180 Komentar

Menit-menit yang luput dari catatan sejarah Indonesia

Pengantar:

Bukanlah maksud saya hendak mengutik-ngutik ‘nasi yang sudah menjadi bubur’ dengan tulisan ini. Semata-mata saya bersaksi. Kesaksian harus disampaikan, betapapun tidak populernya. Betapapun terpinggirkannya. Kebetulan saya saksi. Saksi harus bicara.

Atau, kalau kata ‘kesaksian’ terdengar teralu resmi. Ya sudah, saya menuliskan sebuah kenangan saja. Namun lebih dari itu semua, saya merasa ada pelajaran sangat berharga dari beberapa saat di masa lalu ini. Dan saya ingin orang-orang muda Indonesia belajar sesuatu dari ini.

‘Nasi sudah menjadi bubur’ yang saya maksud adalah Timor Timur, yang sekarang bernama Timor Leste.

SAYA dikirim kantor berita saya, the IPS Asia-Pacific, Bangkok, pada tanggal 28 Agustus 1999, untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas.

Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di  banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat  duduk saya; duduk  dekat saya dan mengeluarkan rokok . Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.

“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.

Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.

“Panggil saja saya Laffae,” katanya.

“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.

“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.

Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.

Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.

“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.

Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi . Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.

Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.

Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:

“Kafil, we can’t run the story,” katanya.

“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.

“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.

“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.

“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”

“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”

“I think  we still can run the story but we should change it.”

“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.

Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

***

Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.

Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.

Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.

“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.

Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”

Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.

Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanya kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Bunda Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.  Indah. Sangat indah.

Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi.  Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.

Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.

“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”

Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.

Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.

“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.

“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.

“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.

“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.

“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.

Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.

Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”

Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.

Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.

***

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.

Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.

Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.

Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

***

12 tahun beralu sudah. Apa kabar bailout IMF yang 43 milyar dolar itu? Sampai detik ini, uang itu entah di mana. Ada beberapa percik dicairkan tahun 1999-2000, tak sampai seperempatnya. Dan tidak menolong apa-apa. Yang terbukti bukan mencairkan dana yang dijanjikan, tapi meminta pemerintah Indonesia supaya mencabut subsidi BBM, subsidi pangan, subsidi listrik, yang membuat rakyat Indonesia tambah miskin dan sengsara. Anehnya, semua sarannya itu diturut oleh pemerintah rendah diri bin inlander ini.

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. Kenapa mau melepas Timtim dengan imbalan utang? Bukankan semestinya kompensasi? Adakah di dunia ini orang yang hartanya di beli dengan utang? Nih saya bayar barangmu. Barangmu saya ambil, tapi kau harus tetap mengembalikan uang itu. Bukankah ini sama persis dengan memberi gratis? Dan dalam kasus ini, yang dikasih adalah negara? Ya , Indonesia memberi negara kepada IMF secara cuma-cuma.

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

Sampai hari ini Indonesia masih menyicil utang kepada IMF, untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan. Saya harap generasi muda Indonesia tidak sebodoh para pemimpin sekarang.

180 comments on “Menit-menit yang luput dari catatan sejarah Indonesia

    • Mas Kafeel, terima kasih atas tulisannya…. Izin share ya di FB

    • Ya, tulisan ini sama sepertikata para tni yg bertugas dsana waktu itu, sy tinggal di samping asrama militer, dan semua tetangga tni sy yg bertugas dsana cerita kakau jajak pendapat sbenarnya dimenangkan pro integrasi

  1. Mas Kafil,
    Apa tulsiannya pernah di publikasikan ke media?
    Karena saya belum pernah melihat tulisan yang bertopik kecurangan PBB di Timtim secara gamblang di media…

  2. Mas Robby, kalo soal kecurangan UNAMET saya kira ada juga beberapa media yang memberitakan, ketika itu. Tapi memang tidak ada yang menceritakan secara detil. Tulisan ini tidak saya kirim ke media karena saya sudah pesimis duluan — tak akan ada media yang mau memuat apa adanya.

    • turut prihatin,,,knp tdk grilya bikin unamet dying y,,

    • Malam Mas Kafil. Ada koreksi hasil pengumuman jajak pendapat Timor Timur 4 September 1999. Kita sama -sama meliput, dan menjadi saksi sejarah. Bagaimana suka duka mencari makan di kota Dili. Saya masih bisa makan nasi ransum TNI karena tinggal di RT Pang. Saya termasuk yang keluar paling akhir, ujung November 1999. Dari Dili – Atambua, Kefamenanu dan ke Oecusi, Ambeno. Pengumuman hasil jajak pendapat oleh Ian Martin bukan di Hotel Tourismo tetapi di Hotel Mahkota Dili. Antonius Taolin, Gatra

      • Terima kasih pembetulannya Bung Antonius Taolin. Sebagian peristiwa yang tulis di sini hanya memanfaatkan daya ingat. Karena tulisan ini saya buat sesudah peristiwa 10 tahun berlalu. Dengan ini kesalahan telah diperbaiki. Salam.

    • sering2 share ya kalo masalah sejarah..saya suka tulisan sejarah

  3. Kenapa tulisan ini tidak dilengkapi dengan foto2 jurnalis? to prove something

  4. semoga tetap berada pada jalur kebenaran dan kejujuran…..org spt anda banyak dibutuhkan.

  5. Mohon kalau diizinkan saya share tulisan ini di akun FB, saya tunggu izinnya. Terima Kasih

  6. izin copas di socmed sy pak

  7. Catatan yang luar bisa menarik Kafi. Saya tak bisa berkata-kata apalagi. Sebagian dari bangsa ini, memang lebih suka memilih menjadi bangsat asing.

  8. makasih udah share mas.. sejarah sering diputarbalikkan.. semoga Indonesia tetap jaya

  9. minta izin share d FB saya mas…

  10. Sebodoh itu kah presiden-presiden kita? (dari Bj habibi sampai SBY yang mau menerima hutang fiktif dan membayarnya dengan mengorbankan kita rakyatnya dengan mencabut subsidi dan menjual aset negara?) dan juga melepas Tm-tim .Ataukah memang siapapun presidennya tidak ada yang mampu untukm melawan atau berkata tidak pada IMF? kalau begitu Indonesia belum merdeka, Indonesia membutuhkan seorang presiden yang lebih berani dari Sukarno jika ingin terlepas dari tekanan IMf dan negara asing

  11. Mas Kafil, terima kasih atas tulisannya…. Izin share ya di FB

  12. Sungguh Ironi, bangsa Indonesia yang dulu mengganyang ASing, mengoyak-oyak tubuh mereka ketika ingin mencengkramkan kukunya dibumi pertiwi, menepis mentah-mentah ideologi ASing. Berjuang mati-matian untuk dapat BEDIKARI!
    Kini mulai manut hanya karena dijanjikan uang khayalan dari ASing. Telah dirobeknya dada Garuda, sayapnya pun patah, mereka meracuni Garuda dengan bau lembaran kertas yang ditulisi nominal.

  13. sungguh menyesakkan dada…saya baru lulus SMP N 1 Dili n sudah pulang duluan ke jawa sebelum referendum pak…dan baru tau keadaan sebenarnya yg saat itu terjadi…thanks pak untuk catatanya….Timor-timur meninggalkan kesan yg dalam buat saya n keluarga…karna saya sejak umur 2 tahun sampai lulus SMP disana, bersama orang tua yg merantau…teringat kata2 bapak saya beberapa tahun setelah Tim-tim merdeka….” andai Tim-Tim tidak merdeka…mungkin bapak sudah berangkat Haji”…

  14. Mas Kahfi, mohon izin untuk bisa share ke teman2 di milis saya….

  15. hanya sekedar cerita cos gw gak liat lgs, lagian dewa banget jalan santai menuju pelabuhan sambil dikelilingi tembakan…. gak takut peluru nyasar bos

  16. Tidak ada tertulis jalan santai di situ. Yang ada tegang, takut, mencekam. Baca dong,

  17. Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

  18. Yoshin, sengaja tulisan itu dibuat bedasarkan kronologi [urutan waktu], supaya jelas. Yang anda kutip itu tak bercerita penulis pergi ke pelabuhan [4 Septermber, 199] . Liat 5 September 1999: “Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan…”

  19. Terima kasih, mas Kafeel. Bolehkah tulisan Anda saya share di fb?

  20. memang sifat manusia adalah survival namun identik dengan menjual diri…lebih rendah dari melacurkan diri karena yg dilacurkan adalah bangsanya/orang banyak…..

  21. Semoga generasi muda Indonesia sadar dan menjadi pelajaran agar tidak terulang lagi di masa depan. Saya ikut share juga pak..

  22. hal diatas sesuai dengan cerita dari pasukan TNI yang bertugas saat itu

    • kekuatan akan nasionalisme dan patriotisme akan mengoyak kerendahan martabat sang pelacur bangsa

    • Penulis ini menuliskan pengalaman pribadi dan tulisannya sesuai dengan perasaan. Kucuran dana dari IMF aka US untuk Indonesia melepas Timor Leste? Apakah penulis sudah membaca dokumen CIA, pertemuan Sekertaris Negara Hnery Kissinger dengan Soeharto sebelum Indonesia menjajah Timor Leste? Amerika mendukung penuh penjajahan Indonesia di Timor Leste. Amerika memberikan bantuan militer sejak tahun 65 karena ketakutan mereka terhadap ideologi komunis = perang dingin kekuatan ekonomi antara rusia dan amerika…. Menjadi wartawan jangan membodohi

      • apakah indonesia tampak menjajah…
        setau sy sejak kecil timor2 juga dibangun seperti propinsi lainya malah terkesan dimanjakan… apa pengertian menjajah. sy kira anda juga tidak bodoh

  23. […] Sampai hari ini Indonesia masih menyicil utang kepada IMF, untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan. Saya harap generasi muda Indonesia tidak sebodoh para pemimpin sekarang. Sumber: https://kafilyamin.wordpress.com […]

  24. mas kafil, terima kasih sudah berbagi kenangan yang mungkin tidak indah,namun berharga ini. boleh saya sebar luaskan kepada kawan-kawan kita yang lain? kalau boleh terima kasih, kalau ga boleh maaf saya lancang sudah membagikannya terlebih dahulu, baru minta izin.

  25. […] dengan judul asli “Menit-menit yang luput dari catatan sejarah Indonesia“ ini sengaja saya copas dari blog penulisnya, Kafil Yamin, agar semakin banyak catatan […]

  26. Thx atas sharenya yang jujur dan membuka fakta baru dalam diri saya.

  27. Tidak apa-apa Mas Apit. Silahkan. Saya tulis di sini karena waktu itu tak mungkin ada media yang mau muat.

  28. saya tidak membenci negeri ini, tapi saya benci pemerintah di negeri ini…
    bahkan bahasa Indonesia hasil perjuangan Pemuda asli dari bangsa Indonesia pun perlahan rapuh…

  29. […] Taken from : https://kafilyamin.wordpress.com/2011/02/18/menit-menit-yang-luput-dari-catatan-sejarah-indonesia/ […]

  30. bang izin share ya

  31. senang mengertahui ada saksi sejarah lain dari media yang tersisa hati nuraninya,tulisan ini membantu memulihkan image saya mengenai pewarta media lokal,semoga wartawan generasi baru dengan image kacangannya dengan bungkus mentereng dapat belajar dari bapak ini

  32. mohon ijin share di socmed ya Mas Kafil

  33. Saat ini saya sedang tugas di Atambua, Belu. Yang Mas Kafil ceritakan, memang sama tentang tidak fairnya peran PBB, cerita yang saya dapat dari beberapa kenalan saya yang memang dulu warga Timor Timur dan memiliki hak pilih pada saat jajak pendapat, bahwa jajak pendapat tersebut memang penuh rekayasa, TNI sekalipun harus berada di ring 3 area TPS pada saat itu, dan hanya tentara UNAMET yang ada di ring 1 pada saat itu, terutama tentara Australia dan pastinya dengan restu dari Amerika sebagai biang keroknya. sayangnya beberapa dari mereka yang pro integrasi bahkan ada yang ditodong senjata oleh tentara PBB pada saat di bilik suara, dan dipaksa pilih merdeka. kasihan mereka, korban dari perebutan kekuasaan dan ideologi omong kosong negara barat. Sedangkan di Atambua sendiri pada saat itu ada 2 korban personil UNHCR yang di bakar hidup2 di alun2 Atambua oleh pengungsi, mungkin saking kecewanya saudara kita pada saat itu. tapi bagi mereka itu semua hanya menjadi kenangan pahit yang enggan mereka kenang.
    Yang saya pantau sekarang di Atambua. BBM negara baru tersebut masih mengandalkan selundupan dari NTT. Miris, sekali lagi saudara2 kita disini yang kena impactnya, biaya hidup jadi mahal, karena BBM sering langka.
    Kalau negara kita mau maju, harus berhenti berharap dari bantuan Asing. kita semua tahu, apa yang selalu mereka cari.

  34. Terimakasih, saya jadi dapat tulisan pembanding. Soalnya dari berita yang saya baca, fakta yang disajikan berbeda. Malah tulisan di buku yang judulnya “keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa” judul tulisannya “ke timor timur aku kembali” (kalo nggak salah) penulisnya (yg saya lupa namanya) mengaku dia menyaksikan orang-orang pro integrasi yang maksa supaya pro kemerdekaan menjadi pro integrasi. Malahan ada “serangan fajar” di hari H referendum untuk membujuk orang yang pro kemerdekaan untuk merubah sikap. Malahan katanya, gedung tempat dia berkantor diserang oleh (kemungkinan) anggota TNI.

  35. ijin share via FB ya ..

  36. Politik TL tdk seperti matematika, 1 + 1 bisa menjadi 9. Inilah politik clandestin yg dijalankan oleh masyarakat dan pemuda dalam kota….

  37. Bentuk ketidakmampuan pemerintah menghadapi asing, oh… mana kedaulatan….? bang kafee izin share fb ya?

  38. hedeh, jebul ngono kui to pak?jaan…, negeri ini bagaikan kembang desa yang diperkosa bergilir sampe hidung-telinga nya

  39. mas kafeel, saya ijin share juga

  40. Ijin share Mas.. Terima kasih sudah berbagi cerita pada kami..semoga diberkahi selalu..

  41. Reblogged this on Sugeng's blog and commented:
    Tulisan yang menggugah…

  42. Ijin share Mas..sy jd teringat masa2 itu. Saya ke jawa duluan seminggu sebelum referendum krn harus sekolah. Sekolah sudah ga ada aktifitasnya sebulan. Tapi keluarga saya ada setelah pengumuman referendum dan mengungsi ke atambua (sy tinggal d maliana). Beberapa saudara angkat saya hilang saat pengumuman itu. Entah bagaimana mereka memilih, tp mereka ketakutab dan pergi entah ke mana. Mahasiswa dr timtim jg ada yg bercerita saat itu saking mencekamnya, sembunyindi got selama 3hari.
    Tulisan yg bagus Mas..

  43. Mas,sy asli penduduk Atambua-Belu,sy tdk melihat langsung kejadian referendum di Timor Timur,tp sy dan smua masyarakat Belu,menyaksikan sendiri eksodus besar2an tahun 1999,,kasihan mereka,,harus hidup dipengungsian,tercerai berai dr keluarga,bahkan ada yg baru bertemu setelah sekian lama,,sanggupkah kita merasakan spt yg mereka lakukan??meninggalkan tanah kelahiran,tanah tumpah darah,keluarga dan harta benda kita,,dan terpaksa hidup di pengungsian demi satu tekad”Mati Hidup dengan Indonesia,,”
    miris,,,seandainya pejabat2 pengambil kebijakan itu,,merasakan sendiri keadaan sodara2 kita tsb,,mereka pasti kapok,mengambil keputusan yang spt itu,,

  44. saya menangis bacanya pak, saya ada di pulau Timor sejak tahun 2007 tapi baru kali ini saya tahu cerita dibalik lepasnya TL lewat tulisan bapak
    saya sempat kenalan dengan Polisi Dunia yg bertugas di Timur Leste, saat itu dia sedang belanja di Kota Kupang, dan dalam obrolan itu dia sempat memperlihatkan kerusuhan lewat foto2 yang diabadikan.
    ijin copas via media sosial pak
    dan terimakasih atas tulisannya

  45. Mas Kafil izin copas catatannya, terimakasih sebelumnya

  46. Kebetulan keluarga saya termasuk saksi hidup kejadian2 itu..bahkan rumah keluarga saya juga dijadikan basecamp kampanye pro integrasi…. kecurangan mereka (PBB dan Australia) sudah jadi rahasia umum di sana. tidak ada cerita kabupaten2 di sana di kuasai pro kemerdekaan, hampir total pro integrasi.

    Ahh…cerita klasik…di mana ada uang, di situ ada hasil………… bahkan harga diri bangsa pun rela dilepas…

    Trim’s udah share, kang🙂

  47. manusia penuh rencana, Maha Pencipta yang menentukan..
    Sesak dada ini membaca tulisan bang kafeel, membayangkan, dan kembali mengingat kembali tayangan stasiun tv saat itu. opini publik di bentuk pada saat itu………..
    semoga mereka yang berjuang mendapatkan “kebahagian dan kemerdekaan di hatinya” MERDEKA…….

    *ijin share ya bang kafeel http://www.st4bilo.com/2013/07/menit-menit-yang-luput-dari-catatan.html

    semoga kita semua tak luput dari nikmat maha pencipta. amin

  48. diriku mengutuk negara ini saat kebodohan yang bernama reformasi memaksa Bapak Bangsa Soeharto lengser dan berakibat segala macam petaka yang kita rasakan sampai saat ini…

  49. 78.5% rakyat Timor Leste memilih merdeka daripada bergabung dengan Indonesia. Mereka mempunyai alasan yang sangat kuat untuk itu.
    Kekejaman tentara indonesia dalam upaya menaklukkan timor leste menjadikan mereka sebagai pelaku genocida terbesar setelah Nazi Jerman. Diperkirakan 180.000 rakyat Timor Leste meninggal selama pendudukan oleh tentara Indonesia. Sebagian besar karena kelaparan.
    Aneh sekali sebagai wartawan bung Kafil tidak mampu menangkap aspirasi rakyat timor leste bila memang saat itu bung Kafil ada di timor leste. Atau mungkin bung Kafil tidak ingin mengungkapkan kebenaran yang ditemukannya?
    Sebagian besar rakyat indonesia samasekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di timor leste. Hal yang sama juga terjadi pada rakyat jepang yang tidak mengetahui kekejaman yang dilakukan tentara dai nippon di negara-negara jajahannya. Rakyat Jerman juga tidak banyak yang tahu kekejaman yang dilakukan tentara nazi dengan eitzen gruppen dan kamar gas-nya.
    Kesalahan dan kekejaman (tentara) indonesia di timor leste sebaiknya diungkapkan agar bangsa ini tidak mengulanginya, dan bukannya ditutup-tutupi dengan cerita manis. Kasihan para prajurit yang kehilangan nyawa sia-sia dan yang melakukan kekejaman karena indoktrinasi dari para pemimpinnya. Mereka (para tentara yg pernah bertugas di timor leste) yang masih memakai nuraninya dapat bercerita dengan jujur untuk pembelajaran bangsa indonesia.

    • Ya iyalah mending merasakan kesengsaraan sendiri daripada sengsara dibawah ‘pemerintahan’ manusia-manusia inlander. Para pengecut yg takut sama IMF. Menjual bangsanya cuma untuk ‘hutang yg gak pernah nampak’ (bayar bunganya lagi).
      Hadeh…

  50. Mas Kafil, saya tercenung membaca catatan Anda. Saya sudah share di FB. Berapa banyak kita, apa pun profesi kita, yang memiliki sense as one nation. Saya teringat Solidamor, dan aktivis mereka seperti Bonar Naipospos dll yang tentu mendapat kucuran dana untuk melakukan kampanye di Indonesia.

    Papu dan Aceh saat ini “masih” bagin dari NKRI, tapi rasanya ada banyak aktivis LSM yang tengah mengisi lumbung rumah mereka dengan fulus asing. Tentu bukan hal gratis. Hingga tahun kemarin saya masih dipercaya oleh sebuah lembaga asing terkemuka sebagai pentejemah laporan dan proposal beberapa LSM Indonesia dan Timor Leste. Dari Timor Leste ada MCE-A (singkatan dalam bahasa Portugis). LSM ini punya grand program dan skema dana yang besar pula–kebetulan saya yang terjemah ke bahasa Indonesia. Namun sebagai penterjemah saya cukup cerewet dan “ikut campur”. Tadinya saya ditawarkan untuk dipekerjakan ke lembaga itu, tapi mungkin dianggap “tidak koperatif”.

    Saya tidak peduli kehilangan order dari mereka. Saya enjoy saja pekerjaan saya di sektor pariwisata di NTT.

    Terima kasijh atas catatan Anda.
    Salam dari Flores

  51. Ini adalah kisah tragis yang menimpa bangsa kita, dkibuli dan dobodohi oleh orang asing yang memanfaatkan jalur UNAMET. Dan kita terlalu lugu juga, seakan orang asing itu orang yang jujur dan tulus juga.

  52. Terima kasih Teman, sejarah kelam telah terjadi saat ini sdh 14 tahun kami disini tapi nasib rakyat kami tetap seperti ini… semoga kesaksian anda menjadi referensi bagi bangsa ini untuk melihat bahwa sanggatlah mahal sebuah desintegrsai Bangsa… penderitaan panjang bagi sebuiah generasi yg cinta akan tanah air RI.. terima kasih teman… anda adalah Sahabat yg bisa menilai ketidakadilan di dunia ini…

  53. timor leste gak penting bagi indonesia..buat rugi aja…tokh dalam sejarahpun bung karno sang bapak bangsa tak pernah mengklaim timor-timur dalam nkri meski saat itu tni tengah kuat2nya dengan bantuan soviet…tim2jadi ganjalan diplomasi RI…dan biaya mempermak daerah minus potensi itu jauh lebih mahal dikeluarkan pemerintah daripada dana tuk atjeh maupun papua yg justru menyumbang lebih banyak ke kas negara. Dan habibie yg teknokrat sejati berhitung untung rugi lebih cermat dari soeharto yg dibodoh2i USA tuk mengirim tentara guna menginvasi tim2…tim2join ke indon juga karena STRATEGI POLITIK cantik yg diinspirasi oleh cia juga..agar tim2tak jadi komunis…jdi fitnah klo tim2lepas demi KREDITAN…HABIBIE tak semurah itu harga dirinya..klo dia mau..JERMAN SAMPAI DETIK INI MENAWARKAN KEWARGA NEGARAAN KEHORMATAN TUK BELIAU PLUS POSISI STRATEGIS DI PERUSAHAAN AIR BUS…

    • bung arif…..memang timor leste gk pnting bgi indonesia…kebnding papua…yg banyak menyumbang ke kas negara..

      tapiiiiii….di bodohi juga kan org papua????pemerintah pusat ad buat kasih apa untuk org papua???madu di isap ampas di sisain…baru di olah untk makan…bras 1 krong 2,juta 200..wajar gkkkkkkkk?????di jawa brapa harganya??394 ribu kn???????

    • @Arif Lubis >> Tentang Habibie saya gak berani menyangkal, karena saya gak begitu paham dengan kondisi yang anda jelaskan. Tapi kalo anda anggap TL tidak penting, berarti anda juga berusaha mengorbankan harga diri anda saat ini, dimana ada orang-orang yang mendukung anda tapi anda malah lebih setuju jika mereka terlantar dan sengsara bahkan anda lebih rela jika mereka di”korban”kan,, renungkan kembali Bung,,!!!

    • mungkin buku ini bisa menjadi tambahan referensi bagi kita agar bisa menjadi lebih objektif. di dalam nya ada beberapa data juga. silakaan….

      http://www.goodreads.com/book/show/1301768.Detik_Detik_Yang_Menentukan

  54. Sebuah renungan yang bagus….. ijin share Bang. Tks.

  55. minta ijinhare yah kang…

  56. maz kafil…bapa saya yang adalah seorang kepala/pemimpin mahidi,,memilih untuk kembali ke timor leste..karna mungkin slah menilai..ato ap??
    karna meski 1000 x anak bangsa yang jadi korban demi merah putuh,sampai hari ini tidak tersentuh,sampai saat ini banyak yang masih tinggal di gubuk dan numpang di tanh org….ini tanggung jawab pemimpin atau???parahhhh banget pemimpin indonesia skrg…!!!slm

  57. ijin share om

  58. Reblogged this on santipanon and commented:
    why… why……………?!

  59. Kalau membuka lembaran sejarah, tidaklah megherankan, bahwa tampak konspirasi beberapa Negara, terutama Australia, Belanda dan Inggris dalam upaya menghancurkan NKRI.
    Lihat tulisan: “Pembantaian Westerling dan Puputan Margarana, Bali: Australia Dan Inggris Ikut Bertanggungjawab”, di:
    http://batarahutagalung.blogspot.com/2013/07/pembantaian-westerling-dan-puputan.html

    Kumpulan tulisan saya dan artikel sehubungan dengan masalah Indonesia vs Belanda, Inggris dan Australia dapat dibaca di weblogs:
    http://batarahutagalung.blogspot.com,
    http://idonesiadutch.blogspot.com,
    http://10november1945.blogspot.com

  60. Pak dimana bukti dari statement “IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.”

    No offense pak, tapi terlepas dari tujuan tulisan ini secara keseluruhan, kalau satatement itu tidak terbukti ya fitnah buat habibie secara terselubung namanya…

    Bisa tolong dijelaskan ?

  61. Joko357, tekanan kepada Indonesia untuk melepas Timtim melalui bantuan/utang sebenarnya sudah jadi berita umum, — terutama di media asing. Saya punya sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan untuk tulisan ini, tapi untuk kepentingan etika, saya tidak bisa sebutkan semua sumber di sini, kecuali ada keperluhan hukum untuk mengungkapkannya.

    Saya kira ini bukan ‘fitnah terselubung kepada Habibie’. Dalam hubungannya dengan IMF dan Bank Dunia, Pemerintah Indonesia diwakili sebuah tim ekonomi, tidak oleh Presiden.

    • artinya presiden tidak sepenuhnya memegang kendali atas kerja dan tindakan ti pak ya, karena kebijakan dan siasat sudah diberkan ke tim? gitu ya?

    • Keperluan pendidikan bagi pembaca dong. Anda berani menuliskan sebuah berita yang katanya berdasarkan fakta… yang harus anda lakukan adalah menunjukan.

    • Pa Kafil Yamin
      bodoh sekali ya si Soraya Oktaviani (@ayaoktaviani). Dia tidak tahu etika. Saya saja yang pandai tidak SEBODOH Soraya Oktaviani (@ayaoktaviani).
      Memang dia sebagai apa? maksa-maksa pa Kafil untuk menunjukkan bukti bahwa “IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.” atas nama PENDIDIKAN.
      Bodoh dia, tidak tahu diri, tidak ngaca nyuruh-nyuruh Pa Kafil.

    • izin copas dan share pa. Tulisan anda mengispriratif

  62. Reblogged this on Journal and Journey and commented:
    Perlu dibaca pemerhati Indonesia dan sejarah Indonesia

  63. Reblogged this on KiDemangsCorner and commented:
    speechless………………

  64. pada kenyataanya… kita memang butuh sosok pemimpin cerdas, Soekarno. dan seseorang seperti Soekarno tidak akan terlahir dua kali.
    terimakasih sudah memposting tulisan bagus seperti ini & membuka sejarah kelam Indonesia lainnya untuk orang muda seperti saya, Bung🙂
    sangat menarik

  65. terimakasih atas info lembaran sejarahnya…ikut share ych pak

  66. Brotha, izin share di akun FB-ku.

  67. mas kafil saya izin share kepada putra-putri ganesha

  68. Setelah share, setelah memaki, setelah mengelus dada, lalu apaa?

  69. Reblogged this on awansanblog and commented:
    maaf kali ini saya OOT, tapi ini sangat menarik untuk di reblog sebagai pengetahuan kita semua, walau nasi sudah menjadi bubur

  70. Artikel yang membodohkan… Anda kurang membaca dokumen sejarah yang sudah tersedia. Sebagai “wartawan” seharusnya anda tidak menulis fakta hanya dengan pengalaman pribadi tetapi juga mencoba cari tahu fakta lain berupa dokumen dan wawancara dengan pihak-pihak lain.

    • Aya, kamu bicara apa? Mengerti jurnalisme? Yang intinya pergi ke lapangan, liat sendiri dan alami sendiri. Tahukah kamu selama di lapangan saya diwawancara oleh televisi ABC Australia dan Radio Jerman via telepon? Itu artinya mereka ingin tau kesaksian orang di lapangan.

      Jurnalisme yang waras tentu saja menulis sesuai dengan yang ia alami, bukan menurut pengalaman orang lain. Kamu pikir untuk apa seorang wartawan jauh-jauh pergi ke lapangan kalo hanya untuk menulis berdasarkan ‘dokumen’?

      Memang ada sejenis wartawan ‘kompilasi’, mudah-mudahan kamu tidak termasuk, yang merasa punya pengetahuan cukup karena membaca beberapa ‘dokumen’ yang dia anggap eksklusif. Yang begini sebetulnya secara tak sadar sedang dibodohkan oleh pikirannya sendiri. Lebih parah kalo ia merasa bangga dengan ini.

      Wartawan yang bener memverifikasi dokumen yang sudah,ada, wartawan jawatan ‘memakan’ dokumen dan merasa bangga dengannya. Padahal banyak dari dokumen itu yang meragukan. Kalo benar-benar dokumen eksklusif tidak akan sampai ke tangan sembarang orang, apalagi wartawan jawatan seperti yang saya lukiskan.

  71. speechless dan berkali-kali tahan nafas saat membacanya..

  72. Reblogged this on A Precious Life Footprint and commented:
    Subhaanallaah, betapa banyak sejarah yang tak terungkap (kebenarannya)?
    Miris sekali,,,

  73. Reblogged this on Catatan Hati di Batas Cakrawala and commented:
    euh…. begini yang terjadi saat itu…

  74. […] Sumber : https://kafilyamin.wordpress.com/2011/02/18/menit-menit-yang-luput-dari-catatan-sejarah-indonesia/ […]

  75. Hanya bisa berdoa untuk saudara-saudara kita di pengungsian supaya dalam kebaikan.

  76. Reblogged this on Vita Hasyantiersi and commented:
    Saya selalu suka sejarah, penuh inspirasi dan pelajaran yang dapat dipetik. Tulisan dari Kafil Yamin ini benar-benar luar biasa. Mengungkap kenyataan yang menyesakkan dada dibalik konflik lepasnya Timor-Timur dari Indonesia yang pada saat itu kenyataan ini sebisa mungkin ditutup-tutupi oleh media.

  77. Reblogged this on Kmph-Lynx and commented:
    Meski sudah lama terjadi dan meninggalkan luka yang sangat dalam, ada baiknya untuk diingat kembali sebagai bahan muhasabah diri (nasional, kalau perlu)

  78. d setiap pengungkapan sesuatu pasti ada pro dan kontra ..

    saya harap kalian yg membaca ini ..
    jadikan cermin saja ..
    jangan kalian debatkan masalah kebenaran dari artikel ini ..

    intropeksi apa yg telah terjadi selama ini …

    #think smart brad and sis …

    *salam kemenangan*

  79. saya generasi 90-an asal Sumatera yang menerima begitu saja, waktu beragam media mengumumkan kemerdekaan timtim. T_T pedih dan terluka membaca faktanya.
    Timtim dalam kenangan..

  80. Reblogged this on Bekerja Untuk Keabadian and commented:
    Sejarah Lepasnya Timor Timur

  81. Salut, haru dan super kagum atas kesaksian Bung Kafeel. Begitu berharga sebagai sebuah penyaksian, menginspirasi, memberi energi dalam melatih melawan rasa takut. Kesaksian Bung Kafeel telah memulung puing-puing nasionalisme saya. Terimakasih atas semua itu.
    Tapi sependek pengetahuan saya, bagi saya apa yg dahulu dilakukan JAKARTA (Indonesia lebih sering ditentukan oleh Jakarta ) atas Timor-Timur adalah sebuah “invasi” sebagaimana yang masih terjadi pada provinsi lain sekarang ini. Dalam konteks kemanusiaan jelas sebuah kesalahan, sebagaimana juga pada Aceh, Papua, Sulawesi, Kalimantan dan seterusnya. Meskipun dalam kadar yang berbeda.
    Kemudian kesaksian Bung seputar referendum, saking luar biasanya, hingga berhasil menyeret sy ke dalam petualang Bung Kafeel.
    Pelaksanaan jajak pendapat, bagi saya adalah sebuah kesalahan lain pemerintah JAKARTA. Ibarat perampok yg tdk gentlement, perampok yg sama sekali tidak bertanggung jawab. Hanya cecunguk di hadapan negara drakula (bukan donor).

    Pengkhianatan JAKARTA atas kaum milisi pro-integrasi yang terakhir, sebuah ironi dan mega tragedi yang ditimpakan kepada para milisi, Eurico Guterres, Abilio Soares, Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, dkk. bahkan harus dipenjarakan oleh negara yang dicintai dan diperjuangkan dan dibelanya.

    Begitu menyakitkan mencintai merah putih yang ternyata mengkhianati dan memilih berselelingkuh dengan IMF. Saya teringat dengan cerita seorang pelajar Swiss, “semasa kecil ia begitu mencintai ibunya yang cantik dan sangat penuh perhatian kepadanya. Singkat cerita, begitu terpukulnya ia ketika dewasa setelah tahu bahwa ibunya ternyata seorang pelacur.”(Secara pribadi sy masih sangat menghormati pelacur, karena ia hanya menjual apa yg dititip Tuhan pada dirinya, kalo para elite menjual apa yg dititip Tuhan pada orang lain.)
    Karena itu, belum terlambat untuk menjebol konstitusi, merebut kembali kedaulatan dari mereka yg selalu menjanjikan perubahan padahal sesungguhnya mereka yg harus dirubah. Sebelum ada lagi menit-menit lain yang luput dari catatan di belahan bumi yang lain di republik presidensial-parlementer ini. Salam hormat Bung Kafeel.

  82. Terima kasih sudah share infonya bang.
    Semoga bisa menjadi sebuah peringatan dan menambah kesadaran pembacanya.
    Izin share ya bang

    Terima Kasih

  83. Membaca berbagai komentar yang masuk, tidak kalah menarik dari artikelnya sendiri. Mungkin memang sebagian dari kita masih belum cukup dewasa untuk menerima bahwa setiap peristiwa sejarah, cenderung dituliskan menurut kepentingan masing-masing pihak-pihak yang terlibat, sehingga selalu muncul berbagai versi yang kadang saling bertentangan. Bahkan para jurnalispun belum tentu terlepas dari kepentingan atau keberpihakan, naluri yang manusiawi sekali meskipun kontradiktif atas hakikat jurnalime itu sendiri. Pertanyaan mendasar adalah: apakah kita bisa menerima perbedaan penulisan sejarah itu, tanpa tendensi untuk menghakimi bahwa satu versi adalah pasti sebagai kebenaran, dan versi yang lain adalah pasti sebagai kepalsuan? Sedangkan kita hanya manusia?

  84. Mas Kahfi, mohon izin untuk bisa share di page saya.

  85. Kisahkan terus bang, mudah2an masih banyak generasi kami yang mampu berkata “DEMI MERAH PUTIH” dengan sepenuh hatinya, amiin

  86. maaf ijin share ya Pak.

  87. masalahnya adalah para pemuda Indonesia sekarang sedang diseting untuk mengikuti tren kebarat-baratan sehingga bayangannya artis…
    Yang berpengetahuan malah tidak dihargai, jadinya ya malas.

    Aneh memang negeri ini, pemimpinnya teriak dan ngomong ingin memajukan negeri tapi kenyataannya mereka malah membuat Indonesia tambah hancur…

    Jadi gemes sama pemerintah boneka Indonesia ini…
    Perlu direvolusi dan dibumihanguskan dulu kayak di Cina biar Indonesia bisa maju.
    Cumen pejabatnya sebagian besar adalah koruptor jadi ya repot juga.

    Omdo aja kalau di TV, kenyataan mah semua juga udah tahu sendiri. G ada yang jelas.

  88. Reblogged this on Dokumentasi @teguhn and commented:
    Merdeka kah kita??

  89. Reblogged this on Vidia's Jotter and commented:
    Indonesiaku:(

  90. gak bisa berkata apa2 meski sampai titik terakhirpun.

    Ijin share ke twitter ya. tulisan yang menarik.

  91. ijin share om🙂

  92. miris saya bacanya, terimakasih sudah berbagi

  93. MARI KITA GERAKKAN REFERENDUM TAHAP II, UNTUK KEMBALI BERINTEGRASI KE INDONESIA.

    JANGAN HANYA BERSEDIH DAN MENANGIS SAJA.
    SAYA YAKIN 90% ORANG TIMOR LESTE MASIH CINTA MERAH PUTIH.

    KEMANA NIH BIN, JANGAN KERJANYA HANYA MENGHARAP DANA AMERIKA DAN AUSTRALIA SAJA MELALUI PROGRAM TERORIS PALSU ITU.

    TIMOR LESTE KELEN GARAP BIN…

  94. mas kafil ijin share ya, walau aku mengetahui cerita ini juga sudah “membubur” heheh

  95. Bagi saya Pribadi =
    Kisah “Lepasnya Provinsi Tmor-Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia di Agustus 1999” ini,
    Sangat Ironis bagi Bangsa Besar, seperti = Bangsa Indonesia
    ( Yang Memiliki “Wawasan Nusantara” =
    Setiap Jengkal Keadaan di dalam Wilayah NKRI adalah Tanggung-jawab dari Semua Anak Bangsa Indonesia )..

    Masalah Politik lain, seperti =
    1. Batas Wilayah dengan Negara Tetangga Australia,
    2. Lepasnya Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan ke Tangan Negara Tetangga Malaysia.

    2 Contoh Masalah Politik di atas, yang Menunjukkan =
    “Kegagalan Lobi Politik dari Negara Indonesia di Dunia Internasional”..

    Semoga Kita sebagai Bangsa Indonesia di Generasi berikutnya =

    1. Tidak Lengah dan Semakin Cerdas dalam Lobi-lobi dan Argumentasi Internasional,

    2. Pintar-pintar dalam membaca Situasi Politik Internasional, serta

    3. Menjauhi “Kepentingan Sesat yang Merugikan”,

    sehingga = Keutuhan dari Negara Tercinta Kita, NKRI (Negara Kesatuan Republk Indonesia) Tetap Terjaga dan Lestari..Amin..Amin..

    Sebagai Bahan Renungan yang bisa Melemahkan Posisi NKRI,
    di Dunia Internasional =

    1. Masih Bergejolaknya “Masalah Politik” di Provinsi Aceh dan Provinsi Papua.

    2. Batas Wilayah dengan Negara Tetangga di Darat di Pulau Kalimantan.

    3. Batas-batas Wilayah Perairan di seluruh wilayah NKRI, terutama yang berhubungan langsung dengan Negara-negara Tetangga = Singapura, Malaysia, Pilipina, Papua New Guine..

    Semoga NKRI = Tetap Lestari dan Sejahtera..Amin..Amin..

    Salam Indonesia Tercinta

  96. […] Artikel selengkapnya mengenai kecurangan yang terjadi pada saat jajak pendapat dapat dilihat di sini. Tentunya peristiwa ini akan menjadi pembelajaran berharga bagi kita untuk berhati-hati dengan […]

  97. Ijin share di FB mas….

  98. terima kasih Pak Kafil,
    tulisannya mencerahkan sekali🙂

  99. Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” terus hasil bumi timor leste selama 24 tahun itu kalian bawa kemana???? hahaha….. dana yg dikeluarkan ga sebanding dengan penghasilan minyak timor leste…yg hampir 90% dibawa ke pulau jawa…..toh semua bangunan di timor leste dah dibakar ama pro-integrasi…..
    anda susah menemukan pro kemerdekaan ?? mereka bersembunyi takut di intimidasi oleh tentara “TNI” dan pro integrasi “pake senjata”.!!!!
    ga ampe sebulan disana aja sudah so toi…LoL

  100. Fuck, selain minyak, Timor-Timur tak punya kekayaan alam bernilai, juga hasil bumi. Makanya semua pembangunan dibayai Pemerintah Indonesia. Minyak Celah Timor waktu itu belum dieksploitasi, boro-boro diambil. Hasil pertanian untuk orang Timtim saja tak cukup. Kamu keliatannya kurang pengetahuan tentang ‘negara’ mu sendiri. Saran saya banyak-banyak belajar dulu.

  101. Kebodohan politisi Indonesia adalah memerintahkan TNI menyerbu Timtim;
    Kedunguan terbesar poliitisi Indonesia adalah: memerintahkan TNI menduduki Timtim;

    Tidak ada opsi paling pragmatis untuk menghentikan ketololan itu selain melepas Timtim. Hanya negara yang idiot yang menjajah bangsa lain tapi rugi secara finansial!! That’s exactly what Indonesia had in East Timor..

  102. Bang Kafil,
    Seorang teman mengirimkan alamat blog ini ke saya. Sesuatu yang saya nggak pernah dengar dan saya sempat menyalahkan negara saya sendiri (Indonesia) atas apa yang TNI lakukan di Timor Leste ini. Saya beberapa bulan ini sering datang ke Timor Leste dan saat ini pun sedang berada di Tanah Lorosae. Hati saya miris melihat keadaan bangsa ini. Perekonomian dikuasai oleh orang asing. Rakyat asli hidup dalam tingkat ekonomi yang sangat memprihatinkan (kecuali mereka yang duduk di pemerintahan).

    Seperti yang Bang Kafil tulis di awal “nasi sudah menjadi bubur” apa yang sudah terjadi tidak bisa kita sesali, yang sekarang kita punya adalah harapan untuk melihat saudara kita ini mulai membangun negerinya secara menyeluruh sehingga semua bagian dari orang-orang yang ada di bangsa ini bisa menikmatinya.

  103. Bung Kafil, mungkin perlu dikoreksi karena di Dili tidak ada Patung Maria, tetapi patung Kristus Raja. Thanks.

  104. ijin share ke FB mas, smoga ga terulang kembali kejadian seperti ini di NKRI, amin

  105. Mengharukan sekali, ,
    Saya izin copas saya di fp saya “Potret Sejarah”
    Lumayan membernya sekitar 7000an lbh, , ,
    Semoga bermanfaat, , ,

  106. Bang Kafil, saya penyuka sejarah, salahsatunya soal Timor Leste. Saya ijin copas tulisannya untuk saya terbitkan di blog saya, salahsatu alasannya, lumayan banyak tulisan tentang Timor Leste dikomentari baik itu oleh orang Indonesia maupun Timor Leste.

    Saya senang dengan tulisan ini. Mantab!!

    Tq.

  107. for you information Boon Kafil, not Laffae but Lafaek its means Buaya, he is from district viqueque. Best

  108. invasi ke tim tim itu keserakahan orde baru.. pantas kalo jend” nya sekarang ngumpet msk lubang tikus. pro integritas hidup miskin tidak jelas..
    pengalam kasus tim tim sangat memberi pelajaran dan jgn sampai papua menjadi tim tim kedua..
    salut untuk om kafil semoga ilmunya dapat diwariskan ke generasi penerus.. para pemuda pemudi idealis” indonesia..

  109. Trima kasih tulisannya. Sy malu jadi warga negara indonesia

  110. ijin share di blog saya ya pak

  111. numpang share tulisannya ya mas kafil…

  112. Reblogged this on Xhare and commented:
    Inilah yang menjawab beragam tanya dalam benakku tentang apa yang terjadi di tahun 1999 .

  113. tks pak Kafil, sepertinya masih berlanjut nih tangan2 asing dan ateknya…

  114. MENTARIPOKER PROMO..!!!
    PARA PECINTA MENTARIPOKER SEKARANG INI
    KAMI MENGADAKAN PROMO UNTUK SEMUA PEMAIN
    BAIK YANG BARU AKAN MENDAFTAR..ATAUPUN YANG SUDAH
    MENDAFTAR…
    PROMO APAKAH ITU?
    NAH UNTUK PARA PEMAIN YANG MELAKUKAN DEPOSIT AKAN DI BERIKAN BONUS BERUPA CHIP SEBESAR ANGKA DEPOSIT MEREKA
    sebagai contoh: pemain melakukan deposit sebesar Rp.50.000
    maka setelah mengklaim bonus.. chip yang diterima pemain ada 50.000 + 50.000
    MENARIK BUKAN??!!
    JANGAN TUNGGU LAGI SEGERA MARI BERGABUNG DAN BERMAIN
    BERSAMA DI MENTARIPOKER.COM

    SYARAT & KETENTUAN
    1.bonus PROMO akan di kirimkan secara langsung setelah pemain melakukan deposit (baca keterangan cara klaim bonus dibawah )
    2.para pemain tidak bisa melakukan
    WD sebelum turnover/fee/pajak belum mencapai 30x lipat dari angkat deposit
    akumulasi turnover permainan bisa di cek melalui live chat kami…
    3. min deposit 50rb
    max deposit 200rb
    untuk para pemain yang melakukan deposit diatas 200rb rupiah.. maka yang dihitung untuk mendapatkan bonus promo
    hanya 200rb
    4.apabila 1 pemain melakukan deposit sebanyak 50rb akan mendapatkan bonus 50rb.. dan apabila chip habis dan melakukan deposit 50rb
    lagi maka harus menunggu selama 6 jam terlebih dahulu sebelum dapat mengklaim bonus prom0 dari angka deposit..
    batas maksimal klaim bonus tetap max deposit 200rb per hari
    5. Klaim Promo bonus berlaku 1 x 12 jam dari jam register/deposit
    6. Promo bonus dapat berakhir sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan secara lisan maupun tulisan (bonus yg diklaim sesudah tanggal promo berakhir tidak akan kita layani).
    7. Keputusan dari pihak mentaripoker adalah MUTLAK
    8.PARA PEMAIN DI HARUSKAN MENGKLAIM BONUS SEBELUM BERMAIN.. APABILA PEMAIN MELAKUKAN DEPOSIT DAN BERMAIN BARU MENGKLAIM BONUS.. MAKA TIDAK AKAN DILAYANI

    Cara Klaim Bonus PROMO

    1. Terlebih dahulu harus melakukan Registrasi di Mentaripoker
    2. Masuk ke menu memo, tulis form Klaim voucher untuk promo bonus
    3. Kemudian Tunggu balasan Memo dari admin mentaripoker akan memberikan kode voucher bonus .
    4. Setelah mendapatkan balasan dari admin masukan Kode voucher tersebut pada kolom keterangan di menu deposit .
    5. Livechat digunakan apabila Klaim bonus belum bisa di lakukan

    PERHATIAN..!!!! apabila pemain belum melakukan deposit dan mencoba untuk mengklaim bonus.. maka id akan kami blokir/delete secara permanen.
    setiap pemain yang telah mendapatkan code voucher.. walaupun tidak mengklaim bonus nya.. ditetapkan telah mengikuti promo mentaripoker dan diharuskan mengikuti aturan wd
    sebalik nya apabila pemain melakukan deposit kemudian bermain di table.. setelah bermain pemain melakukan WD maka tidak akan bisa mengklaim bonus
    Foto: MENTARIPOKER PROMO..!!! PARA PECINTA MENTARIPOKER SEKARANG INI KAMI MENGADAKAN PROMO UNTUK SEMUA PEMAIN BAIK YANG BARU AKAN MENDAFTAR..ATAUPUN YANG SUDAH MENDAFTAR… PROMO APAKAH ITU? NAH UNTUK PARA PEMAIN YANG MELAKUKAN DEPOSIT AKAN DI BERIKAN BONUS BERUPA CHIP SEBESAR ANGKA DEPOSIT MEREKA sebagai contoh: pemain melakukan deposit sebesar Rp.50.000 maka setelah mengklaim bonus.. chip yang diterima pemain ada 50.000 + 50.000 MENARIK BUKAN??!! JANGAN TUNGGU LAGI SEGERA MARI BERGABUNG DAN BERMAIN BERSAMA DI MENTARIPOKER.COM

  115. Mas.. Saya ijin share lewat facebook ya😀

  116. Reblogged this on Sambel Kecap and commented:
    Tulisannya bagus nih

  117. Andai tulisan Bapak dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar di negara kita, mungkin kita bisa mencegah lahirnya generasi-generasi komunis, dan melahirkan generasi-generasi yang cinta tanah air.

  118. Ijin share kang,untuk memulihkan ingatan anak bangsa yg sudah lupa akan sejarah

  119. Benar-benar membuka wawasan saya.. terima kasih bang.. saya makin tahu apa yg terjadi di timor-timor sana pada saat itu.. ada dibuku yang saya baca berjudul “sejarah prajurit para komando” , tulisan pak sintong panjaitan (panglima TNI yg bertugas disana waktu itu) dia juga yakin waktu itu kerusuhan bukan karena orang timor-timor asli yang ingin bebas,, melainkan adanya provokasi dari pihak luar.. karena pendekatan yg TNI lakukan waktu itu bukan melalui kekerasan, melainkan membangun infrastruktur yg pasti membuat orang disana senang, tapi karena adanya provokasi asing yg ingin timor-timor lepas dari NKRI kita, dan sifat pejabat yg korup waktu itu, muluslah rencananya,, sekarang dengar artikel ini, pikiran saya jadi semakin terbuka, terima kasih

  120. Terima Kasih tulisannya. Cukup mencerahkan.
    Izin dibagi ya bang.

  121. Kini yg dikhawatirkan adalah bumi Papua dg segala kekayaan SDA-nya, negara2 ego kapitalistik yg pro senjata nuklir/biologis yg punya kecenderungan berkonspirasi utk membahayakan masyarakat dunia! …. tampaknya telah melihat potensi lain dari SDA Papua, yaitu Uranium! …. Namun sekali lagi penghalangnya adalah Rakyat ( semoga termasuk seluruh rakyat Papua juga) serta Pemerintah RI sendiri!
    Dengan adanya OPM yg dipersenjata & dibiayai Asing utk memprovokasi antara rakyat di Papua-OPM-Pemerintah dgn membuat Opini Dunia agar mensyahkan pemisahan diri Papua dari NKRI, suatu konspirasi jahat pihak2 Asing, bukan! Lalu apakah Divide et Impera model seperti ini akan terjadi kembali di Indonesia setelah 69 kita Merdeka??!
    Jadi sangat perlu kewaspadaan penuh dari NKRI akan berulangnya kembali kejadian Lepasnya Timor Timur dan diklaimnya Celah Timor oleh konspirasi negara2 tak bersahabat karena kepentingan tertentunya, dimana akhirnya kita hanya bisa gigit jari dan menanggung kerugian setelah itu!

  122. tanggal-tanggalnya tidak nyambung ; tolong ada yang bisa jelaskan.

  123. Kok baru sekarang dibuka……………U dan wartawan Indonesia sama saja

  124. Merdeka Lebih Baik Daripada Diatur Koalisi Mafia Proyek (KMP)…

  125. Byk kwn2 sy yg dr timor leste pny crita sama
    Bahkn byk saudraku yg brcrita bgaimn kjmnya unamet

  126. mas kafil, knp cerita ini tdk difilmkan saja,,, padahal kalo di filmkan ini bisa membuka mata pemerintah, rakyat INDONESIA, rakyat TL, pemerintah TL dan mata dunia bahwa Timor Timur tidak pernah ingin merdeka !!!, izin copas yah!!

  127. mas kafil ada gak fotonya LAFFAE

  128. Sumpah kalau aku ga baca artikel ini, aku ga bakal ngerti gmna cerita asli tentang pelepasan timur-timur aka timur leste. mungkin disini wartawan-wartawan Indonesia atau petinggi Indonesia pada saat itu bukannya Rendah Diri tapi Ga pUnya Nyali. Bahkan untuk menerima kesaksian pun mereka malah tiba-tiba jadi TULI. yahhhh Nasi Udah Jadi Bubur” Timur-Timur Udah Lepas, berharap Pulau yang lain tidak lepas lagi.

  129. Apakah para ‘founding father’ kita terlalu polos untuk sekedar mengejar kemerdekaan untuk membebaskan penderitaan fisik rakyat kita??? mereka rata-rata sudah sangat ‘melek’ melihat ‘kekayaan’ yang selama 350thn+4tn menjadi incaran barat-Eropa dan Dai Nippon……kekayaan bangsa dan tanah air kita sudah jadi incaran barat dan timur jauh…..bukan hanya ratusan…bahkan ribuan tahun nusantara kita ini adalah ‘surga’ hijau yang mengalir sungai-sungai dan tumbuh berbagai buah-buahan disana….

    Sejak awal1900 mulailah berbagai ‘isme’ ekonomi menjadi agenda kedua para ‘sang pelopor’…ada yang datang dengan kapitalis-kristiani, dagang ala isam, komunis ala atheis, kooperatif ala sosialis serta berbagai isme-isme lain….itu agenda kedua. Agenda pertama adalah nasionalis, atau persatuan bangsa, atau kedauatan agama, dengan maksud Merdeka !!!!

    Saat merdeka mulailah euphoria tahap 1…..setelah merdeka..so what??? bertarunglah para pelopor untuk duduk di kursi tertinggi…..saat masih muda dan hijau, tentu yang jago retorika dan ‘good looking’ yang menang dibanding ‘si kalem’ tapi sarat makna dengan konsepsi ekonomi kooperatif. Jelaslah si Bung unggul karena ‘Javanesee Chauvinistik’ jelas ini dirancang jauh awal jawa sebagai lokomotif,,,karenanya VOC bermarkas disana padahal jalur strategis ada di Malaka…konon pendidikan tertua saat jaman kolonial belanda muncul bukan di Jawa…. Apakah saat itu si bung hanya sekedar retorika bangga akan kebangsaan dengan ‘brand’ baru INDONESIA??? rasanya sama dngan konsepsi NUSANTARA nya Gajah mada yng bermuatan penguasaan hasil-hasil ekonomi dan SDA.

    Kalaupun barat akhirnya menang, itu karena Euphoria kemerdekaan diusung ‘ego’ si bung secara sentralistik megalomania narsisus kebanggaan atas diri sendiri sampai tingkat yg parah hingga mengangkatdiri sendiri menjadi Pangima Tertinggi/Penyambung lidah rakyat…..dll…dst…apa beda dg Mozedong atau Hitler? Bung lupa ada amanah kedaulatan ekonomi yang sudah diincar ribuan tahun. Bung malah euphoria secara mercu suar tampil sebagai ‘hero’ baru dari Asia….padahal peralihan kekuatan ekonomi yang dikuasa belanda-dai nippon lah yang harus dituntaskan….sementara kekuatan barat tak dapat disaingi dengan jargon kapital demokrasi nya….seolah sihir yg membuat semua takluk…..kekuatan pasar!!!! Padahal sebagai ‘umaro’ amanah nya tidak mudah.

    Rasanya preseden ini yang sudah menjadi ‘penyakit’ pribumi dan feodal di nusantara makanya konsepsi divide et impera tidak hiang oleh kolonial hanya berganti bentuk….new imperialism…….siapa pengusungnya???? kita tahu siapa saja yang mendapat beasiswa belajar di negara barat pasca kemerdekaan atas biaya ‘barat’…mana mungkin mereka bisa peka dan melawan donatur yang membiayai sekolah mereka…

    Serupa dengan kocap-kacarita hegemoni kekuasaan trah Ken Aronk – Tunggul Ametung sampai anak cucunya…..sampai hari ini dendam kesumat itu tetap ada…..
    dan perebutan kekuasaan hanya pada elit-elit yang sejak lama lebih ‘melek’ pada kekayaan SDA kita…

    Dimana rakyat???? dalam sejarah sangat jarang pion naik derajat jadi panglima….

  130. Reblogged this on What's on my mind ? and commented:
    Terlepas dari benar atau tidak, ini tulisan yang menggugah..

  131. Laffae bisa di bilang che guevara indonesia🙂

  132. sudah ditakdirkan kalo Timor leste itu adalah sebuah negara. Kalo dipaksakan bagaimanapun tetap Timor-Timur akan merdeka karena simple aja pemahahamannya bahwa Timor-timur bukanlah bagian dari Indonesia/Nusantara berdasarkan sejarah.

  133. APA yang bisa kita lakukan utk menolong,membantu membebaskan Timor Timur

    Sungguh mereka tidak mmiliki sifat pri_kemanusiaan
    Knpa mereka seenakxa kpada rakyat Tim_Tim

  134. Semoga ada yang meliput hari demi hari Papua tercinta, yang terancam hal serupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: