Tinggalkan komentar

Wacana terkini

Kelompok non-partai , kekuatan alternatif Indonesia

Kelompok independen, atau non-partai, jadi penentu kemenangan Perdana Menteri Australia yang sekarang: Julia Gillard.

Padahal, anggota parlemen independen itu hanya menambahkan 2 suara kepada Gillard. Tapi jumlah cuma dua ini mengakhiri kebuntuan politik Australia selama 17 hari. Tanpa ketelibatan politisi non-partai itu, persaingan antara Gillard yang diajukan Partai Buruh dan Tony Abbott yang diajukan koalisi nasional Liberal, akan terus buntu sampai hari ini.

Di Mesir, kekuatan non-partai pula yang berhasil menggulingkan Hosni Mubarak. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, kekuatan non-partai semakin menentukan.

Bisakan kelompok seperti itu lahiar di Indonesia? Peluang untuk itu cukup besar dan sangat mungkin. Kenapa? Alasan satu-satunya adalah karena non-partai! Orang tidak usah membentuk partai yang sudah banyak dan bikin pusing ini. Dan nampaknya cukup banyak yang tak berminat kepada politik praktis. Pengikat orang-orang independen hanyalah kesamaan ide, kepedulian, dan kemauan untuk berbuat. Betapa murah biaya untuk menjadi kekuatan politik yang menentukan.

Seusai Mubarak angkat kaki, Partai berkuasa di Mesir, National Democratic Party [NDP], tak kuasa menjegal 52 caleg non-partai. Dalil-dalil ‘organisasi ilegal’ yang dilekatkan pada caleg-caleg tersebut tak dipedulikan kejaksaan negeri para fir’aun itu.

Ada 34 parti politik di Mesir, yang diwakili 456 kursi parlemen. Toh mereka semua kalah oleh Ikhwanul Muslimin, kelompok non-partai yang tengah menentukan jalannya politik dan arah sejarah Mesir hari ini.

Oleh media Barat, Ikhwanul Muslimin dicap sebagai kelompok keagamaan radikal. Namun mereka adalah kekuatan mayoritas kekuatan politik dan keagamaan. Ketika Hosni Mubarak yang didukung Amerika Serikat harus menerima kenyataan bahwa dia sudah tak diterima rakyat Mesir, media-media barat pun menyebut kekuatan anti-Mubarak ini sebagai ‘pro-democracy’. Munafiknya minta ampun.

Terlepas dari itu, kekuatan non-partai A.S pula, Green Party, yang menuntut Obama untuk menghentikan dukungan finansial kepada Mubarak, sehingga kejatuhan presiden asuhan Amerika itu semakin pasti.

Kenapa gerakan rakyat Mesir begitu masif dan luas? Alat dan cara komunikasi apa yang mereka gunakan sehingga bisa cepat tersebar dan menjadi itikad khalayak? Jawabannya: alat dan cara yang sedang kita gunakan, yakni facebook dan twitter. Mereka tidak menggelar rapat-rapat ala partai dan ormas. Melainkan bergerak terus melalui komunikasi maya.

Jalan politik Mesir ke depan sudah terlihat jelas. Tidak mungkin negeri itu mengabaikan Ikhwanul Muslimin dalam pembuatan kebijakan-kebijakannya. Meskipun, ya, meskipun Ikhwanul Muslimin tak berminat ikut di pemerintahan. Namun kelompok ini menentukan jalannya negara tanpa berpartai!

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari sini? Satu hal sudah jelas: partai-partai konvensional ternyata tidak cukup mewakili kekuatan-kekuatan nyata di masyarakat. Bukan hanya dalam keterwakilan, tapi juga dalam hal kehendak dan haluan bernegara.

Karena itu pula, tak mungkin sistem politik dan hukum di berbagai negara sekarang tak memberikan legitimasi kepada organisasi non-partai alias kelompok independen. Karena jika sistem politik dan hukum itu tidak memberikan ruang, maka kemacetan politik seperti yang terjadi di Australia tidak akan teratasi.

Kekuatan non partai sedang jadi tren dunia

Sebetulnya, kemunculan partai independen sudah agak lama. Ia mulai menarik perhatian politik dunia ketika Andrew Johnsont naik ke tampuk presiden Amerika Serikat pada pemilu 1832. Ia tidak dicalonkan Demokrat maupun Republik, tapi oleh kelompok non-partai – Independent Party.

Belakangan, nampak partai politik konvensional tak mampu lagi menampung aspirasi rakyat yang kebanyakan a-politis. Tingkat kepemilihan dalam berbagai pemilu di berbagai negara makin sedikit. Makin banyak yang tidak ikut memilih. Di Amerika tingkat kepemilihan terhitung rendah sejak empat dekade terakhir. Hanya kemunculan Barack Obama yang mendongkrak kembali jumlah pemilih Amerika.

Di berbagai negara, warga-warga masyarakat yang a-politis itu mulai mencari tokoh-tokoh dan organisasi alternatif, karena berpendirian abstain ternyata sama dengan membiarkan para politisi busuk dan penguasa korup semakin leluasa mengeksploitasi kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri.

Di negara-negara Barat, partai independen sering juga disebut ‘green party’, yang mengisyaratkan kepedulian mereka lebih kepada nasib alam. Maka isu-isu yang diusung adalah kesehatan lingkungan, pengurangan emisi karbon, penyelamatan hutan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Mereka pun menganjurkan gayahidup sehat, hemat.

Mereka melihat masalah besar: penduduk Amerika Serikat yang tak seampai seperempat dunia menghabiskan 70 persen sumberdaya dunia! Karena gayahidup. Konyolnya, gayahidup Amerikalah yang diikuti negara-negara dunai ketiga, yang alamnya masih relatif bagus. Abege-abege dunia ketiga ramai-ramai ingin tampil seperti Jessica Alba atau Jenniver Lopez. Para ekskutifnya ingin hidup seperti Bill Gates, Jack Welch atau Ross Perot.

Tidak ada yang ingin hidup seperti Kang Rasman orang Cianjur yang hidup sederhana tapi berhasil membangun pembangkit tenaga listrik skala kecil untuk masyarakat di desanya. Desa Kang Rasman sampai kini asri, berudara segar, berair melimpah.

Dari Mesir, kekuatan non-partai menjalar ke Bahrain, Yaman, Lybia, dan sejumlah negara Timur Tengah lain – mendepak kekuasaan para emir yang sudah terlalu lama berkuasa dan hidup sangat hedonis. Pesta pora di Eropa. Mirip-mirip kelakuan para anggota DPR kita yang gemar jalan-jalan ke Eropa berkedok studi banding padahal nonton tarian erotis.

Salah satu isu utama yang memicu gerakan massif di Timur Tengah itu adalah sikap para emir dan instrumen kekuasaan mereka yang terlalu tunduk kepada Barat. Para emir ini memberi konsesi-konsesi minyak dan usaha lain kepada perusaan-perusahaan Eropa dan Amerika tapi mengabaikan kepentingan rakyatnya.

Persis seperti kelakuan para penguasa republik ini.

Bahrain adalah sekutu A.S yang paling utama. Di pantainya bermarkas Angkatan Laut Paman Sam untuk membendung perkembangan militer Iran. Sikap ini didukung monarki-monarki negara Arab lain, seperti Suadi Arabia, Yaman, Yordania dan lain-lain, tapi tidak oleh rakyat negara-negara itu.

Sekarang, kenyataan poiltik sedang memperlihatkan bagaimana kekuasaan para emir dan sekutu-sekutu Barat mereka tergerus oleh gerakan rakyat melalui jaringan non-partai.

Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa sistem politik konvensional sudah usang – termasuk sistem politik di negara-negara Barat. Buktinya, kelompok non-partai pun tumbuh di A.S., Eropa dan Australia. Alam politik dunai nampaknya sedang memperbaharui diri.

Lihat. Di Oregon, John Kitzhabor memenangi pemilihan gubernur hanya setelah dicalonkan dan didukung partai independen yang tumbuh dramatis di wilayah itu. Sekarang, politisi-politisi dari partai besar rame-rame mendekati kelompok independen itu untuk memperoleh dukungan.

The growth of the Independent Party has exploded since it formed in 2007 and now has about 57,000 members. That may explain why major-party candidates are seeking its nomination.

Kelompok non-partai di Indonesia

Di negeri kita, sudah jelas kelompok non-partai tak dapat diabaikan atau dihalangi. Dalam pemilu legislatif kemarin, Demokrat yang menang 60persen suara tetap saja tidak bisa menjadi pemenang mayoritas. Dan karena itu tidak bisa juga mendominasi DPR. Bahkan dalam pembentukkan kabinet, ia harus berkoalisi dengan partai-partai kecil.

Ada sejumlah koalisi yang dipaksakan karena sebetulnya garis politik partai-partai yang berkolalisi itu agak bertentangan. Lucu juga melihat PDIP harus berkoalisi dengan Golkar; Golkar dengan Demokrat; di luar koalisi, Gerindra harus bergandengan tangan dengan Hanura. Untung Partai Komunis sudah anumerta. Kalau masih hidup bisa saja ia berkoalisi dengan PKB – demi kekuasaan.

Koalisi-koalisi penuh muslihat dankotor itu tidak akan terjadi kalau saja ada ‘partai’ non-partai, yakni kelompok independen. Pasti Demokrat atau apapun akan memilih berkoalisi dengan kelompok non-partai untuk memelihara garis politik mereka agar tidak bertabrakan dengan mitra koalisi. Dan pilihan yang paling cerdas adalah kekuatan non-partai! Kenapa? Karena kelompok ini tidak punya kepentingan berkuasa!

Tidak punya kepentingan berkuasa tapi ia ingin kekuasaan dijalankan menurut gagasan-gagasannya, yang pasti lebih murni untuk kebaikan negara dan bangsa karena sepi dari kepentingan kekuasaan itu. Sederhahanya, kelompok independen tak berminat ikut pemerintahan tapi berminat kuat mengendalikan jalannya pemerintahan.

Siapa kelompok itu di Indonesia? Belum muncul. Bila ia nanti muncul, mereka adalah orang-orang pikiran dan aspiranya yang tak terwakili oleh praktik pemerintahan dan legislatif sekarang. Mereka tak merasa perlu berkuasa tapi ingin kekuasaan dijalankan sesuai ide-ide mereka.

Cukup banyak orang Indonesia yang cerdas , berminat murni, berkepedulian kuat pada nasib bangsa dan negara. Mereka akan menjadi penentu jalannya kekuasaan di Indonesia.

Bagaimana caranya?

Tentu saja ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan untuk sampai ke tahap itu. Pertama, mereka harus mulai menginvetarisir agenda-agenda utama yang akan mereka mintakan nanti kepada penguasa untuk dijalankan. Misalnya, kelompok ini merekomendasikan beberapa hal berikut:

–          Moratorium [Penghentian] utang luar negeri.

–          Peninjauan ulang kontrak karya dengan perusahaan pertambangan asing.

–          Pemberlakuan kode etik untuk anggota DPR

–          Pemberhentian secara tidak hormat para Bupati, Gubernur, Presiden, yang tidak memenuhi janji-janji yang diucapkan selama kampanye.

–          Pengawasan lebih ketat di perairan Indonesia terhadap kapal-kapal asing

–          Penindakan tegas atas setiap komersialiasi pendidikan di kalangan sekolah negeri.

Anda bisa menambahkan lebih banyak atau meringkasnya lebih sedikit.

Setelah ide-ide ini mengendap dan mengkristal. Ia menjadi agenda nasional. Agenda pembaharuan. Mereka tidak akan mengulangi kesalahan reformasi dulu yang tanpa konsep. Yang hanya punya satu agenda: Soeharto turun, tanpa rumusan jelas apa setelah itu.

Bagaimana mensosialisasikan agenda pembaharuan tersebut? Mereka sedang melakukannya sekarang: berkomunikasi antar teman, sembari tiap-tiap kita terus memperluas jaringan. Tuntutan-tuntutan tindakan selanjutnya nanti akan timbul dengan sendirinya secara alamiah.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: