Tinggalkan komentar

Matahari sudah di Timur

Oleh: Kafil Yamin

TAHUN 2000 lalu, penduduk dunia tercatat sekitar 6 miliar manusia. Satu miliar berada di negara-negara kaya [Eropa dan Amerika] dan sisanya – 5 miliar – berada di negara berkembang, terutama Asia.

Satu miliar penghuni negara-negara kaya itu berpendapatan 80persen dari pendapatan dunia keseluruhan. Dan yang 6 miliar di negara berkembang hanya berpenghasilan 20persen pendapatan dunia.

Hingga sekarang ini, dalam struktur ekonomi dunia, ada 1,5 miliar manusia yang tergolong kelas menengah, ditandai dengan pendapatan 10 sampai 100 dolar per minggu. Satu miliar kelas menengah itu adalah penghuni negara-negara kaya, dan sisanya 500 juta adalah penghuni negara berkembang.

Dalam hal konsumsi, AS menghabiskan 10 trilyun dolar per tahun, Eropa 9 trilyun dolar, negara-negara dunia ketiga antara 4-5 trilyun dolar.

Angka-angka di atas dirangkum dari Laporan Bank Dunia tahun 2000 sampai 2006.

Komposisi ini akan segera berubah.

Tahun 2050, penduduk dunia akan mencapai 9 miliar, atau bertambah 3 miliar dari tahun 2000. Dari tiga miliar tambahan itu, 100 juta akan menambah penduduk negara-negara maju, dan 2,9 miliar akan menambah penduduk  negara-negara berkembang. Jadi perbandingannya akan: 1,1 miliar penduduk negara maju dan 7,9 miliar penduduk negara-negara berkembang.

Komposisi penduduk ini membawa pergeseran besar pada struktur ekonomi dan pendapatan.  Tahun 2050 itu, 7,9 miliar manusia di negara berkembang akan memperoleh 65persen pendapatan dunia, dan 1,1 miliar manusia di negara maju akan memperoleh sisanya – 35persen.

Perubahan rasio pendapatan ini antara lain disebabkan teknologi informasi yang memungkinkan berbagai inovasi dan percepatan pembangunan di negara berkembang.

Karena dinamika dan keampuhan sistem ekonominya, China dan India akan menghasilkan 50persen dari Produk Domestik Bruto [GDP] dunia. Sedangkan pendapatan mereka akan berkisar 40 sampai 50 ribu dolar AS per tahun. Penduduk Afrika akan berpendapatan sekitar 2.000 sampai 3.000 dolar AS per tahun. Sementara itu, penduduk negara maju akan berpendapatan 90 sampai 100 ribu dolar per tahun. Ini prediksi mantan Presiden Bank Dunia 1995-2000, John D. Wolfenshon.

Tapi pendapatan  perkapita China, India dan Afrika akan terus menaik, sementara pendapatan perkapita negara maju akan menurun. Penurunan pendapatan perkapita negara maju sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir.

Tahun 2030, jumlah kelas menengah di dunia akan berkisar 3 miliar. Dua miliar dari mereka adalah kelas menengah di Asia. Sedangkan kelas menengah di negara maju tak berbeda dengan sekarang – 1 milyar. Dari dua miliar kelas menangah Asia, satu miliar akan berada di China. Mereka ini bukan sekedar penggerak ekonomi negara, tapi para penerobos ‘edan’ perkonomian dunia yang sekarang lesu. Apa yang mereka sedang lakukan? Mereka mengalihkan pasar dan investasi ke Afrika. China membangun zona perdagangan bebas dengan Nigeria, Likke Free Trade Zone, seluas 16 ribu hektar, yang sekarang sudah rampung. Perusahaan China menggunakan kawasan itu untuk pusat manufaktur bagi seluruh benua Afrika. Benua itu bukan lagi wilayah terisolir.

Komunikasi di benua Afrika dan sub-Sahara sekarang berlangsung sangat cepat.

Benua Afrika sekarang ini berpenghuni 900 juta orang. Tahun 2050, wilayah itu akan berpenduduk 2 miliar.

Tahun 2006, untuk pertama kalinya, para pemimpin Afrika mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Beijing. Pada tahun yang sama, para pengusaha Afrika bertemu di New Delhi. Menurut Wolfenshon, di waktu-waktu yang akan datang, para pengusaha dan pemimpin Afrika, China dan India, tak lagi merasa perlu bertemu di negara Barat – Amerika atau Eropa.

Para petinggi Bank Dunia dan IMF memang sudah melihat perkembangan pesat ekonomi China, tapi untuk bisa mengambil alih supremasi ekonomi AS, mereka bilang masih lama – bisa 6-7 dekade ke depan. Tapi para pengamat ekonomi independen memperlihatkan bahwa kenyataannya sangat mencengangkan. Sekarang ini, tahun 2012, proses pengambil alihan itu tengah berlangsung. Dan tiga tahun lagi, 2016, China lah adikuasa ekonomi dunia.

Pendamping sang adikuasa baru itu adalah India.

Yang membuat AS dan Eropa memimpin perekonomian dunia selama ini adalah tiga hal: manufaktur, jasa dan teknologi. Industri manufaktur sudah duluan pindah ke Asia. Dalam jasa, Asia sekarang mulai mengambil alih Barat.

Teknologi? Tinggal amati proses penguasaan teknologi sekarang oleh Asia. Dan besok, pengalihan teknologi akan diselenggarakan secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tahun 2030, center of excellence teknologi sudah pindah markas ke Asia.

Apa langkah-langkah antisipasi negara maju sekarang? Mereka masih terhanyut oleh citra ‘negara maju’. Hanya segolongan kecil generasi muda AS, bisa dikecualikan. Mereka berjumlah 12.200 yang sedang belajar di universitas-universitas China dan 2.800 yang sedang belajar di India.

Jumlah mahasiswa China dan India yang belajar di universitas-univesitas AS semakin menurun. Sekarang, hanya ada 110.000 mahasiswa China dan sekitar 100.000 mahasiswa India yang belajar di AS.  Tuan Wolfonsen menyebut kelalaian AS seperti ini sebagai ‘madness’.

Tentu, lebih konyol lagi generasi muda Asia, terutama Indonesia, yang orientasi studinya masih ke Amerika atau Eropa.

Omong-omong, di mana posisi Indonesia nanti? Mungkin tuan-tuin bisa mengira-ngira sendiri. Indonesia sekarang ini berada di urutan ketiga setelah China dan India dalam kecepatan pertumbuhan ekonomi.  Maka jika hanya berpatokan pada tingkat pertumbuhan, pendamping China setelah India adalah Indonesia.

Tapi itu hanya dengan sejumlah BILA. Sebab, mengukur kemajuan satu negara hanya dari pertumbuhan ekonominya jadi terlalu menyederhanakan persoalan.

Apa sejumlah BILA itu? Antara lain:

  1. Komposisi kepemilikan, royalti perusahan asing yang mengeksploitas SDA Indonesia. Pemerintah  menjadi pemegang saham mayoritas – minimal 55persen.
  2. Orientasi perbankan diubah dari membiayai proyek-proyek properti dan konsumsi [gedung, apartemen dan kendaraan] ke pembiayaan produksi usaha menengah dan kecil.
  3. Suku bunga pinjaman untuk kegiatan produksi lebih rendah dari suku bunga pinjaman untuk konsumsi.
  4. Moratorium utang luar negeri sekaligus penjadwalan ulang pembayaran cicilan – ajukan skema nature to debt swap [pembayaran utang dengan pemeliharaan alam].
  5. Hentikan sementara pemekaran wilayah. Sebab banyak wilayah memisahkan diri hanya untuk mendapat alokasi anggaran sendiri. Pembiayan negara untuk birokrasi makin boros.

6,7 dan seterusnya, silahkan anda tambahkan sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: