5 Komentar

Siapakah yang disebut Melayu?

Oleh: Abi Abdillah

Suku Melayu merupakan etnis yang termasuk ke dalam rumpun ras Austronesia. Suku Melayu dalam pengertian ini, berbeda dengan konsep Bangsa Melayu yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.

Suku Melayu bermukim di sebagian besar Malaysia, pesisir timur Sumatera, sekeliling pesisir Kalimantan, Thailand Selatan, Mindanao, Myanmar Selatan, serta pulau-pulau kecil yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata.

Di Indonesia, jumlah Suku Melayu sekitar 3,4% dari seluruh populasi, yang sebagian besar mendiami propinsi Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.[6] Suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).

SEJARAH

Suku Melayu tergolong ke dalam Deutero Melayu (Melayu Muda) yang merupakan bagian dari gelombang besar kedua migrasi ras Melayu-Austronesia dari daratan Asia yang terjadi sekitar 300 S.M [7].

Pada abad ke-7, masyarakat yang bermukim di hilir Sungai Batang Hari, Jambi membentuk Kerajaan Malayu. Dan istilah Melayu diambil dari nama kerajaan tersebut. Secara geografis, pada mulanya Melayu hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut, yang meliputi wilayah Sumatera bagian tengah.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan digantikan oleh Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang [8]. Pemakaian istilah Melayu-pun meluas hingga ke luar Sumatera, mengikuti teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia.

Seperti terlihat dalam prasasti Keping Tembaga Laguna, pedagang Melayu Sriwijaya yang berdagang ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga turut serta membawa adat budaya dan Bahasa Melayu ke negeri seberang.

Bahasa Melayu akhirnya menjadi lingua franca menggantikan Bahasa Sanskerta [9]. Era kejayaan Sriwijaya merupakan masa emas bagi peradaban Melayu. Runtuhnya Sriwijaya pada abad ke-13, dan bangkitnya Kesultanan Malaka pada abad ke-15, berakibat pindahnya pusat mandala Melayu ke Semenanjung Malaysia [10][11][12].

Pada tahun 1511, pemerintahan Melayu di Malaka takluk oleh kekuatan tentara Portugis. Sejak itu pusat peradaban Melayu kembali ke tanah Sumatera, ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan kuat seperti Kerajaan Aceh dan Kerajaan Dharmasraya.

Masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke-12, diserap baik-baik oleh masyarakat Melayu. Islamisasi tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat jelata, namun telah menjadi corak pemerintahan kerajaan-kerajaan Melayu.

Di antara kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Perak, Kesultanan Pahang, Kesultanan Brunei, dan Kesultanan Siak. Kedatangan kolonialis Eropa telah menyebabkan terdiasporanya orang-orang Melayu ke seluruh Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka banyak mengisi pos-pos kerajaan seperti menjadi syahbandar, ulama, dan hakim.

Dalam perkembangan selanjutnya, hampir seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan pengaruh langsung dari Suku Melayu. Bahasa Melayu yang telah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akhirnya dipilih menjadi bahasa nasional Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Etimologi

Ptolemy (90 – 168 M) dalam karyanya Geographia mencatat sebuah tanjung di Aurea Chersonesus (Semenanjung Melayu) yang bernama Maleu-kolon, yang diyakini berasal dari Bahasa Sanskerta, malayakolam atau malaikurram[13]. Berdasarkan G. E. Gerini, Maleu-Kolon saat ini merujuk pada Tanjung Kuantan atau Tanjung Penyabung di Semenanjung Malaysia.

Orang Gunung

Pada Bab 48 teks agama Hindu Vuya Purana yang berbahasa Sanskerta, kata Malayadvipa merujuk kepada sebuah propinsi di pulau yang kaya emas dan perak. Disana berdiri bukit yang disebut dengan Malaya yang artinya sebuah gunung besar (Mahamalaya). Meskipun begitu banyak sarjana Barat, antara lain Sir Roland Braddell menyamakan Malayadvipa dengan Sumatera [14]. Sedangkan para sarjana India percaya bahwa itu merujuk pada beberapa gunung di Semenanjung Malaysia [15][16][17][18][19].

Kerajaan Malayu

Dari catatan Yi Jing, seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang berkunjung ke Nusantara antara tahun 688 – 695, dia menyebutkan ada sebuah kerajaan yang dikenal dengan Mo-Lo-Yu (Melayu), yang berjarak 15 hari pelayaran dari Bogha (Palembang), ibu kota Sribogha (Sriwijaya). Dari Ka-Cha (Kedah), jaraknyapun 15 hari pelayaran [20].

Berdasarkan catatan Yi Jing, kerajaan tersebut merupakan negara yang merdeka dan akhirnya ditaklukkan oleh Sabogha. Petualang Venesia yang terkenal, Marco Polo dalam bukunya Travels of Marco Polo menyebutkan tentang Malauir yang berlokasi di bagian selatan Semenanjung Melayu. Kata “Melayu” dipopulerkan oleh Kesultanan Malaka yang digunakan untuk membenturkan kultur Malaka dengan kultur asing yakni Jawa dan Thai [21]. Dalam perjalanannya, Malaka tidak hanya tercatat sebagai pusat perdagangan yang dominan, namun juga sebagai pusat peradaban Melayu yang berpengaruh luas [22].

Melayu Malaysia

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masyarakat Melayu di Malaysia

Melayu Malaysia yang disebut Kaum Melayu adalah masyarakat Melayu berintikan orang Melayu asli tanah Semenanjung Malaya (Melayu Anak Jati), ditambah suku-suku pendatang dari Indonesia dan tempat lainnya yang disebut Melayu Anak Dagang seperti Jawa, Minangkabau, Riau, Mandailing, Aceh, Bugis, Bawean, Banjar, Champa dan lain-lain.

Semua diikat oleh agama Islam dan budaya Melayu Malaysia. Ras lain yang beragama Islam juga dikategorikan Kaum Melayu, seperti Tionghoa Muslim, India Muslim, dan Arab. Sehingga Melayu juga berarti etnoreligius yang merupakan “komunitas umat Islam Malaysia” yang ada di Kerajaan Islam tersebut, karena jika ada konsep Sultan (umara) berarti juga ada ummat yang dilindunginya.

Namun, etnis Melayu di Malaysia Barat (Malaya) yang tidak terikat dengan perlembagaan Malaysia secara umumnya terbagi kepada tiga suku etnis terbesar, yaitu Melayu Johor, Melayu Kelantan dan Melayu Kedah[rujukan?]. Melayu Johor sebagai suku etnis terbesar, banyak terdapat di sekitar ibukota Malaysia, Kuala Lumpur dan negeri Johor itu sendiri.

Selain itu, masyarakat Melayu yang tinggal di negeri Terengganu, Pahang, Selangor, Malaka dan Perak juga bisa digolongkan sebagai Melayu Johor. Di Malaysia Timur terdapat pula komunitas Melayu, yaitu Melayu Sarawak dan Melayu Brunei yang mempunyai dialek yang berbeda dengan Melayu Semenanjung Malaya.

Suku Melayu Sarawak biasanya terdapat di Negara Bagian Sarawak, serta lebih berkerabat dengan Suku Melayu Pontianak dari Kalimantan Barat. Sedangkan Suku Melayu Brunei biasanya menetap di bagian utara Sarawak, Pantai Barat Sabah, serta Brunei Darussalam.

Kaum Melayu Singapura (Golongan Bumiputera)

Komposisi Sukubangsa dalam Populasi Melayu di Singapura 1931-1990

Kelompok Etnis Melayu 1931 1947 1957 1970 1980 1990

Total 65,104 113,803 197,059 311,379 351,508 384,338

Malay 57.5% 61.8% 68.8% 86.1% 89.0% 68.3%

Javanese 24.5% 21.7% 18.3% 7.7% 6.0% 17.2%

Baweanese (Boyanese) 14.4% 13.5% 11.3% 5.5% 4.1% 11.3%

Bugis 1.2% 0.6% 0.6% 0.2% 0.1% 0.4%

Banjar 0.7% 0.3% 0.2% 0.1% N.A. N.A.

Other Malay Groups / Indonesians 1.7% 2.1% 0.9% 0.4% 0.8% 2.9%

(Reference: Arumainathan 1973, Vol 1:254; Pang, 1984, Appendix m; Sunday Times, 28 June 1992)

[sunting] Rumpun Melayu

  • Suku Melayu (muslim) di Indonesia menurut sensus tahun 2000 terdiri atas :
    • Melayu Tamiang
    • Melayu Palembang, dalam sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu.
    • Melayu Bangka-Belitung, pada sensus 1930 tidak digolongkan suku Melayu. [23]
    • Melayu Deli
    • Melayu Riau
    • Melayu Jambi
    • Melayu Bengkulu
    • Melayu Pontianak
  • Suku bangsa serumpun di Sumatera :
    • Suku Minangkabau (muslim)
    • Suku Kerinci (muslim)
    • Suku Talang Mamak (non muslim)
    • Suku Sakai (non muslim)
    • Orang Laut
    • Suku Rejang (muslim)
    • Suku Serawai (muslim)
    • Suku Pasemah (muslim)
  • Suku bangsa serumpun di Kalimantan (Rumpun Banjar) :
    • Suku Sambas (muslim)
    • Senganan/Haloq (Dayak masuk Islam)
    • Suku Kedayan (muslim) dan Melayu Brunei (muslim)
    • Suku Banjar (muslim)
    • Suku Kutai (muslim)
    • Suku Berau (muslim)
    • Suku Bukit (non muslim)

5 comments on “Siapakah yang disebut Melayu?

  1. itu etnis terdekat je tu..perlu tambah lagi dengan suku diasporanya yang meliputi orang bugis-makasar, gorontallo, buton, banggai dan sebagian kerajaan dan maluku-maluku utara…rahasia melayu di timur terdapat lambang-lambang dan pertanda serta pertalian melayu itu, serta sesuai dengan kitab-kitab sejarah melayu terutama setelah penyebaran islam

  2. banyak yg tak tau asal mule bahase melayu yg di bawe oleh parameswara atau si gentar alam waktu mendirikan kerajaan samudera pasai adalah bahase melayu pasemah sumatra selatan yg pade akhirnye di lupekan oleh kalangan bangse melayu

  3. Melayu lah melayu. Tade melayu bugis, melayu banjo dll. Melayu sejati: terkait erat dengan surve 3 atau 7 generasi. (nyang,tok/ata,bapa/mak melayu, tu disebot melayu sejati. Bile hendak memanah, jagan lupe bace bismillah, tiap suku tuhan da beri rumah. Di bawah lagit diatas tanah. Daun layu terjemo mentari. Buah kedodong dalam guni. Tuhan dah memberi, tanah melayu di semenanjung, riau ni. Contoh bile kite pergi ke bugis, klo kite cakap diri kite orang bugis, mesti di tepis die orang. Cube klo die orang bugis dtang kenegeri melayu, mereke tak sungkan2 ngaku diri orang melayu. Tui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: