Tinggalkan komentar

Cahaya pun menyala di lampu hati

Gambar

Sekarang bisa nonton Liga Champion

Oleh: Kafil Yamin

SEJAK bulan Januari lalu, malam-malam Cimonyong penuh kerlip cahaya. Jauh lebih kemilau dari sebelumnya, yang berkedip redup dari lampu cempor. Di beberapa titik, bahkan terlihat benderang.

Listrik PLN sudah masuk?

Ini pertanyaan sekaligus ungkapan kekagetan orang-orang di kawasan tersebut, karena selama ini PLN belum berhasil menembus kawasan terpencil itu. Maklum, Cimonyong, Kecamatan Naringgul, dikelilingi perbukitan curam dan hutan lindung.

Dan memang, listrik PLN belum masuk ke Cimonyong.

Tenaga listrik yang membuat lampu-lampu berkilau itu berasal dari pembangkit tenaga listrik berskala kecil yang disebut Pembangkit Tenaga Listrik Mikro Hidro [PLTMH].

Cimonyong beruntung karena diapit dua sungai besar: Cidaun dan Ciogong. Berkat kedua sungai inilah pertanian di sana mapan, sebab irigasi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan, menjadikan kedua sungai itu penyangga kehidupan utama di sana.

Dan sekarang, fungsi sangat penting sungai itu bertambah: sumber tenaga listrik. Arus sungai inilah yang dimanfaatkan PLTMH – sebuah kolaborasi ideal perusahaan-LSM-masyarakat.

Pembangkit listrik itu dibangun dengan dukungan dana dari PLN, teknik dan pengetahuan dari YPAL, tenaga dan keterampilan dari masyarakat setempat.

Yayasan Pribumi Alam Lestari [YPAL], yang belajar dari pengalaman membangun sejumlah PLTMH di tempat lain, kali ini menggunakan cara tersendiri. “Kami membagi PLTMH ini kedalam 10 unit kecil yang disebut piko-hidro. Unit-unit itu disebar ke 10 kampung. Satu kampung mendapt satu unit, dan masing-masing kampung itu mengelola pembangkit listriknya masing-masing,” jelas Ridwan Soleh, pengurus YPAL yang juga pelaksana proyek tersebut.

Dengan cara ini, pengorganisasian menjadi jauh lebih mudah dan sederhana. Hanya diperlukan beberapa orang untuk mebangun dan mengelola piko-hidro. Dan, peruntukan untuk kampung itu menimbulkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab kuat dalam mengerjakan dan mengelolanya.

“Warga yang ikut mengerjakan PLTMH ini tak terlalu berhitung upah, karena mereka merasa sedang membangun rumahnya sendiri,” kata Ridwan lagi.

Pada proyek PLTM-PLTMH sebelumnya, apalagi mendengar dukungan ‘dana dari luar’, orang bekerja untuk uang. “Kesannya, ini proyek,” kata Ridwan. Setelah selesai, orang-orang pulang merasa proyek sudah selesai. Dan turbin-turbin yang dibeli dengan harga puluhan sampai ratusan juta itu pun hanya terurus 2-3 bulan pertama, setelah itu terbengkalai dan tak sedikit yang jadi rongsokan.

Setiap unit pembangkit listrik di masing-masing kampung itu manghasilkan 1 Kwh. Sepuluh kampung yang mendapat pembangkit listrik skala kecil itu adalah Datar Patat, Tegal Lega, Nagrak, Cipeundeuy, Kampong Pojok, Lembur Tengah dan Datar Mala.

Dengan menghitung rata-rata satu kampung terdiri dari 10 sampai 15 rumah, maka satu rumah mendapat 50 watt. Tentu, ini kecil dibanding dengan di daerah perkotaan.

Karena itu, dalam lingkungan fisik dan ekonomi, dampak PTLMH tak begitu kentara. Namun tampilan wajah para penduduk sekarang tampak lain

“Ada semacam rasa bangga terhadap kampungnya sekarang. Sebelumnya tak terlihat,” kata Ridwan juga.

“Dulu sebelum ada PLTMH,  malu mengaku orang Cimonyong. Sekarang tidak , malah bangga karena Cimonyong sudah masuk TV ” Kata Taryana, seorang tokoh pemuda.

“Geus gaul atuh Cimonyong the ayeuna mah [Cimonyong sekarang sudah gaul dong] timpal Iwa , pemuda lainnya.

“Hati mereka senang, sehingga terpancar ke wajah-wajah mereka,” kata Ridwan.

Perubahan yang tak kurang pentingnya terjadi pada anggapan para eksekutif PLN. Selama ini, perusahan milik pemerintah tersebut  menghindari pelebaran jaringan ke wilayah beralam berat atau terpencil, karena pertimbangan biaya dan tenaga. “Setelah PLTMH Cimonyong berdiri, ternyata kami cukup mendorong dan membantu masyarakat membangun pembangkit listrik sendiri. Kami tidak capek dan biaya pun tak besar,” kata Hendra Saleh, Supervisor CSR PLN Jawa Barat-Banten.

Lebih dari itu, dampak paling penting adalah kebutuhan untuk menjaga sungai, daerah hulu dan hutan. Para pegiat lingkungan maupun Pemerintah tak perlu lagi terlalu banyak menyampaikan kuliah tentang pentingnya menjaga alam, semua warga sekarang merasakan langsung nilai penting sungai dan hutan.

Mereka tahu kalau sungai dan hutan rusak, maka kehadiran listrik di kampung mereka pun akan segera berakhir. Karena itu, sejak pendirian PTLMH, warga seluruh kampung langsung berbagi tugas menjaga sungai, hulu dan hutan.

“Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Kesepakatan spontan dan pelaksaan langsung,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Cimonyong adalah sebuah kawasan pemukiman di Kecamatan Naringgul, Cianjur Selatan. Karena terisolir oleh hutan dan pegunungan, penduduk kampung ini sangat sulit terlayani jaringan listrik PLN. Akses utama untuk mencapai kawasan ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, atau ojek yang telah terbiasa bermanufer di atas jalan bebatuan dan tanah —  melewati perbukitan dan lembah yang terjal.

Selama ini, penduduk hanya mengandalkan pasokan listrik dari pembangkit listrik kincir tradisional yang mereka buat sendiri, dengan kapasitas sangat jauh dari kelayakan, meski hanya untuk penerangan.

PLN mengucurkan sedikitnya Rp400 juta untuk proyek ini. YPAL memberikan teknik dan pengetahuan. Masyarakat menginvestasikan tenaga dan keahlian. Ketiga pihak inilah pemangku kepentingan [Stake holder] PTLMH Cimonyong.

Bio-gas

Di kawasan lain di Jawa Barat, komitmen PLN kepada tanggung jawan sosial bertemu dengan inisiatif masyarakat dan inovasi-inovasi yang sedang dikembangkan di bidang energi, pertanian, peternakan. Penduduk Kampung Cihurang, Desa Cijayana, Kabupaten Garut, sekaran sudah menikmati aliran listrik dalam waktu dan kapasitas terbatas.

Di tempat ini, aliran listrik bukan dari arus sungai, melainkan dari gas yang berasal dari kotoran sapi. Inovasi ini dikembangkan oleh Tim Livestock Bio-energy Conversion Program (LiBEC), Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Pun, Kampung Cihurang ditargetkan mejadi Desa Mandiri Energi. Setelah ini, PLN dan LiBEC akan menyebarkan inovasi ini ke wilayah-wilayah lain. Target berikutnya setelah Cihurang adalah Cidaun Cianjur.

Ir. Sondi Kuswaryan, M.S. , seorang anggota LiBEC, menjelaskan timnya bersama masyarakat akan segera membangun kandang ternak umum. Dengan kandang umum ini terjadi pemusatan limbah ternak sehingga memudahkan pengelolaan dan pemanfaatannya.

Kalau PLTMH meniscayakan pemeliharaan sungai dan hutan, maka bio-gas mengharuskan peternakan yang konsisten dan berkembang untuk menjaga pasokan kotoran ternak tetap stabil. Dengan demikian proyek ini secara langsung akan meningkatkan usaha peternakan dan pertanian.

Di Jawa Barat saja, menurut Hendra Saleh, PLN mengeluarkan sedikitnya 1,5 sampai 2 miliar rupiah pertahun untuk pengembangan energi berbasis masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: