Tinggalkan komentar

Di luarku, tak ada tempat buat kalian

Kalian menyebut namaku juga – Indonesia.

Tapi gema ucapaan kalian sangat berbeda dengan ucapan para pendahulu kalian. Pada kala pendahulu kalian menyebut namaku, perhatian dunia teralihkan. Saat para pendahulu kalian menyebut ‘Republik Indonesia’, bangsa-bangsa tertindas merasa mendengar panggilan mempertaruhkan nyawa untuk kedaulatan .

Saat mendengar ‘Republik Indonesia’, bangsa-bangsa tertindas merasakan kekuatan dahsyat solidaritas Asia-Afrika.

Saat mendengar ‘Republik Indonesia’ negara-negara adikuasa kecut terusik ancaman kerna melihat kekuatan baru yang bangkit — new emerging forces.

Pada kala para pendahulu kalian menyebut namaku, banggaku merona, karena dunia memandangku dengan hormat. Kawan bertabik, musuh segan. Aku adalah cahaya Asia-Afrika. Aku adalah identitas. Aku adalah sebuah kepribadian. Aku bukan sekedar bentangan wilayah, tapi sebuah pendirian. Lebih dari itu, aku adalah keyakinan. Ya, keyakinan! Aku adalah kehendak Tuhan yang kekuatan-Nya tersalur ke girah para pendahulu kalian. Karena itu mereka memilih meregang nyawa ketimbang tunduk kepada kedzaliman.

Pada kala para pendahulu kalian menyebut namaku, bahkan aku sendiri gemetar, karena suara mereka tak sekedar dari tenggorokan, tapi dari darah dan sumsum tulang; dari jiwa. Adakah kalian dengan gemuruh suara Soetomo? Gelegar suara Soekarno? Tekanan dan irama suara Hatta? Suara berat Soedirman? Teriakan membahana para pemuda gerilyawan? Adakah kalian dengar? Itu teriakan jiwa! Itu teriakan keyakinan! Itu teriakan pendirian! Itu teriakan pengorbanan tanpa pamrih! Adakah suara mereka sampai kepada kalian? Kepada hati kalian yang kian hari kian bebal? Kepada jiwa kalian yang makin dibaluti sifat serakah mementingkan diri sendiri?

Bukan hanya kata-kata lisan, tapi kata-kata tulisan mereka pun sungguh bertuah. Percayakah kalian bila mereka menulis: ‘Kekuasaan ini harus tumbang’, maka runtuhlah kekuasaan itu? Karena kata tulisan mereka lahir dari jiwa!

Mereka mengalahkan para pedzalim bukan dengan senjata, tapi dengan kekuatan kepribadian; dengan karakter dan keyakinan.

Kalau mereka mau, mereka bisa hidup nyaman sebagai abtenaar atau kaum ningrat, tapi mereka memilih kehilangan segalanya …untuk keyakinan.

Saat para pendahulu kalian mengucapkan ‘Republik Indonesia’, dunia mengangkat kepala.
Kini, saat kalian menyebut namaku, dunia mencibir.

Dunia mencibir, nyinyir, atas segala cela yang tak pernah para pendahulu kalian wariskan. Kalian mengutil kekayaan negara tanpa rasa malu. Kalian mempertontonkan sifat rakus dan lapar. Kalian merunduk-runduk kepada para pemberi utang yang bagi para pendahulu kalian pantangan. Kalian tak sadar bahwa kalian menghinakan diri. Dan aku, Indonesia, terhina!

Kusediakan kalian rumah tata nilai yang indah. Tata krama dan nilai kepribadianku, kepribadian Indonesia, seperti yang ditunjukkan para pendahulu kalian. Kepribadian yang terbangunan dari mosaik bangsa-banga Nusantara zama bahari. Kuwarnai kepribadian itu dengan perilaku anggun, santun, lembut tapi tegas jelas. Yang muda menghormati para petua. Para petua mengayomi para pemuda. Kaum ibu bertahta di singasana kehormatan karena mereka wakil tuhan. Bangsa-bangsa lain terpana oleh wibawa.

Memang rumah itu belum sempurna, karena itu mestinya kalian bangun dan sempurnakan. Tapi kalian memilih tinggal di emperan karena mengangankan kebebasan, hidup sekehedak hati mengumbar nafsu; ingatan kalian terjejali kata-kata asing tanpa sempat kalian saring: demokrasi, reformasi, liberalisasi, kontrasepsi…. Anak-anak meneriaki orang tua. Yang muda menunjuk-nunjuk hidung yang tua. Para demonstran mencaci maki, menghina, menghujat para pemimpin. Para politisi menghasut, menggunting dalam lipatan.

Udara bukan hanya dikotori buangan zat asam arang pabrik dan kendaraan, tapi juga kata-kata kotor para politisi dan demonstran bayaran.

Rumah tata nilai yang indah. Rumah tata nilai Indonesia, nyaris tidak ada yang merawat dan menghuni.
Kalian tak lagi risi melihat perempuan-perempuan kalian kini berbusana sama di tempat tidur dan di pasar swalayan. Mengumbar kata-kata murahan di muka umum. Pandai memaki dan berkata kasar tapi kepayahan bersikap santun dan mengendalikan diri. Anak-anak kalian rengut dari dunia mereka sendiri untuk kalian jejali dengan lagu dan gaya pesohor kasmaran. Di layar teve-teve kalian, aku nyaris tak melihat anak Indonesia berkepribadian Indonesia.

Kubekali kalian dengan alam pikiran Indonesia, buah pencarian nalar para pendahulu kalian yang mestinya kalian hargai. Bukan hanya karena mereka pendahulu kalian, tapi karena buah pikiran itu murni dan cerdas: Teori ekonomi kerakyatannya Hatta; pembangunan karakter bangsanya Soekarno; doktrin tentara rakyat-nya Soedirman.

Memang pikiran-pikiran itu perlu kalian selesaikan dan sesuaikan, tapi kalian lebih memilih menyadur pikiran-pikiran asing: ekonomi pertumbuhan, pasar bebas, liberalisasi, yang membenarkan produk-produk asing menyerbu pasar-pasar dalam negeri tanpa hambatan, sehingga penghasil barang dalam negeri, kaum petani, peternak dan pengusaha pribumi terpental di buminya sendiri. Di negeri-negeri yang mengagungkan perdagangan bebas, yang kalian imami, pengusaha-pengusaha dalam negeri dilindungi dengan berbagai aturan yang membatasi produk asing. Pengusaha kalian terdesak, petani kalian terhimpit, nelayan kalian terpental, di tanah kelahiran mereka sendiri.

Kuajari kalian bahasa Indonesia. Bahasa berkarakter nan adiluhung. Bahasa yang dulunya jadi bahasa pergaulan antar bangsa di perairan Malaka. Bahasa yang melahirkan pantun dan sajak nan indah; yang mengungkapkan petatah-petitih, nasihat dan falsafah hidup yang luhur. Bahasa yang telah melahirkan tak terhitung karya-karya susastra bernilai tinggi. Bahasa yang menjadi telaga pencarian kebijaksanaan para pujangga dan cendikiawan mumpuni. Bahasa yang sangat kaya rasa dan kaya citarasa.

Tapi kalian lebih memilih bahasa limbah, menyambar kata-kata asing, supaya kalian terlihat maju, dan dengan paksa mengaduknya dengan bahasa pribumi. Tinggal ganti kata ‘tion’ dengan ‘si’. Participation jadi partisipasi, option jadi opsi, collaboration jadi kolaborasi, erruption jadi erupsi. Tapi, nation kenapa tak kalian ganti jadi nasi?

Kenapa kalian lebih memilih partisipasi dari peran serta? Opsi dari pilihan? Konservasi dari pelestarian? Erupsi dari letusan? Malukah kalian menggunakan bahasa sendiri dan tidak malu menggunakan bahasa bajakan?
Coba dengar omongan pemuda-pemudi kalian: ‘Lu harus wise, man’. Aku sih prepare banget. Dari dulu kita fine-fine aja. O my God! Mereka pun mencat rambut jadi pirang, tapi hidung tetap saja pesek. Ada juga beberapa hasil kebiri silang, anak-anak blasteran Frankfurt-Cianjur, Roma-Kebumen, Paris-Banyuwangi, yang di Eropa jadi warga negara kelas dua tapi di sini jadi para dewa-dewi hiburan kelas dunia ketiga.

Belum tajuk-tajuk teve: Indonesian recovery, Breaking News, Market Review, Take him out, Save our Nation, KickAhmad, Mom n kiddy. Bahkan di desa-desa, para penjaja cuci mobil memasang papan: ‘Car wash’. Warung Bu Iyam bertuliskan ‘Iyem Mart’.

Tapi, anehnya, ketika diminta omong Inggris beneran kalian kepayahan. Pernahkah kalian liat duta putri kalian Qori Sandioriva dan Nadine Chandrawinata omong Inggris? Jadi tertawan seluruh dunia!

Parahnya, omong Indonesia, bahasa ibu kalian, kalian gagap dan ngaco! Para pengamat, pembawa acara teve, pewarta, pesohor, akademisi, pejabat, berbahasa sangat jelek.

Kumodali kalian dengan perusahaan-perusahaan negara, perusahaan perkebunan, biji besi, tambang, minyak, jaringan komunikasi telepon, jaringan komunikasi satelit, perusahan listrik, tambang timah, batubara dan gas. Itu semua hasil ambil alih berdarah-darah para pendahulu kalian dari penguasa dan pengusaha asing. Gagah perkasa mereka. Bangganya aku ketika mereka ternyata tanpa kesulitan mampu menjalankan perusahaan-perusahaan itu.

Di tangan kalian, bukannya kalian manfaatkan itu semua untuk mensejahterakan rakyat dengan kerja keras, malah kalian obral semua perusahaan itu ke para pemodal asing dengan harga murah, untuk sekedar menerima persekot. Kalian sungguh tak punya martabat.

Kini, kalian jadi bangsa miskin di atas alam yang kaya raya. Petani padi tak punya nasi. Petani sayur kekurangan gizi. Para peternak kekurangan vitamin. Sementara itu, pemerintah kalian semakin kecanduan utang. Bahkan untuk sesuatu yang bisa mereka usahakan sendiri mereka mengutang. Karena malas. Karena mendapat jatah. Dengan kekayaan dan modal berharga, kalian jadi bangsa pengutang terbesar.

Nyaris saja aku menyumpah bahwa kalian tak pantas berdiri di atas bumiku, karena kupikir bukan manusia Indonesia.

Tapi, kalian tak punya tempat di luarku, di luar Indonesia. Kukasihi kalian. Masih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: