1 Komentar

Pers

Seorang pewarta tivi swasta dan juru kameranya meliput acara silaturahmi Kapolri Bambang Hendarso Danuri dengan para pemimpin [bukan pimpinan!] media cetak dan elektronik di Mabes Polri, 29 Juni kemarin. Sang pewarta itu duduk di sebelahku, di dada kemejanya tersemat kartu identitas yang nampaknya ikut membentuk rona kebanggaan di wajahnya. Di bawah nama stasiun TV pada tanda pengenal itu, tertulis kata cukup besar, lebih besar dari nama logo stasiun teve-nya: Press.

Si pewarta muda itu mungkin alfa bahwa press artinya cetak. Dengan menyematkan tanda ‘Press’ [di-indonesiakan jadi pers] berarti seseorang sedang menyatakan bahwa ia wartawan media cetak. Tapi saya yakin yang membuat tanda pengenal itu bukan dia, melainkan bagian kepegawaian [HRD] di kantornya, yang mungkin tidak tahu arti ‘press’ itu. Yang penting media itu sering disebut pers.

Dan, jujur saja, kata pers — atau the press dalam bahasa Inggris — terdengar lebih berwibawa ketimbang, misalnya, pewarta atau reporter.

Ketika rancangan undang-udang penyiaran diundangkan, hampir semua stasiun TV protes keras. Bahkan ada yang menayangkan tayangan teks: ‘Turut berduka cita atas matinya kebebasan pers di Indonesia.’

Padahal undang-undang itu sama sekali tak membahas pers, atau media cetak.

Namun dengan menyebut ‘kebebasan pers’, simanya lebih terasa. Ada juga rasa gagah, meskipun salah. Di Indonesia, sangat sedikit orang merasa malu karena salah dan bodoh.

Dan si sinilah soalnya, kekerenan lebih utama dibanding kebenaran berbahasa. Walhasil, sangat sulit menemukan presenter dan pewarta yang berbahasa Indonesia baik, tertib dan lancar. Narasi berita tivi umumnya bertabur kata-kata yang janggal dan penempatannya konyol: ‘paska’, ‘entertain’, ‘event’, ‘secara’, ‘itu sendiri’, ‘nya’ – yang sama sekali tak menambah arti apa-apa bahkan mengaburkan. Apalagi menambah keren. Ditambah susunan kalimat-kalimat yang rancu.

“Pak Maman memperoleh penghasilan dua puluh ribu setiap ‘harinya’.” Kata ‘nya’ di situ, yang tak perlu, dipakai karena lumrah saja.

“Investasi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ‘itu sendiri’” Kata ‘itu sendiri’ cuma latah, yang kalau dihilangkan, lebih enak dan jelas.

‘’Paska’ kepulangan Manohara dari Kelantan, Tengku Fahri mengadukan…” maksud sang reporter adalah ‘sejak’ atau ‘setelah’..tapi paska terdengar lebih berbobot.

Para pemimipin, pengamat, pesohor dan media sering jadi sumber penyebaran kata dan kalimat yang efektif. Dan sayangnya, justru dari mereka inilah contoh kerancuan dan kekonyolan berbahasa sering berawal. Satu jam saya menyimak pidato tanpa teks Capres Megawati: ingin sekali saya menyarankan tim sukses ibu Mega untuk meminta putri proklamator itu menyisihkan waktu khusus berlatih berbicara bahasa Indonesia yang tertib dan benar. Popularitas tanpa didukung kemampuan dasar berbicara yang baik, runtut, tertib dan benar, malah menjadi kontra produktif.

Kalau para presenter tivi, produser, dan bintang talkshow ada waktu khusus untuk berdandan, mengapa tidak menyisihkan waktu khusus untuk melatih berbahasa? Tampilan luar oleh dandanan, tampilan isi oleh kecerdasan. Kecerdasan diasah oleh proses belajar. Tak usah malu belajar terus agar bisa maju dan meningkat terus.

One comment on “Pers

  1. Sejak saya kenal Pak Kafil -walau secara tak langsung, motivasi mempelajari teknik menulis langsung melejit bak pesawat Sukhoi.

    Terimakasih, pak, atas ilmunya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: