Tinggalkan komentar

Dalam radius jantung Jakarta

Izinkan aku curhat. Bila beberapa kalian merasa terganggu, aku mohon maaf.

Aku biasa jumatan di lantai 7A Plaza Semanggi. Dan selalu melihat pemandangan yang sama: orang-orang duduk duduk di tembok pinggir tempat jumatan. Merokok. Tepat di tembok tempat mereka duduk-duduk itu ada tulisan, cukup jelas dibaca dari jauh sekalipun: “Dilarang duduk-duduk di sini saat khutbah berlangsung”.

Ada kira-kira enam sampai tujuh tulisan itu dipajang di tiap jarak kira-kira 3 meter. Dan tepat di tiap tulisan itu dipajang, orang-orang duduk, ngobrol, merokok.

Sungguh pemandangan yang menusuk kekhusyuan dan kenyamanan beribadat. Mereka ke situ untuk jumatan, perintah agama. Dan agama sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan ketaatan pada aturan. Apa pengertian agama – yang paling dangkal sekalipun – di kepala orang-orang itu?

Menilik tampilan fisiknya, mereka bukan orang rendahan: pakaiannya bersih, beberapa di antaranya berdasi. Mereka melakukannya tanpa rasa malu atau risih.

Pernah aku menegur seorang mereka dengan menunjuk tulisan itu: orang yang ditegur hanya menengok sebentar ke tulisan itu dan melempar pandangan ke arah lain; melanjutkan duduk dan isapan rokoknya.

Di sebelah gedung Plaza Semanggi adalah kampus Universitas Atmajaya. Aku biasa makan siang di kantin kampus itu, dan selalu menjumpai pemandangan yang sama: bergerombol gerombol mahasiswa duduk-duduk, bercengkerama, merokok. Tepat di atas tempat mereka duduk, di gerbang depan kampus itu, terbentang spanduk sangat besar bertuliskan: “Area bebas rokok”.

Di depan Gedung Plaza Semanggi adalah jalan tol dalam kota, Jl Jend. Gatot Subroto. Saban akhir pekan aku masuk ke jalan tol itu untuk ke luar kota. Batas kecepatan adalah 80 km per jam, yang sekaligus batas kecepatanku setiap mengedarai mobil di jalan tol. Dan aku selalu mengalami hal yang sama: mobil di belakangku mengedip-ngedipkan lampu sorotnya sebagai isyarat agar aku minggir. Beberapa kesempatan aku tidak minggir karena merasa tak perlu minggir, orang yang menyusulku pasti melanggar aturan. Apa yang selalu terjadi? Tiiiit! Tiiiit! Tiiiiit. Klakson di belakang seperti meneror. Dan bila kukasih lewat, biasanya mereka lewat dengan menyempatkan buka kaca jendela dan meneriakkan sumpah serapah.

Aku membeli rumah di sebuah perumahan luas di Bogor. Aku memilih tempat ini karena tertarik penataan ruang, sarana dan tata-tertibnya: semua jalan dua arah. Rambu-rambu lalulintas kendaran di dalam lengkap dan jelas. Ada pos-pos penjagaan di tiap titik.

Tapi setelah tinggal di sana tahulah aku bahwa nyaris semua aturan dan rambu-rambu itu tak berlaku. Jalan satu arah ‘disikat’ juga dari arah berlawanan dan sebaliknya. Bundaran di belokan tak diikuti dengan belok melingkar, melainkan langsung belok.

Jelas penghuni di sana kelompok ‘menengah ke atas’, tapi perilaku mereka terbelakang, seperti juga perilaku para jamaah jumat di lantai 7A Plaza Semanggi, seperti juga para pengedara mobil keren di jalan tol yang biadab tapi bangga.

Melihat semua itu, betapa susah aku merasa lega dan nyaman. Yang terasa adalah ‘tekanan batin’. Kenapa aku begitu ingin orang-orang tertib dan taat aturan? Karena aku beberapa kali mengalami, haqqul yaqin, hidup tertib itu indah, nyaman, dan membuat kita bermartabat.

Para pelanggar etika dan aturan itu hanya memikirkan dirinya sendiri. ‘Yang penting gue mudah’, ‘yang penting gue enak’.

Karena itu, sulit untuk percaya bila mereka bicara tentang demokrasi, masyarakat madani. Aduh, mak, kejauhan.

Mulai saja dengan berusaha memiliki rasa malu. Kalau seseorang sudah punya rasa malu, dia akan mengatur sikap dan perilakunya. Lihat, nyaris tidak ada peraturan di Indonesia yang tidak dilanggar secara terbuka. Dan atas pelanggaran terbuka ini, tak ada sangsi hukum yang taat asas [konsisten]. Isi teve kita, apakah itu pemberitaan, hiburan dan iklan adalah pelanggaran etika dan aturan secara terbuka. Ambil satu contoh kecil saja: ada perturan yang melarang orang asing jadi bintang iklan. Berlakukah ini? Malah di sebuah iklan neng Luna Maya menunjuk seorang bule dengan bangga: “Tuh, bule aja doyan”.

Aha, aku pun bukan seorang pengikut aturan yang sempurna. Beberapa kali aku melanggar aturan, tapi untuk melanggar aturan secara terbuka, di hadapan umum secara sengaja, sungguh aku tak punya nyali.

Kebebasan adalah milik masyarakat dewasa dan beretika. Sulit bila orang-orang yang yang saya sebut di atas tadi menuntut kebebasan dan hak dalam tatanan bernegara, sebab pasti yang dimaksud dengan kebebasan adalah ‘suka-suka gue’.

Dan ketahuilah bahwa sebuah pemerintahan adalah hasil langsung dari mutu masyarakatnya. Pemerintah yang korup lahir dari ibu kandung masyarakat korup. Pemerintah atau pemimpin yang korup dan lalim tak akan bertahan di masyarakat yang bersih dan beretika. Bila kita menuntut pemerintah kita bersih, bertanggung jawab dan beradab, maka mari kita bikin rahim kita – tempat jabang bayi pemerintah berembrio – bersih, beretika dan bertanggung jawab.

Pemilu yang paling sukses sekalipun tak banyak artinya bila orang-orang yang aku sebut tadi masih mewakili mayoritas bangsa ini. Masihkah?

Kadang-kadang aku mengerti mengapa sebagian orang alergi pada agama, toh agama tak menjadikan orang Indonesia memiliki rasa malu, rasa bermartabat, menghargai orang lain. Malah sering atas nama agama para penganutnya merendahkan diri: meminta sumbangan di jalan-jalan dengan cara melanggar lalulintas dan membahayakan keselamatan umum. Tak rela aku melihat agamaku direndahkan oleh penganutnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: