1 Komentar

Kiriman Asep Salahudin

Koalisi Karnadi Anemer Kodok

Oleh Asep Salahudin

Kolumnis Pikiran Rakyat

Karnadi Anamer Bangkong adalah sub judul novel terkemuka yang ditulis Sukria dan Yuhani tahun 1928 diterbitkan Dakhlan Bekti dan tahun 1963 diterbitkan ulang oleh Kiwari Bandung. Judul utamanya Rusiah Nu Goreng Patut (Rahasia si Buruk Rupa). Nampaknya justru sub judulnya yang lebih popular daripada judul utamanya.

Inti cerita dari novel ini adalah siasat busuk si buruk rupa dan melarat, Karnadi yang sudah beristeri dan punyak anak untuk menikahi janda jelita Euis Awang ketika bertemu di tikungan di sebuah pasar. Terpesona pandangan pertama. Dibantu kawannya Marjum  akhirnya siasat dtebar: Karnadi mendapatkan pinjaman pakaian   kemewahan  Raden Sumtama, seorang anemer (pemborong) yang kaya raya. Singkat cerita disampaikan kepada isterinya oleh Marjam bahwa suaminya tertabrak dan mati. Di antar Marjum, Euis Awang di lamar dan cintanya diterima, di samping karena orang tua Euis Awang yang sangat gila harta.

Akhir cerita, kebusukan itu terbongkar ketika di sebuah belokan anaknya di pinggir jalan menunjuk  arah Karnadi (ayahnya) yang tengah berada di samping Euis Awang di sebuah kendaran. Ketika Euis Awang menoleh dan merasa iba  justru Karnadi menyebut orang yang ada di pinggir jalan itu tak lebih sebagai si gila. Marjum pun sadar, ia merujuk  kepada Karnadi untuk mengunjungi istrinya yang sudah lama mencari bahkan ke Rancabadak dengan jalan kaki. Semula ajakannya ditolak, namun setelah ia meminjam uang ke istrinya berangkatlah ke kampung halamannya sambil membawa sedikti oleh-oleh. Namun yang ditemui adalah anaknya yang telah meninggal dan istrinya  yang sakit keras. Puncaknya terbongkarlah rahasia itu, Euis Awang mendapatkan malu besar, dan Karnadi tidak bisa lagi berkelit. Di puncak kekalutan ia menutup riwayatnya dengan menghanyutkan diri ke Sungai Citarum  yang sedang meluap.

Sebuah novel dengan narasi dan pesan yang jelas: bagaimana rahasia kebusukan dan segala  bentuk tipu daya serapat apapun lambat namun pasti akan terbongkar. Hanya persoalan waktu. Bahwa di antara manusia, ada banyak orang yang ingin meraih keinginannya dengan cara jalan pintas: menebar kepalsuan, mengubar janji, mengoperasikan muslihat. Hasrat untuk hidup bergelimang kebendaan supaya nafsu primitif tersalurkan telah membuatnya gelap mata sehingga akhirnya menghalalkan segala cara: tunggul di rarung catang di rumpak.

Seolah-olah

Karnadi Anemer Bangkong ini kalau kita tarik dalam konteks kekinian terutama dalam atmosfer politik kita akan mendapatkan relevansinya. Justru saat ini kita melihat para politisi mewarisi watak Karnadi. Terbongkarnya korupsi di legislatif, rekening gendut perwira kepolisian RI, kejaksaan dan hakim yang terseret kasus Gayus  adalah bukti tak terbantahkan bagaimana buramnya politik dan tatakelola birorasi kita.  Tradisi politik dalam aras kebangsaan kita bukan kutub koalisi dan opsisi tapi transaski

Politik Karnadi Anemer Bangkong inilah yang telah menjebak  bangsa kita  merubah wujud menjadi, istilah   Stanislav Andreski dalam Kleptocracy or Corruption as a System of Government (1968)  negara kleptokrasi. Ciri-cirinya dengan sangat sempurna telah kita miliki: praktek korupsi dilakukan secara terorganisir yang dimainkan oleh empat anemer, yaitu pejabat negara, aparatus biroktasi, anggota parlemen, dan sektor swasta (pengusaha).   Bangsa dengan  kekayaan alam tak terhingga, namun angka kemiskinan  semakin menampakkan grafik menaik karena semuanya hanya meminjam  ‘ke Raden Sumtama’,    menyebabkan kita menjadi  bangsa yang berada di halaman belakang dari lembaran bangsa-bangsa yang ada di Asia. Sedikit lebih unggul dari Laos. Indeks Pembangunan Manusia Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-110. Di aras global pasar bebas, Indonesia menjadi bangsa yang tak siap untuk melakukan kompetisi. Survei World Competitiveness Report 2001 oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) menempatkan Indonesia di urutan ke-64 dari 75 negara dalam Growth Competitiveness Index/GCI), urutan ke-55 dalam Current Competitiveness Index/CCI). Di antara 19 negara APEC, Indonesia menempati rengking ke-19 untuk GCI dan ke-16 untuk CCI.

Inilah aras politik yang diisi banyak Karnadi  yang terhipnotis hanya kejelitaan Euis Awang. Politik  yang penuh intrik dan kolutif (dengan Marjum). Politik yang sudah kehilangan ideologi kecuali hanya meniyasakan satu: ideologi kebendaan hedonistik yang dalam novel Yuhani disimbolisasikan orang tua Euis Awang. Karena Karnadi  bersolek kemewahan, tanpa harus merasa perlu menelusuri asal usulnya, lamarannya langsung diterima, dirinya di contreng untuk menjadi wakil dari sekian obsesinya

Karnadi dalam konteks politik adalah –istilah Nietszhe– kerumunan manusia yang lebih mengerikan dari monster sekalipun sebab mereka lebih berminat untuk menyalurkan hasrat perkaumannya ketimbang berhidmat kepeda kepentingan halayak. Aksioma Ketamakan (Axiom of Greed) yang berbunyi “the more is the better” atau “semakin banyak semakin bagus” dengan mentah-mentah diterapkan yang kemudian berujung pada mental menyesatkan-nya Hobbes, “Kelangsungan hidup dari mereka yang tersiap” (the survival of the fittes).

Melawan lupa

Namun sayang,  Karnadi Anemer Bangkong itu kerap berhenti sebatas teks sebagai dokumen potret manusia masa silam pra kemerdekaan tanpa ada upaya untuk melakukan kontekstualisasi dalam sejarah kekinian. Karnadi hanya menjadi tokoh fiktif tempat di mana rasa tak senang kita tumpahkan walaupun tanpa terasa justru banyak di antara kita berubah wujud: memerankan sebagai karnadi-karnadi baru dengan siasat yahng tidak kalah cerdik (licik) untuk meraih ‘Euis Awang’ yang maknanya dalam  signal kontemporer dapat beragam.

Teks dan fakta sejarah yang telah menjebak kita menjadi bangsa anomali sering kita lupakan. Kita sering melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Tragedi Karandi yang merasa harus menenggelamkan diri ke sungai yang meluap tidak pernah nyaliara dalam layar bawah sadar. Menjadi sangat masuk akal seandainya Milan Kundera mentahbiskan perang melawan lupa adalah inti dari perjuangan. Dan perang seperti ini  seharusnya terus kita kobarkan.

One comment on “Kiriman Asep Salahudin

  1. Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik aksi Anggodo, Gayus, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: