2 Komentar

Jalan tol Bocimi akan menguras air Sukabumi

Kafil Yamin

JUTAAN galon air minum diangkut dari sumber mata air di Sukabumi ke Jakarta tiap hari, tak termasuk sejumlah hasil bumi lain.

“PT Aqua Danon saja mengirim 3 juta galon per hari,” kata Agus Mulyana, peneliti Center for International Forestry Research [CIFOR].

“Bila ditambahkan pasokan dari sejumlah perusahaan air minum yang juga mengambil dari sejumlah mata air di Sukabumi, bisa anda bayangkan berapa volume air yang diisap,” tambahnya.

Tak lama lagi, pengiriman air dan hasil bumi akan jauh lebih banyak – diperkirakan meningkat tiga kali lipat. Jalan tol Ciawi-Sukabumi sepanjang 54 kilometer, yang sekarang sedang dibangun PT Bakrie Toll Road, akan menampung lebih banyak kendaraan berat dan melancarkan pengangkutan barang-barang.

Selama ini, pengangkutan ke Jakarta melewati Jalan Raya Bogor-Sukabumi yang makin hari makin tidak memadai, sehingga terjadi kemacetan parah setiap hari.

Masyarakat bersama RMI memelihara sungai Cisadane

Kemacetan ini merugikan sejumlah pengguna jalan, terutama sopir dan pemilik kendaraan umum. “Satu hari kami hanya bisa menjalani paling banyak dua rit [perjalanan pulang-pergi dari stasiun berangkat ke stasiun tujuan].  Padahal dalam keadaan normal, bisa sepuluh bahkan lebih,” kata Maman, seorang pengemudi elf di jalur tersebut.

Pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi akan mengubah tanah seluas 2700 kilometer2 menjadi aspal. Tanah itu sekarang terdiri dari kebun, sawah serta tegalan hijau. Ini berarti lahan terbuka hijau terkurangi secara signifikan.

Menurut pegiat konservasi alam dan keanekaragaman hayati Resit Rozer, perubahan itu sudah dipastikan meningkatkan suhu udara Sukabumi yang sekarang sudah makin panas menjadi lebih panas.

“Ini pun berarti produksi pertanian akan menurun karena kebanyakan tanaman pangan hanya bisa tumbuh dalam tingkat suhu moderat – di bawah 30° selsius,” kata Resit, yang juga direktur Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga [PPSC].

Bahkan perubahan lahan akan lebih luas dari itu, karena seperti disampaikan Presiden Direktur dan CEO PT Bakrie Toll Road Harya Mitra Hidayat, “Kami tidak semata-mata membangun jalan tol, tetapi juga mengembangkan kawasan sekitar nya. “

“Kami akan mendapatkan nilai tambah dari properti yang dibangun di kawasan sekitar tol. Karena itulah kami membebaskan lahan dulu, baru membangun tol dan properti,” katanya.

Di sebelah kiri-kanan sepanjang jalan tol akan menjadi komplek pertokoan, perkantoran dan rekreasi, yang luasnya lebih dari jalan tol.

Seserius kenaikan suhu udara akibat dari pembangunan jalan tol itu adalah menipisnya cadangan air. Selama ini, pasokan air minum untuk Jakarta dan sekitarnya diambil dari Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Tak kurang 200 perusahaan, kebanyakan tanpa izin, rame-rame menghisap air dari bumi Gunung Halimun-Salak.

Menurut Rimbawan Muda Indonesia [RMI], sebuah LSM yang bekerja di kawasan tersebut, bahkan titik-titik air itu diperjualbelikan oleh beberapa warga masyarakat setempat. “Dan karena sebagian besar mata air terletak di bagian hulu, maka daerah hulu sungai menjadi lahan rebutan para makelar ini,” kata Nani Septiani, seorang pegiat RMI.

Menurut Nani Pula, volume air Cisadane pun makin surut setelah peburuan terhadap sumber air itu meningkat. “Terutama setelah penghisapan besar-besaran seperti yang dilakukan Aqua Danone,” katanya.

“Debit air Cisadane sekarang hanya 35 meter kubik perdetik, menurun dari 74 meter kubik perdetik sekitar 15 tahun lalu,” katanya.

PT Aqua Danone adalah perusahaan asing, dengan kepemilikan Prancis 74persen. Pemberlakuan undang-undang sumber daya air yang mendapat penentangan kalangan luas membolehkan eksploitasi sumber daya air oleh perusahaan asing.

Keadaan tambah merisaukan karena sumber daya air tersebut berada di dalam kawasan Taman Nasional, yang menurut undang-undang pula harus bebas dari eksploitasi demi menjaga kelestarian alam.

PDAM pun menyedot air dari kawasan Gunung Halimun-Salak untuk melayani kebutuhan air minum wilayah Sukabumi dan Bogor yang permintaannya terus meningkat.

Seperti di daerah-daerah lain di Indonesia, kebanyakan tenaga pertanian adalah kaum perempuan. Dengan demikian, perubahan lahan akan pula menghilangkan lahan pekerjaan tradisional bagi kaum perempuan.

“Mereka kemudian akan masuk ke pabrik-pabrik, jadi buruh harian, bekerja sift malam. Itu pola yang umum terjadi,” kata Sukri Mansur, seorang penduduk kota Sukabumi.

Proses selanjutnya adalah masuknya para pendatang dari luar, tumbuh komunitas-komunitas baru, umumnya dengan gayahidup dan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya lokal.

“Maka, dampaknya bukan hanya kerusakan alam, tapi juga kerusahakan masyarakat,” katanya.

2 comments on “Jalan tol Bocimi akan menguras air Sukabumi

  1. Untuk mengatasi tersebut yang bpk khawatirkan di atas sebetulnya sangat mudah sekali. pertama Gunungnya bpk pindahkan ke daerah lain, kedua hilangkan alat komunikasi, berupa Internet, TV, HP, Radio dll yang berhubungan dengan IT dan alat komunikasi. saya jamin lokasi itu akan lestari dan alami

  2. sebenarnya pemikiran bahwa setiap pabrik yang dibangun menjadi sumber income lah yang sejak awal harus dihilangkan, karena terbukti bahwa setiap pabrik dapat membawa sekian banyak dampak buruk bagi masyarakat! hal pertama yang harus di lakukan menurut saya adalah memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di wilayah tersebut, karena setidaknya dengan meningkatnya kualitas pendidikan di daerah tersebut, lambat laun orang akan berpikir tentang baik buruknya dampak yang akan timbul dari exploitasi bumi secara besar besaran, kemudian langkah selanjutnya adalah memupuk rasa memiliki lingkungan sekitar, sehingga dengan merasa memiliki, secara langsung mereka akan merawat lingkungan mereka!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 189 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: