• Kafil Yamin is more an adventurist -- not adventurer -- than a journalist. He writes stories by accident and observe things by mood. He also write songs and poems and even love letters!
  • Categories

Pewarta-pengajar televisi

Laporan kali ini sebuah round-up [rangkuman] tentang perilaku para panggota DPR yang suka tertidur selama rapat. Entah rapat-rapat komisi, hearing, atau rapat paripurna. Tak kurang ‘bagus’-nya, beberapa anggota dewan suka merokok di ruang rapat mereka sendiri yang ber-PT [Pengatur Temperatur] atau AC. Tak usah dijelaskan bahwa di sana jelas ada larangan merokok. Ini berita bagus. Pewarta dan redakturnya punya naluri berita [sense of news] yang baik.

Muncullah gambar-gambar itu: beberapa anggota dewan yang terhormat sedang nyenyak entah mimpi apa, saat rapat sedang berlangsung. Bahkan ada satu-dua shoot kamera yang menangkap suara ngorok mereka. Lalu muncul pula gambar-gambar para anggota dewan sedang merokok di ruang rapat. Hebat.

Emosi pemirsa, termasuk saya, tersulut. Saya kira mereka yang punya perhatian pada nasib negara dan bangsa akan tersedot sejenak perhatiannya ketika menyaksikan tayangan ini.

Berikutnya, sang pewarta tampil di layar, menyampaikan berita ini. Emosi saya kepada kelakuan para wakil rakyat itu berubah menjadi kejengkelan kepada si pewarta, maaf, meskipun ia cantik, ber’wajah kamera’, seperti pewarta-pewarta TV di Indonesia pada umumnya.

Apa pasal? Si pewarta itu bukannya melaporkan berita atau menjelaskan tentang perilaku anggota DPR itu, tapi ‘mengajari’ pemirsa: “Pemirsa, para wakil rakyat yang seharusnya memberi contoh yang baik…”, “Satu saja anggota DPR berperilaku negatif…maka dampak sosialnya akan..”

Lha, dia itu sedang melaporkan berita atau memberi kuliah moral?

Si pewarta manis itu tak tahu tugas profesionalnya bahwa yang ia harus lakukan adalah menyampaikan laporan. Ia tak tahu bahwa yang diperlukan pemirsa adalah informasi, bukan ungkapan perasaan, pikiran dan kuliah moral si pewarta. Lagipula, bisa dipastikan banyak pemirsa yang lebih tahu soal moral dan etika ketimbang si pewarta itu.

Mungkin si pewarta dan redakturnya ikut merasa kecewa dengan kelakuan para anggota dewan itu, tapi di situlah sikap profesional dan etika jurnalistik. Ia tak boleh menjadi pengecam atau penjunjung. Ia harus tetap penyampai berita.

***

Pembaca berita Bayu, berpasangan dengan pembaca berita wanita [Saya lupa namanya], menyampaikan berita tentang rencana kenaikan harga BBM. Ini pun berita bagus karena sedang diikuti seluruh pemirsa sampai akhirnya ada keputusan berapa persen kenaikan itu dan kapan kenaikan itu diumumkan. Isi beritanya :”Belum ada kepastian apakah pemerintah akan tetap menaikkan harga BBM atau tidak. Ada tayangan gambar beberapa orang berkomentar tentang perlu-tidaknya menaikan harga BBM. Meskipun tak ada perkembangan berarti, pemirsa tetap menyimak berita ini karena memang ini berita penting yang menyangkut hajat hidup mereka. Namun yang mengganggu justru komentar Sdr. Bayu: “Pemirsa, belum ada kepastian apakah harga BBM akan naik atau tidak. Tapi kalau pun ternyata naik, kita sebaiknya siap dengan kenaikan itu…”

Sok banget itu anak. Apa dia merasa sedang mewakili Jusuf Kalla? “Kita harus siap…kita harus mengerti..”

Mestinya: “Pemirsa, sampai saat ini, belum ada kepastian tentang kenaikan harga BBM.” Titik.

Tak sedikit reporter dan pembaca berita, terlihat sangat ingin menjadi pemberi kuliah dan komentator. Mungkin mereka merasa dengan begitu mereka akan kelihatan pintar, bijak dan dan anggun.

***

Seorang pewarta wanita berpenampilan ala artis mewawancara seorang pedagang kaki lima tua di Jakarta. “Dengan adanya rencana kenaikan harga BBM ini, gimana penjualan bapak. Ngaruh ga pa? Ga ngaruh ya?

Si nona bertanya dengan bahasa gaul kepada pak tua di perkampungan kumuh. Ya terang saja si Pak Tua tergagap-gagap tak mengerti apa itu ngaruh.

Jelas terlihat kebutuhan pelatihan bahasa Indonesia yang ’sekolahan’ [kalau pakai kata 'yang baik dan benar', orang-orang yang sok gaul suka alergi]. Bahasa Indonesia para repoter TV banyak yang belepotan tak karuan. Gemar menggunakan dan melafalkan kata-kata bahasa Inggris tapi pengucapakan dan penempatannya konyol. Rupanya lebih bangga menggunakan kata-kata asing meskipun keliru dari pada kata-kata aseli bahasa sendiri. Mental inferior.

2 Responses

  1. wah, bapak mesti menonton juga tayangan infotainment, di sana isi beritanya gak penting tapi penuh dengan kuliah moral yang gak mutu pula. 100 persen sampah lah

  2. Saya tak membahas soal infotainment karena, berbeda dengan PWI, saya tak menganggap infotainment itu jurnalisme.

Leave a Reply