1 Komentar

Rasman Nuralam

Di antara sekian banyak orang yang terlibat dalam pembangunan PLTMH [Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro] Gunung Simpang, yakni pembangkit listrik berskala kecil memanfaatkan aliran sungai, sebuah nama tak bisa dilepaskan: Rasman Nuralam, seorang blandong [tukang menebang kayu di hutan tanpa izin] yang kini jadi guru otodidak kebjaksanaan terhadap alam dan teknisi sekaligus ‘pakar’ mikro-hidro.

Yang paling membedakan Rasman dengan kebanyakan pakar lainnya adalah dalam hal cara bertutur dan berpakaian. Ia tak pernah mematut-matut diri untuk tampil menarik perhatian atau membangun citra diri tertentu. Ia sepenuhnya manusia alam. Dan seperti alam, ia hadir ke kalangan mana dan apapun sebagaimana adanya.

Berbeda dengan para aktifis LSM yang pandangan-pandangannya bersumber dan terbentuk dari buku, pandangan-pandangan Rasman bersumber langsung dari pengalamannya langsung dengan masyarakat. Dalam banyak hal, pandangannya tentu berbeda dengan anggapan-anggapan ‘akademis’. Pembeda lain adalah dalam cara panyampaiannya. Tak pernah ia bersandar pada metode atau cara tertentu dalam penyampaian, melainkan langsung mengacu pada substansi komunikasi, yakni dimengerti.

Meskipun ia banyak bergaul dengan para pegiat LSM, ia tak dengan sendirinya sepandangan dengan mereka. Bahkan dalam beberapa hal bertentangan.

Pernah, dalam sebuah forum antar LSM yang membahas pengelolaan konflik dalam masyarakat, para peserta berbagi pengalamannya ‘berjuang’ menjadi penengah konflik dalam masyarakat. Ada semacam perasaan dan citra diri bersama di kalangan LSM bahwa mereka sedang menengahi konflik dalam masyarakat.

Tiba-tiba, Rasman angkat bicara menghantam kebanggaan kosong para pegiat LSM itu. “Yang saya lihat, LSM itu bukan menengahi konflik, tapi menciptakan konflik,” katanya, menghenyakkan para peserta.

“Sebelum ada LSM, memang sudah terjadi konflik di masyarakat. Sesudah ada LSM, konflik itu makin meningkat,” katanya.

Menurut Rasman, kebanyakan LSM sering berbekal pengetahuan tak berdasar. “Mereka kira mereka bisa meghilangkan konflik dalam masyarakat. Saya katakan: itu tidak mungkin. Jangan bermimpi,” tegasnya.

Bahkan, hampir semua LSM membawa cara komunikasi yang membingungkan masyarakat.

“Mereka memaksakan istilah-istilah asing, yang setelah saya cari-cari, ternyata artinya sederhana dan ada dalam bahasa masyarakat. Mereka bilang ‘kolaborasi’ yang maksudnya tak lebih dan tak kurang dari kerja sama. Mereka bilang ‘stake holder’, yang artinya tak lebih dari pemilik atau pemangku kepentingan. Mereka bilang ‘mekanisme’ , ‘struktur’ dan sebagainya yang di desa kami bisa dikatakan dengan sederhana: cara kerja atau bentuk. Mengapa mereka tak mau bicara dengan bahasa sederhana?”

“Tapi mereka selalu menggunakan bahasa langit. LSM itu penjajah,” katanya.

Kalau aktifis LSM biasa menaburi kalimat-kalimat yang diucapkan dengan kata-kata asing, Rasman pun melakukan hal yang sama, tapi dengan kata-kata bahasa Sunda. Bahkan, bila sedang berbicara bahasa Indonesia di depan khalayak, tiba-tiba kalimatnya mandek, ia tak segan-segan menggunakan bahasa Sunda, tak peduli khalayak mengerti atau tidak!

Untuk ukuran ‘mantan penjahat’ [istilahnya sendiri], tentu ungkapan demikian cukup menohok kejumawaan umum para pegiat LSM.

15 tahun lalu, dia adalah salah seorang biang keladi segala kerusakan hutan Gunung Simpang. Dia menebang kayu sebanyak-banyaknya untuk dijual. Uang yang didapat dia gunakan untuk berfoya-foya: berjudi, main perempunan dan minum-minuman keras.

Bila ia sedang tak beruntung dan tertangkap polisi ketika menebang atau menjual kayu. Ia punya cara ampuh: menyogok para penangkapnya. Tak heran ia menjadi langganan ‘pesantren polsek’, istilah yang ia buat sendiri untuk tahanan polisi sektor.

Tentu saja, ia bukan satu-satunya biang kerusakan. Bersama teman-temannya, yang juga langganan ‘pesantren polsek’, ia berada dalam barisan terdepan gengster pedesaan yang gentayangan tak henti mencari pohon-pohon bernilai tinggi di hutan. Bahkan setan-setan penghuni hutan pun tak kuasa melawan para penjarah ini.

Alam yang dianiaya terus-terusan tentu melawan. Suatu saat, alam membalas dengan mengirimkan banjir besar dan longsor. Seluruh desa terhantam bencana. Harta benda hanyut. Enam orang tewas, termasuk saudaranya.

Awalnya, seperti selalu jadi anggapan umum, peristiwa itu adalah bencana alam. Takdir yang tak bisa dilawan. Sebuah kepastian.

Namun beberapa pegiat lingkungan menunjukkan bagaimana sebab-akibat bencana itu. Terlihat jelas di sana bahwa kelakuannya memberi sumbangsih besar dalam perisitiwa alam itu. Dia akhirnya faham bahwa itu akibat perbuatan manusia, termasuk buah tangannya juga.

Penjelasan ini cukup membekas pada diri lelaki berusia 41 tahun ini, sekaligus menjadi titik balik kehidupannya. Kini ia tahu selamat dan celakanya manusia terutama bersumber dari perilaku manusia sendiri. Sejak itu ia bertekad untuk mengendalikan perilakunya, terutama dalam kaitannya dengan alam tempatnya hidup.

Kalau dulu ia berada di barisan terdepan penjarahan hutan, kini ia pun tetap terdepan, tapi di barisan perlindungan hutan. Bagian hulu sungai menjadi pusat perhatiannya karena tempat ini adalah sumber hidup-mati pembangkit tenaga listrik yang baru saja dibangun bersama: PLTMH Parakan Taraje. Sumber energi yang memasok 22 kwh kepada 120 keluarga di desanya

Memang, sejak awal, Rasman sudah menjadi salah seorang pemrakarsa PLTMH, bersama beberapa warga desa dan aktifis YPAL. Minatnya begitu kuat karena hajatan ini dapat melindungi sumberdaya air dan dengan sendirinya berarti melindungi hutan. Mikro-hidro bisa dengan jelas menunjukkan dan membuktikan kegunaan mutlak hutan bagi kehidupan masyarakat. Lagi pula, bila mikro-hidro berdiri, akan lebih banyak pekerjaan bermanfaat yang bisa dilakukan.

Sifat khasnya sebagai lulusan ‘sekolah alam’, di mana orang-orang belajar langsung dari setiap apa yang dilakukan, membuat Rasman cepat menguasai teknologi PLTMH, lengkap dengan prasyarat-prasyaratnya, termasuk cara membentuk dan mengelola lembaga masyarakat yang bertanggung jawab menjalankan stasiun pembangkit listrik itu.

Sekarang, Rasman lebih dikenal publik sebagai pakar mikro-hidro. Masa lalunya yang gelap, bukannya membuat cacat karirsnya sekarang, tapi malah menjadi daya tarik tersendiri. Di surat-surat kabar, daerah dan nasional, wajahnya beberapa kali terpampang sebagai ‘penebang liar yang jadi pelindung hutan’ dan ‘peritis mikro-hidro’.

Belakangan, Rasman makin kerap bepergian ke tempat-tempat jauh untuk memenuhi permintaan dan undangan mengajar dan memberi layanan konsultasi tentang mikro-hidro dan perlindungan alam. Semua kebisaan dan pengetahuannya bersumber dari pengalamannya sendiri, termasuk pandangannya tentang kelemahan-kelemahan LSM ketika bekerja bersama masyarakat.

Untuk ukuran orang kampung, dia sudah jadi pesohor. Dia diundang ke berbagai seminar dan peresmian; diminta hadir oleh sejumlah bupati dan gubernur.

Ketika saya tanya apa yang terasa beda pada dirinya dulu dan sekarang. Dia menjawab datar: “Yang jelas saya merasa punya martabat; lebih berguna bagi banyak orang. “

Kalau dulu ia gentayangan bersama beberapa penjarah mengambil kayu dari hutan, kini ia berkeliling kampung bersama barisan Raksa Bumi untuk mengamankan hutan dari para penjarah. Beberapa kali ia menangkap dan menyeret para penjarah ke pengadilan desa, menyita semua peralatan mereka.

Tentu, tidak semua orang senang dengan perubahan hidupnya menjadi seperti sekarang, terutama mereka yang melihat hutan sebagai sumber jarahan. Tapi Rasman tak peduli. “Saya adalah perintis pasukan pengamanan hutan ini. Saya berusaha sebisanya menghentikan pembalakan liar,” katanya.

One comment on “Rasman Nuralam

  1. ‘Menjadi manusia yang bermartabat’….memang mesti menjadi semangat dan tujuan hidup qta bang. terima kasih atas kisah ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: