Tinggalkan komentar

Jurnalisme Warga

Apa itu Jurnalisme Warga?

Paruh akhir dekade ini, dalam dunia media, muncul apa yang disebut Citizen Journalism. Di Indonesia, mulai populer dengan sebutan Jurnalisme Warga. Syukurlah, ada yang cepat mempopulerkannya dalam bahasa Indonesia. Biasanya diserap bulat-bulat dari bahasa Inggrisnya supaya keren.

Tapi, apa itu Jurnalisme Warga atau Citizen Journalism?

Jawaban sederhanya: orang yang bukan wartawan, atau warga masyarakat biasa, melakukan pekerjaan wartawan, seperti mencari berita dan mengumpulkan informasi, data, mewawancarai orang, menganalisis, dan menyampaikannya kepada khalayak.

Kenapa baru belakangan ini gejala ini muncul? Karena dulu tidak bisa. Sekedar mengumpulkan informasi, data, nanya sana-sini mungkin bisa, tapi mau diterbitkan dimana? Perusahaan media tidak akan sembarangan menerima berita atau hasil liputan yang dilakukan oleh orang yang bukan wartawan.

Sekarang bahkan anak SMP bisa menerbitkan tulisan atau celotehannya ke khalayak melalui berbagai saluran: dulu ada Friendster, lalu Multiply dan Blog.

Mencari informasinya bagaimana? Lha, sekarang apa susahnya. Ada jejaring twitter, skype, facebook, dan berbagai fasilitas obrolan [chat].  Informasi yang didapat mungkin bersifat sumber kedua, atau dari media lain, tapi apa salahnya? Toh wartawan warga bukan wartawan profesional.

Bahkan wartawan atau media profesional pun menggunakan sumber tidak langsung, seperti TV-TV kita me-relay CNN. Atau CNN me-relay SCTV. Atau koran A mengutip koran B dan sebagainya.

Jadi, Jurnalisme Warga sebenarnya merupakan akibat alamiah dari kemajuan teknologi informasi. Hal utama lain yang mendorong kelahiran jurnalisme warga adalah keinginan khalayak akan informasi yang lebih ‘alamiah’. Maksudnya, informasi yang mentah, belum dibingkai oleh rancangan dan kepentingan perusahaan media.

Keinginan semacam ini pun didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Orang ingin mendapat informasi lebih dari yang disajikan media umum. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan media  sudah keluar dari pengertian yang dibawa namanya sendir, ‘media’, karena dikuasai kepentingan pemodal atau penguasa. Akibatnya, banyak informasi yang tersaji adalah informasi hasil rekayasa.

Baiklah setiap orang bisa menerbitkan informasi. Tapi tanpa kredibilitas, siapa yang membaca atau nggunakan informasi semacam itu? Informasi hasil kerja para amatir?

Faktanya, Jurnalisme Warga berpengaruh besar dalam pemilu Amerikat Serikat sejak tahun 2008. Publik A.S. yang melihat pemberitaan media mapan sudah dikuasai partai politik, menemukan sumber informasi lain yang berlimpah dari jutaan blog milik perorangan. Para pemilik blog ini pun melakukan peliputan secara langsung di tempatnya masing-masing.

Tentu banyak berita buatan wartawan amatir itu tak dapat diandalkan. Banyak pula yang tak layak baca karena lebih banyak berisi hujatan. Tapi tak sedikit yang memberi perspektif lain dari yang disajikan media-media besar dan mapan.

Inilah yang menimbulkan kritik dari kalangan media profesional. Salah seorang di antara mereka adalah David Simon, mantan pewarta Baltimore Sun dan penulis, produser TV seri The Wire.

Dia bilang: “Sangat tidak enak membayangkan lembaga-lembaga A.S. yang begitu tersekat-sekat, menutup dan membela diri seperti kepolisian, sistem persekolahan, lembaga legislatif dan eksektuif dapat dirangkum oleh fakta-fakta yang didapat para amatir, yang mengumpulkan informasi tanpa bayaran, tanpa latihan, tanpa status yang membuat para pejabat sadar kepada siapa mereka berbicara.”

Simon menegaskan bahwa para pemblog [bloggers], yang menulis berdasarkan hobi, tak dapat menggantikan para wartawan berpengalaman, profesional dan terlatih.

Sebuah editorial majalah web The Digital Journalist mengungkapkan kritik senada; menentang penggunaan istilah Citizen Journalism dan mengusulkan diganti dengan Citizen news gathering.

“Wartawan profesional meliput kebakaran, banjir, kejahatan, persidangan legislatif dan kabinet tiap hari. Mereka juga punya jalur kebakaran, jalur kepolisian, keamanan atau jalur polisi rahasia yang memungkinkan mereka bisa masuk dengan menunjukkan identitas wartawan yang diakui departemen atau lembaga bersangkutan. Lha, wartawan warga, amatir, akan selalu berada di luar jalur-jalur itu.”

“Tidak mungkin gerbang Gedung Putih dibuka untuk mengizinkan seorang yang hanya bermodal ponsel berkamera untuk meliput sebuah acara kepresidenan.”

Pun, dari segi isi, sebuah tim penilti dari Universitas Missouri menemukan bahwa 60 situs Jurnalisme Warga dan blog yang paling populer di A.S. ternyata menyajikan informasi yang tidak begitu berbeda dengan media biasa.

Artinya, dari segi isi, Jurnalisme Warga tidak menutup atau mengisi kekurangan media profesional.

“Blog-blog dan situs Jurnalisme Warga ini bukan hanya kekurangan awak untuk meliput berita secara memadai, tapi juga para pengelolanya tidak punya sumber keuangan cukup dan pengalaman bisnis untuk membuat situs-situs mereka layak tayang,” kata Margaret Duffy, profesor Fakultas Jurnalistik Universitas Missouri.

Namun Duffy mengatakan bahwa media profesional maupun Jurnalisme Warga dapat hidup bersama. Bahkan ketika media-media profesional sekarang ini sedang mati-matian bertahan hidup karena masalah keuangan, di masa depan jurnalisme memerlukan media alternatif.

Tak adil jika hanya menampilkan kritik dari para awak media profesional. Para pengusung Jurnalisme Warga pun tak kurang sengitnya, dan sangat masuk akal. Dengar tanggapan William Bowles:

“ So because an ‘amateur’ doesn’t get paid but does it for ‘love’ somehow downgrades the writing?

So what of the garbage that daily passes for ‘professional journalism’, from the gossip to the lies, because the writer is paid makes it legit?

Haven’t we forgotten something here? The original meaning of journalist was someone who kept a journal of events?

Aren’t journalists just paid to write stuff that keeps the advertisers happy, else where’s the profit?

[“Jadi ,karena para amatir tidak dibayar dan melakukan peliputan karena kesukaan, maka nilai tulisannya rendah?”

Lalu bagaimana dengan sampah di berbagai harian ‘profesional’, mulai dari gosip sampai kebohongan? Tapi lantaran para pewartanya digaji lantas tulisan mereka bermutu? Begitu? Lupakah kita bahwa pengertian jurnalis sebenarnya adalah orang yang mencatat kejadian-kejadian…

Bukankah wartawan ‘profesional’ dibayar untuk menuliskan hal-hal yang menyenangkan pemasang iklan? Atau pihak lain yang memberi keuntungan?”]

Atau Anita Bhagwandas, yang mengungkapkan pengalaman hampir semua wartawan:

This would be great! Would definitely save hours of writing researching editing etc only then to have it sent back to you, to rewrite, change the angle,change the focus etc. Then for another two rewrites and to then be told they don’t actually need the piece anymore.

[“Ini luar biasa! [Jurnalis warga] akan menghemat berjam-jam menulis, meneliti, mengedit dan semacamnya hanya untuk menerima kembali tulisan itu dari editor mereka [wartawan profesional] untuk ditulis ulang, diubah angle-nya, diubah fokusnya, dan seterusnya. Dan setelah itu semua dikerjakan, editor anda kemudian mengatakan bahwa tulisan itu tak diperlukan lagi.”]

Biarlah perdebatan itu berlangsung. Tapi rasanya terlalu arogan kalau pihak ‘media profesional’ merasa berderajat lebih tinggi. Seluruh manusia di dunia tahu alasan A.S. menyerang Irak adalah karena informasi media profesional bahwa rejim Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal.

Harus dicatat di sini media yang menyajikan berita tentang sejata Irak itu: CNN, BBC, Washington Post, New York Times, Fox News. Setelah satu bangsa dibantai dan satu pemerintahan berdaulat diruntuhkan, sampai detik ini berita senjata pemusnah massal itu tak lebih dari isapan jempol.

Sementara, jutaan blog, situs Jurnalisme Warga, tak henti-hantinya mempertanyakan dan menggugat pemberitaan media profesional yang tak lebih dan dak kurang adalah kebohongan itu.

Fakta lagi: ada keadaan-keadaan tertentu di mana media profesional tak mampu melakukan pekerjaannya, dan terpaksa harus bersandar pada Jurnalisme Warga. Ketika krisis politik Iran pecah beberapa waktu lalu, para wartawan asing tidak bisa meliput kejadian di sana karena dihalau keluar oleh para penguasa Iran, tapi informasi mengenai kejadian-kejadian mengalir setiap hari keluar Iran.

Siapa yang melakukannya? Para warga Iran melalui twitter, facebook, blog. Ironisya, para jurnalis profesional ‘terpaksa’ menggunakan informasi-informasi hasil liputan jurnalisme warga tersebut.

Di Indonesia

Apalagi di Indonesia, pemisahan Jurnalisme Warga dengan jurnalisme ‘profesional’ nyaris tak berlaku, kecuali dalam hal badan hukum. Berpaket-paket gosip, sertentetan rumpian, bertumpuk-tumpuk tahayul, berbaris-baris berita memihak, menghujat, tersaji tak habis-habisnya. Disajikan dengan cara yang sangat tidak profesional; bahasa gagap dan salah-salah; narasumber yang sangat tidak pantas; satu berita ditayang ulang puluhan kali. Belum menyebut stasiun-stasiun TV yang memakai narasumber palsu, dengan kemasan ‘investigasi’.

Sementara di beberapa blog milik warga biasa, kita sering menemukan informasi bagus dan pemikiran cerdas.

Kalau kita menonton wawancara atau persidangan DPR, pernyataan menteri atau jubir presiden di televisi, orang Indonesia layak tau diri bahwa itulah tampilan kepribadian, tingkat kecerdasan, dan mutu manusia Indonesia.

Tapi ketika menjelajah internet, kita sering menemukan grup-grup diskusi yang cerdas. Sejumlah sarjana Indonesia jadi ilmuwan ternama di luar negeri tanpa sering namanya terdengar dalam pemberitaan sesering kita mendengar orang DPR yang konyol-konyol itu ngomong.

Atau pengamat karbitan yang rasanya dia sendiri tak tau persis apa yang dia omongkan.

Memang dunia maya juga banyak sampah, tapi peluang untuk menemukan mutiara sangat besar. Sementara di media profesional Indonesia pemirsa nyaris tak punya pilihan selain terpaksa menyaksikan sampah-sampah dan kekonyolan, kecuali mereka yang berlangganan teve kabel.

Malahan beberapa media ‘profesional’ merangkul jurnalisme warga. Seperti kompas yang memungut Kompasiana, atau Metro TV yang menayangkan video kiriman jurnalis warga.

Ini belum termasuk para wartawan ‘profesional’ yang juga bikin blog pribadi. Mereka biasa menumpahkan tulisan yang tak bisa atau tak layak dimuat di media tempat mereka bekerja.

Jadi, media profesional pun membajak Jurnalisme Warga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: