuk bisa makan. Tarolah dagangan itu miliknya. Tapi saya yakin dia cuma menjualkan. Paling-paling dia dikasih sekian ratus perak dari setiap bungkus yang terjual. Harga perbungkus 2 ribu rupiah. Katakanlah dari satu bungkus dia mendapat 5 ratus rupiah. Hitungan cepat saya, sampai siang ini paling-paling dia dapat 5 ribu rupiah. Untuk dia sendiri saja tidak cukup, apalagi kalo ada tanggungan di rumah.

“Saya harus beli!” pikir saya. “Membeli tak selalu harus didorong kebutuhan. Sekali-kali membeli dengan niat beramal, kenapa rupanya.”

“Tapi kalo orang berpikir begitu hukum perdagangan jadi tak berlaku. Hukum dagang kan berdasarkan kualitas barang dan kelayakan harga,” pikir saya lagi.

“Halah, hukum dagang kan buatan manusia. Kenapa sih. Hidup tak selalu harus pake hukum dagang. Saya harus beli!” pikiran saya selanjutnya. Dan saya pun membeli dua bungkus tahu dan sebungkus kacang dari si kakek tersebut.

Saya perhatikan bungkus plastiknya berembun. Pasti sudah basi. Saya buka, ada aroma apek sedikit memang. Tambah menjauhkan selera makan.

“Ah, buang saja tanpa setau si kakek,” pikir saya lagi.

Tapi, pikiran saya juga yang menyanggah: “Kalau beli cuma untuk dibuang, bodoh amat engkau, sekaligus kemubadziran, pemborosan yang keterlaluan.”

“Tapi kalau dimakan sama saja mengundang penyakit. Perbuatan tidak baik juga kan?” pikiran saya juga yang sama mendebat.

“Kalau engkau menggap pembelian tadi itu amal baik dan engkau melakukannyha karena Allah, mengapa takut? “ Bismillah…mam tahu agak basi itu masuk ke  mulut. Rasa asem-asem saya ak pedulikan, anggap saja sedang terjadi proses fermentasi dalam mulut.

Alhamdulillah sampai detik ini tak pernah mules. Sehat wal-afiat.

***

TADI siang hujan deras. Saya bertedu di sebuah emper ruko. Ada penjual soto babat pikul. Dia berteduh karena hujan begitu derasnya.

Saya duga ia sudah berjalan cukup jauh memikul soto babat itu. Hari itu hujan turun sejak pagi, berselang reda beberapa menit, hujan lagi karena itu dagannya masih banyak. Atau mungkin juga karena soto babatnya kurang memuaskan selera pembeli. Ketika dia berteduh itu pun, tak ada pembeli. Tak ada orang. Cuma saya.

Dengan pikiran seperti di bus tadi, saya membeli.

Benar saja. Di samping berbau, ada aroma basi-basinya. Terpikir untuk pura-pura menjauh dan membuangnya.

“Tidak! Habiskan! Laa haula wa quwwata illa billah,” demikian dorongan dari dalam diri.

Soto pun habis. Dan sampai detik ini sehat-sehat saja. Pasti karena lindungan Allah.

Tentu, kalau pun saya ternyata mules-mules dan sakit, saya harus ikhlas menerimanya.

Sekali-kali, atau sering pun taka pa, kita perlu melakukan sesuatu bukan karena ‘saya perlu’, tapi karena ‘dia atau mereka perlu’.

One comment on “Membeli tak butuh, makan tak lapar

  1. Tulisan yang menggugah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: