Tinggalkan komentar

Subsidi fiktif

HAMPIR semua politisi, aktifis, pengamat, pejabat rajin mengucapkan kata ‘subsidi’. Dalam konteks pembicaraan tentang harga barang-barang kebutuhan, mereka memahami subsidi sebagai bantuan pemerintah untuk menjaga agar harga-harga kebutuhan tetap rendah dan terjangkau masyarakat.

Tapi bila ditanya: dalam bentuk apa bantuan itu? [BLT dikecualikan], tak gampang menjawabnya. Paling orang hanya bisa bercerita: harga minyak dunia, misalnya, 1 dolar AS per liter. Di Indonesia, harganya Rp5000 per liter. Dengan asumsi kurs dolar terhadap rupiah Rp9000, maka selisih Rp4000 itu lah subsidi BBM.

Tarohlah anggapan ini benar. Terus bagaimana praktik pemberian subsidi itu? Apakah pemerintah membeli premium dari Pertamina Rp9000 per liter lalu dijual kepada masyarakat Rp5000 per liter? Badan pemerintah mana yang membeli? Dan badan Pemerintah mana yang menjual?

Yang kita tau, Pertamina lah yang menjual BBM kepada masyarakat. Dia juga yang menyedot minyak bumi dari cadangan minyak miliknya sendiri, menyulingnya, lalu menjualnya kepada masyarakat. Nah, subsidi Pemerintah yang diomong-omongkan itu masuk di mana?

Ada subsidi Pemerintah dalam BBM BILA pemerintah memberikan bantuan dana tunai untuk biaya produksi Pertamina, sehingga Pertamina bisa menetapkan harga ‘murah’ Rp5000 untuk premium, misalnya. Tapi, tanya kepada para direktur Pertamina sejak perusahaan ini berdiri sampai detik ini: pernahkah Pemerintah memberi bantuan dana semacam itu? Tidak. Yang terjadi justru sebaliknya: Pertamina menyetor secara rutin ke kas Pemerintah.

Menurut definisi kamus manapun, itu bukan subsidi. Lantas apa? Ya penetapan harga domestik saja. Harga dalam negeri. Lebih gampang difahami, bukan? Kita memang senang mengumbar istilah yang kita cuma dengar-dengar tapi tak kita fahami betul. Seperti itu lah para politisi, pejabat, pengamat karbitan.

Harga satu sak semen di Papua Rp400 ribu. Di pulau Jawa Rp55.000. Fakta ini tak boleh menjadikan orang beranggapan bahwa orang Jawa memperoleh subsidi semen Rp345.000. Bisa gawat urusan.

Tapi selama hampir lima dekade kita dibodohi bahwa karena harga minyak di dunia lebih tinggi dari harga dalam negeri, maka rakyat Indonesia memperoleh susidi BBM. Kita pun percaya bahwa PLN, perusahaan yang memegang monopoli penuh layananan listrik, merugi tiap tahun karena subsidi.

Dengan merujuk kepada pengertian subsidi yang sebenarnya, maka rakyat Indonesia tak pernah mendapat subsidi  dalam hal listrik dan BBM. Pangan bisa dikecualikan. Zaman Soeharto, Bulog [waktu itu belum jadi Perum] biasa mengimpor beras, tepung terigu dan gula untuk mencegah fluktuasi harga dalam negeri. Tapi praktik seperti ini sudah hilang sejak zaman Reformasi.

Memang, ada perisitiwa tertentu Pemerintah memberikan subsidi. Misalnya, tahun 2000 saat krisis moneter sedang parah-parahnya, dan rakyat kesulitan pangan. Pemerintah lantas membeli beras, gula dan kedele – melalui Bulog – dari luar negeri maupun dari pengusaha dalam negeri, lalu menjualnya kepada masyarakat dengan harga di bawah harga pasar. Ini baru subsidi. Tapi kasus seperti ini jarang terjadi, dan hanya sebentar.

Tindakan pemerintah merekapitalisasi perbankan dulu, ketika-ketika bank-bank mengalami krisis likuiditas, bisa dikategorikan sebagai subsidi. Dan ini subsidi nyata kepada para pengusaha besar yang melarikan duit rakyat dan negara sekaligus – yang sampai hari ini duitnya amblas entah kemana.

Ketika menaikan harga BBM dulu, mBak Megawati mengucapkan alasan dengan kata-kata yang masih ingat: ‘Rakyat telah dininabobokan oleh subsidi’. Entah dia mengerti persoalan atau tidak ketika mengucapkan kata-kata itu. Sebab, yang benar, ‘rakyat telah dininabobokan oleh kebohongan’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: