1 Komentar

Melakukan terhadap, miliki, nya

Kebiasaan berbahasa Indonesia kacau, salah parah, konyol, tapi dilakukan dengan percaya diri oleh hampir semua media – visual-audio-cetak — cukup menjengkelkan kecerdasan publik.

Kelebihan bahasa Indonesia terletak pada kelugasan dan kesederhanaannya. Tapi karakter ini dirusak oleh media, pengamat, pejabat – entah karena apa. Mungkin ingin tampil dan kedengaran gagah. Padahal, salah satu ciri kecerdasan adalah kemampuan menyederhanakan yang sulit. Kita, umumnya, menyulitkan yang sederhana dan jelas!

Misalnya, sangat umum kita mendengar dan membaca pola kalimat ‘melakukan… terhadap’. Berulang-ulang kita mendengar kalimat berita berbunyi: “Sejumlah LSM di Jakarta melakukan gugatan terhadap pemerintah”, “Polisi melakukan pengejaran terhadap kawanan teroris”, “Pemerintah melakukan evakuasi terhadap para korban Merapi..”

Teralu sering kita mendengar pola kalimat konyol seperti ini. Padahal, kalimat ‘Sejumlah LSM melakukan gugatan terhadap pemerintah’ itu akan lebih jelas, lebih enak, dan lebih benar bila dibuat ‘Sejumlah LSM menggugat pemerintah’!

Dan kalimat ‘Polisi melakukan pengejaran terhadap kawanan teroris’ dibuat: ‘Polisi mengejar kawanan teroris’! ‘Polisi melakuan pemeriksaan intensif teradap tersangka’ bisa dibuat ‘Polisi memeriksa secara intensif tersangka!

Lalu, kalimat ‘Pemerintah melakukan evakuasi terhadap korban merapi’ dibuat ‘Pemerintah mengevakuasi korban Merapi’!

Yang sangat mengherankan, media biasanya berprinsip hemat bahasa, karena penyampaian kalimat berpanjang-panjang akan menyita waktu yang bisa dijual untuk slot iklan. Demikian pula di media cetak. Setiap senti dalam kolom bisa dijual untuk iklan. Tapi media zaman sekarang terlalu awam untuk hal-hal begini.

Senada dengan kekonyolan itu adalah kebiasaan ‘memplintat-plintutkan’ kalimat sederhana dengan menejerkan kata benda. Misalnya, ‘Abu Tholib memiliki kemampuan merakit bom [TV one, TransTV, dan lain-lain. Padahal, kalimat itu bisa disampaikan sebagai ‘Abu Tholib mampu merakit bom’!

Lebih tegas, jelas dan enak bukan?

Yang tak kurang menjengkelkan adalah kebiasaan para reporter, pembaca berita, menaruh kata ‘nya’ tanpa aturan kecuali karena latah saja. Hampir semua kata yang diawali dengan ‘setiap’ dan ‘per’ diakhirnya dengan ‘nya’. “Pedagang beras di Pasar Jati Negara ini memperolah penghasilan sekitar 150 ribu setiap hariNYA.” , “Harga-harga cabe rawit di Pasar Cikini kini mencapai 10 ribu perkiloNYA.”

Coba hilangkan kata akhiran NYA itu, pasti lebih jelas dan enak dan benar.

Sekian dulu kulman [kuliah satu halaman] kali ini.

One comment on “Melakukan terhadap, miliki, nya

  1. Begitulah kalau wartawan yang d pekerjakan masih ABG, terbiasa dengan bahasa gaul, hanya mengandalkan fisik dan tidak mempunyai kebanggaan bisa berbicara dengan bahasa Indonesia.. Siapa yang salah? Semua…, stasiun TV, wartawan tersebut, pengamat, juga pemirsa yang tidak lagi kritis mendengarkan isi berita yang disampaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: