1 Komentar

Mengapa kita perlu menyukuri Indonesia [Bagian 1]

[Bagian 1]

Christopher Columbus melempar sauh di pantai Bahama, 12 Oktober 1492. Setelah itu lanjut ke Kuba dan Haiti. Menurut cara pandang Espaniola ketika itu, sebuah ‘dunia baru’ ditemukan. Sejak itu bergerombol-gerombol orang kulit putih Eropa bermigrasi ke dunia baru itu. Setiap negara Eropa membuat koloni di sana, seakan-akan kue donat yang dibagi-bagi antar kawan. Terciptalan kantong-kantong penjajahan. Para pendatang menguasai lahan-lahan. Lalu membentuk hukum dan kekuasaan. Rakyatnya adalah para imigran Eropa. Kemana penduduk pribumi? Terdesak dan jumlahnya makin sedikit terlibas penyerangan para pendatang. Sekarang ini penghuni asli benua itu, orang-orang Indian, tinggal beberapa gelintir saja. Tak punya keuasaan dan kekuatan apa-apa. Suku Indian sejengkal lagi musnah.

Sedangkan yang sekarang bernama The United States of America adalah adalah hasil kerja para penjarah. Declaration of Independence-nya Amerika tahun 1776 itu adalah kemerdekaan para perambah kulit putih yang mendirikan negara di tanah orang lain. Oran-orang Indian, suku Apache, Mayan, dan sebagainya, tidak menjadi bagian dari deklarasi itu.

Bila disederhanakan, orang-orang kulit putih datang ke benua Amerika; menghabisi penduduk pribumi; lalu mendirikan negara di sana.

Orang-orang Inggris datang ke benua Australia. Bergerombol-gerombol orang kulit putih pergi ke sana. Menguasai lahan-lahan. Membentuk hukum dan pemerintahan di tanah orang – sekarang bernama Australia. Kemana penduduk pribumi? Terdesak dan jumlahnya makin sedikit karena dihabisi para pendatang. Orang-orang Aborigin tinggal beberapa gelintir saja – tersisih dari kehidupan negara-negara yang memaklumkan demokrasi dan persamaan.

Di Tasmania, sebuah pulau kecil selatan benua Australia, keadaan lebih buram. Seluruh penduduk di sana dibantai para pendatang kulit putih dengan cara yang sanga biadab. Pulaunya dikuasai sampai sekarang. Dan manusia Tasmania punah sama sekali.

Seorang pelaut Britania bernama Abel Janszoon Tasman berlabuh di sebuah pulau kecil lepas laut selatan Australia, 13 Desember 1642. Tak lama kemudian berkapal-kapal orang kulit putih mendatangi pulau kecil itu dan menamakannya New Zealand. Penduduk asli pulau itu, suku Maori, sedang memasuki kepunahan.

Orang-orang kulit putih pun datang ke Afrika. Mendirikan pemerintahan di Tanjung Harapan yang sekarang bernama Afrika Selatan. Orang pribumi diharamkan duduk setara dengan para penjarah. Mereka halal dibunuh dan diperbudak, sampai Nelson Mandela pada tahun 1994 mengajari para penjarah kulit putih itu bahwa orang pribumi juga manusia seperti mereka, bahkan lebih bermartabat, dengan memenangi pemilu multi-ras. Namun demikian, perjuangan Mandela hanya sebatas itu. Tetaplah kaum kulit putih penjarah itu jadi warga pribumi dan penguasa sah Afrika Selatan.

Bangsa-bangsa lain mengalami nasib berbeda-beda setelah dikuasai para penjajah Eropa. Ada yang berhasil melepaskan diri setelah berabad-abad perjuangan berdarah-darah, seperti Cina. Ada yang berhasil membebaskan diri tapi dengan keadaan negara yang sudah tak utuh lagi, seperti India yang harus terpisah dengan Pakistan. Korea yang harus terbagi utara dan selatan. Bahkan Palestina harus kehilangan tanah airnya. Yang paling sukses adalah negara dan wilayahnya kembali ke tangan penghuni asli, seperti Aljazair, Lybia, Filipina, dan beberapa lagi.

Bila disarikan, bangsa-bangsa berhasil melewati masa penjajahan dengan keadaan: terbebas lalu mendapati negaranya sudah tak utuh lagi; terbebas dan mendapati negaranya harus menerima kekuasaan luar ; terbebas dan negara kembali ke tangan pribumi. Kesemua ini dinamakan kemerdekaan.

Tapi Indonesia lain. Indonesia sungguh istimewa.

Wiilayah ini dijarah Portugis mulai awal abad 15, lalu Belanda dan Inggris pada abad 16 sampai akhir abad 19. Setelah masa penjajahan, bangsa dan suku-suku pribumi sama sekali tidak musnah; berkurang pun tidak. Malahan, lahir negara dan bangsa baru yang jauh lebih besar : Indonesia.

Ini sekaligus koreksi atas sejarah Indonesia yang entah mengapa dipercaya tanpa kritik: Indonesia bukan merdeka dari Belanda atau Jepang. Indonesia lahir! Andai saja bisa, teks proklamasi itu harus dikoreksi karena salah. Mestinya bukan ‘dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia’, tapi ‘dengan ini menyatakan Indonesia berdiri’.

Indonesia sebagai bangsa dan negara tak pernah dijajah bangsa manapun. Yang pernah dijajah itu adalah suku Jawa, Maluku, Sunda, Aceh, Padang, dan kerajaan-kerajaan setempat. Indonesia baru lahir setelah Belanda angkat kaki. Bagaimana mungkin dijajah?

Meskipun baru, negara dan bangsa ini sudah tangguh. Pernah dua kali [1947, 1949] Belanda datang ke Indonesia untuk menguasai negara bayi ini , tak kuasa mereka —  terpaksa mundur dengan malu. Bahkan yang kedua mendompleng tentara sekutu. Tidak bisa juga. Segelintir pemuda revolusioner cukup untuk membuat Inggris cepat-cepat angkat kaki bersama si penumpang gelap itu.

Ya, 17 Agustus 1945 itu, sebuah negara baru berdiri. Sebuah bangsa baru lahir. Benar-benar baru dan fenomenal. Puing-puing penjajahan tergantikan sama sekali: bahasa, nama-nama tempat, organisasi pemerintahan, sistem ekonomi, ideologi, konstitusi. Dan yang sangat penting: sikap mental.

Sebelumnya orang bicara bahasa Jawa, Sunda, Padang, Maluku, Manado, dan sebagainya. Bahasa komunikasi antar bahasa-bahasa lokal itu adalah bahasa Melayu. Maka sejak 1945 lahirlah bahasa Indonesia – yang berbeda dari bahasa-bahasa lokal tadi.

Sebelumnya, sistem ekonomi yang dijalankan adalah ekonomi kolonial, basisnya perkebunan, perburuhan, sewa lahan dan upeti. Sejak 1945, berdirilah usaha-usaha rakyat, perniagaan, dan produksi kaum partikelir mau pun negara.

Sebelumnya, ideologi politik adalah kolonialisme campur feodalisme. Sejak 1945 lahir Pancasila yang benar-benar buah penjelajahan dan pencarian nalar para cendikiawan Indonesia. Bisa dimasukkan ke sini adalah UUD ’45, Bhineka Tunggal Ika dan sederet faham kebangsaan Indonesia.

Sebelumnya, nama-nama kota dan tempat berbahasa Belanda: Batavia, Buitenzorg, Fort de Kock, Oosthaven, Java’s Eerste Punt, Prinsenlaan, Weltevreden, dan banyak lagi. Sejak 1945, nama-nama itu berubah jadi Jakarta, Bogor, Bukittinggi, Bandar Lampung, Ujung Kulon, Mangga Besar, Lapangan Banteng dan banyak lagi.

Di kawasan lain, coba lihat: Sejak Kapten James Cook  dari Wales berlabuh di sebuah pantai Australia tahun 1770, para penjahat dan narapidana Britania dikirim ke sana; mendirikan pemukiman dan menamkannya New South wales – sekarang negara bagian.

Selanjutnya, seluruh tempat di benua itu bernama bahasa penjarah: Queensland, Brisbane, Canberra. Nama tempat dalam bahasa setempat nyaris tak dikenal. Di benua Amerika pun begitu: California, Los Angeles, New York, Hampshire, dan banyak lagi. Nama asli sama sekali tak dikenal.

Di Indonesia, semua nama penjarah asing sama sekali hilang dan berganti baru. Bukan saja berganti, tapi nama-nama baru itu lebih terasa membanggakan dan membangun kepercayaan diri bangsa yang baru lahir itu.

Namun generasi sekarang, generasi paling sesat sepanjang sejarah bangsa ini, malah dengan suka rela mengganti nama-nama asli hasil karya luar biasa itu dengan nama asing. Di bangsa lain, penamaan asing itu melaui penindasan! Di Indonesia, generasi paling sesat bangsa ini malah dengan suka rela mengganti nama-nama perkampungan asli menjadi Green Hill, Eldorado, Seasons City, Kuningan City, Jakarta Convention Center, Sudirman Square, Batam Center…

Hotel Indonesia jadi Hotel Kempinski!

Ternyata, dengan generasi paling sesat itu, menguasai Indonesia beserta kebudayaan dan mentalnya tak perlu melalui penindasan dan tekanan, mereka bisa melakukannya sendiri karena mentalnya sudah bagus sebagi hamba sahaya.

Negara dan bangsa baru itu mengambil alih perusahaan-perusahan dan perkongsian asing, sekaligus mengubahnya dari menghisap tenaga rakyat dan sumber alam menjadi menghidupi negara dan bangsa. Namun generasi terkini bangsa itu, generasi paling sesat, malah menjual hasil jerih payah para pendahulu mereka itu untuk keuntungan mereka sendiri.

Bersambung….

One comment on “Mengapa kita perlu menyukuri Indonesia [Bagian 1]

  1. Tulisan yang sangat dalam dan sama sekali tidak bisa di sangkal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: