• Kafil Yamin is more an adventurist -- not adventurer -- than a journalist. He writes stories by accident and observe things by mood. He also write songs and poems and even love letters!
  • Categories

Indonesia rancu, akward English, super inferior

Saya sering tak habis pikir melihat perilaku media di Indonesia — cetak dan elektronik — yang kehilangan kepercayaan diri total kalau tidak omong atau membubuhkan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris, padahal 100 persen permirsa atau pembacanya orang Indonesia totok. Lihat tajuk tajuk Metro TV yang merasa keren dan maju dengan ’save our nation’, ‘headline news’ ‘top news’ ‘market review’, ‘Indonesia Recovery’ dan sederet tajuk beringgris-ria lainnya. Lalu menamai pembawa acara sebagai ‘host’. Konyolnya, gaya kaprah ini segera diikuti stasiun-stasiun TV lain, bahkan sampai TV-TV lokal. Di Bandung, sebuah stasiun TV menamai salah satu acara tayangan beritanya sebagi ‘indepth news’. Untuk pemirsa Native English, Metro punya tayangan khusus program berbahasa Inggris. Jadi tajuk-tajuk Inggris yang berjajar tadi untuk pemirsa bangsa mana? Coba tajuk-tajuk Inggris itu saya Indonesiakan: ‘Selamatkan Bangsa’, ‘Berita Utama’, ‘Berita Hangat’, ‘Ulasan Pasar’, ‘Pemulihan Indonesia’, berkurangkah ke-kerenan-nya? Sama sekali tidak! Lagi pula garis bawahi logika paling dasar dan sederhana: Berkomunikasi dengan bangsa sendiri, melalui media dalam negeri, dengan para awak orang pribumi asli, kenapa harus menggunakan bahasa asing? Wah alasan berikut saya dengar berulang-ulang: ‘Untuk menjaring segmen pemirsa masyarakat muda kota’, kaum profesional muda..bah!!!

Sekarang, orang yang cas-cis-cus dengan bahasa Inggris aneh ada di pasar-pasar tradisional dan kampung-kampung kumuh. Tukang oncom di pasar tradisional dekat rumah saya sudah terbiasa berujar: “Oh, my God!”, “Thank’s”, ‘So what?” “Hi Sweety!” “Don’t worry be happy”..

Masalahnya bukan ada larangan atau tidak berbahasa Inggris. Tapi pantas atau tidak. Masuk akal atau tidak. Saya sering sedih menyaksikan acara dialog yang melibatkan diplomat atau pengamat asing dan dialog itu berlangsung dalam bahasa Indonesia. Hampir selalu bahasa Indonesia si orang asing jauh lebih tertib, baik, santun, benar dan lancar ketimbang para komentator pribumi, termasuk para pakar-akademisi yaang sudah ngomongnya tersendat-sendat, bahasa Indonesianya rancu, lalu para inferior itu menghiasi komentarnya dengan ungkapan-ungkapan Inggris, yang sering konyol dan lucu. Lebih dari 90 persen para pembawa acara dan komentator olahraga mengucapkan ‘event’ sebagai ‘ifen’ seperti mantan presiden Soeharto menucapkan akhiran kan sebagai ‘ken’.

Salah satu kekonyolan umum adalah ketika wabah demam berdarah menyebar, para pembaca berita, cetak dan elektronik menyebut wabah itu sebagai demam berdarah dengue, bahkan kemudan dipatenkan dengan singkatan DBD [demam berdarah dengue]. Wahai nona-nona yang cantik-cantik dan bung-bung yang ganteng-ganteng, dengue itu adalah demam berdarah.

Selain beringgris-inggris latah, para pembawa berita dan penulis laporan sering merasa kata, istilah, tanpa periksa. Malas buka kamus. Berulang-ulang kita dengan: “para pemirsa, nasib masyarakat kampung Meruyak pasca kebakaran…”, “nasib para pedagang pasca penggusuran”, “Keadaan keluarga Cendana pasca meninggalnya Soeharto…” Ini kekonyolan dari planet mana? Coba ganti kata ‘pasca’ itu dengan ’setelah’ ..kedengarannya lebih jelas dan tegas.

Memang tak perlu dijelaskan di sini bahwa yang menderita rendah diri akut itu justru anggota-anggota masyarkat ‘kelas atas’ yang tampil di televisi, di forum-forum seminar atau diskusi, namun tidak adakah niat untuk bangga menjadi diri sendiri sebagai bangsa. Buat apa bangga dengan indentitas orang lain? Lihat itu acara di TV, lebih dari 80 persen adalah jiplakan dari acara TV asing: “Indonesian idol, Spontan, kuis ini, kuis itu, Norak Award.

Mana itu ‘Save Our Nation’? Harap tahu saja, ‘nation’ itu bukan cuma sekumpulan makhluk berdiri tegak, berjalan dengan dua kaki, tapi juga identitas, budaya, cara pikir, norma dan nilai yang dihasilkan kelompok makhluk itu. Kalau kerja cuma contek sana contek sini, ya celaka lah.

Salam

Leave a Reply